you're reading...
Uncategorