you're reading...
Uncategorized

Krisis Keluarga di Barat (Bagian 1)

loveKeluarga merupakan institusi sosial terbaik dalam masyarakat. Jika kita mengibaratkan masyarakat seperti sebuah tubuh yang hidup, maka laki-laki dan perempuan merupakan organ utamanya. Keduanya, memainkan peran masing-masing demi kesehatan dan keselamatan masyarakat. Sebaliknya, jika keluarga  dalam sebuah masyarakat rusak, maka keselamatan masyarakat pun terancam. Sebab, begitu banyak patologi sosial akibat kerusakan keluarga.

Terkait posisi penting keluarga dalam masyarakat, Phon Hudkins, psikolog AS mengungkapkan, “Sepanjang sejarah, keluarga merupakan institusi sosial yang telah hadir di desa-desa dan suku maupun bangsa. Keluarga merupakan fondasi genetik dan perangkat edukasi di berbagai bidang sosial.”

Keluarga juga berperan sebagai ikatan tengah antara individu dan masyarakat yang mengikat keduanya. Menurut Jean-Jacques Rousseau, keluarga merupakan institusi natural dalam masyarakat. Dalam karyanya, Kontrak Sosial, Rousseau menegaskan bahwa keluarga merupakan institusi sosial natural yang tertua.

Para sosiolog dan psikolog Barat memandang keluarga sebagai fondasi masyarakat. Mereka berkeyakinan bahwa keluarga memiliki dampak begitu besar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.

Model pendidikan anak-anak dalam keluarga merupakan kunci utama untuk memahami masyarakat dan budayanya. Abram Kardiner menyebutkan bahwa keluarga memainkan peran besar dalam kesempurnaan karakter seseorang. Psikoterapis AS, itu mengungkapkan, “Di setiap masyarakat terdapat sebuah karakter kolektif yang bisa ditemukan. Sifat itulah yang menjadi unsur utamanya. Inilah faktor penyusun pertama institusi masyarakat.”

Kini, para psikolog dan sosiolog semakin mengkhawatirkan memburuknya kondisi masyarakat Barat akibat rusaknya pilar-pilar keluarga. Dewasa ini, keluarga  dalam masyarakat Barat  semakin kehilangan peran naturalnya. Para sosiolog menilai fenomena itu dimulai  sejak 1920, dengan terjadinya pergeseran besar dalam nilai-nilai keluarga di negara-negara Barat.

Saat ini, laki-laki di Barat bukan lagi sebagai pemimpin keluarga yang mengontrol keluarga. Menurut sosiolog Iran, Shahla Baqiri, perubahan tersebut merupakan fenomena baru dalam sejarah keluarga kontemporer. Momentum yang melanda seluruh negara-negara industri maju di Barat itu terjadi secara cepat dan keras.

Menurut format baru keluarga di Barat, ayah dan ibu setara secara hak dan kewajiban. Dari sanalah muncul egoisme. Masing-masing menuntut hak-haknya. Akhirnya, seorang ayah tidak memiliki rasa bertanggung jawab yang besar terhadap istri dan anak-anaknya.

Ibu yang seharusnya memainkan peran penting sebagai pusat afeksi dan kasih sayang meninggalkan peran besarnya dalam pendidikan dan pengajaran anak-anak. Akibat masalah ekonomi dan sosial, ibu tidak bisa menjalankan perannya secara total. Terkait hal ini, Ruth Sidel dan Willaim Gardner dalam risetnya mengungkapkan, “Berdasarkan undang-undang AS dan mayoritas negara Eropa tidak ada kewajiban memberi nafkah dalam keluarga. Perempuan yang memiliki kemampuan untuk bekerja harus memenuhi kebutuhan hidupnya sambil mengasuh dan mendidik anak. Dampaknya beban kerja dan tanggung jawab mengurus anak menyebabkan semakin besarnya tekanan psikologis terhadap perempuan.”

Senada dengan itu, Karl Schneider berkeyakinan bahwa undang-undang keluarga di Barat kehilangan pijakan moralnya. Penulis dan politisi Jerman itu mengatakan, “Keluarga merupakan faktor penentu bagi karakter dan kondisi sosial istri, suami dan anak-anaknya, sekaligus sebagai faktor konstruktif yang penting dalam setiap masyarakat.”

Mekipun para pemikir di Barat sendiri menekankan urgensi peran keluarga bagi kesehatan fisik dan mental masyarakat, namun fakta yang terjadi di negara-negara Barat saat ini menunjukkan terjadinya degradasi moral di tengah keluarga. Kini peran keluarga semakin memudar, dan setiap anggota keluarga tidak perduli terhadap perannya masing-masing.

Di era modern dewasa ini, perempuan Barat tidak lagi memainkan perannya sebagai seorang ibu dan istri. Laki-laki pun tidak menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Alih-alih menjalankan perannya sebagai ayah bagi anak-anak dan suami bagi istrinya, laki-laki justru sibuk dengan urusannya sendiri. Keluarga bukan masalah utama baginya. Tentu saja pergeseran pola hidup berkeluarga tersebut semakin menambah masalah sosial yang terjadi di negara-negara Barat.

Di sisi lain, politik Kapitalisme Barat semakin meminggirkan peran keluarga dalam masyarakat Barat. Peran pendidikan ayah dan ibu digantikan dengan lembaga penitipan anak, maupun taman kanak-kanak. Meskipun keberadaan lembaga seperti itu tidak bisa dihindari, namun tetap saja ibu dan ayah memainkan peran vital dalam mendidik anak. Anak-anak membutuhkan asuhan dan kasih sayang orang tuanya.

Marion Blum, Kepala Pendidikan Pusat Studi Anak-anak WellesleyCollege mengkritik kondisi penitipan anak. Dia mengungkapkan, “Keberadaan seorang anak berusia 3-4 tahun dan anak lainnya hingga 8 jam lebih penitipan anak atau play group yang jauh dari keluarga terlalu lama.” Dengan demikian, di Barat penggunaan play grup difungsikan secara berlebihan.

Seluruh masalah sosial di Barat saat ini menyebabkan anggota keluarga meningkatkan peran di luar rumah. Alvin Toffler, futurolog AS berkeyakinan bahwa ikatan dalam keluarga yang  ada sekarang ini dalam waktu mendatang akan bersifat sementara.

Berbagai pemikir terus-menerus mengingatkan peran institusi keluarga dalam masyarakat. Di dunia Barat saat ini tengah mengalami kehancuran. Patrick J. Buchanan mengungkapkan, “Revolusi gender dimulai dari pembunuhan anak. aborsi, perceraian meningkat, angka kelahiran menurun, jumlah keluarga single parent meningkat, bunuh diri di kalangan remaja merajalela, konsumsi narkotika melonjak, selingkuh dan masalah lainnya semakin mengkhawatirkan. Semua ini menunjukkan bahwa budaya dalam masyarakat terpecah- belah dan menuju kematian.”

Sejatinya, semua fakta tragis ini menegaskan bahwa dampak krisis keluarga merupakan akibat menjalarnya pemikiran Sekularisme, Humanisme, Liberalisme dan feminisme yang menyeret keluarga modern dalam kubangan krisis.(IRIB Indonesia)

About Pesantren Awliya

Sebuah Pesantren Baru yang konsen terhadap pemberdayaan masyarakat urban yang termarginalisasi oleh industri kapitalisme

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kebun Cinta

Arsip Artikel

Lembah al-Ghadir

SALAM BAHAGIA..!
Desa Pagerwangi Punclut Kecamatan Lembang - Bandung

Rekening Donasi

Bagi Bapak, Ibu dan Sahabat yang berkenan membantu kegiatan dakwah sosial kami & peningkatan konten blog, dapat berkontribusi ke:
Bank Mandiri Cabang DAGO
Norek: 131-00-0595266-0
a/n : Yayasan Awliya Bandung.
Saran-saran via SMS ke kami:
022-70578825

Blog Stats

  • 174,495 hits

Percikan Telaga

"Dunia adalah tempat ibadahnya para Nabi Allah dan tempat turunnya wahyu serta tempat shalatnya para malaikat, juga tempat berdagangnya para wali Allah."
[Imam Ali bin Abi Thalib]

Juru Kunci

Pengelolaan blog/site ini telah menggunakan perangkat lunak OPEN SOURCE (Linux Ubuntu 10.04 LST) .
%d blogger menyukai ini: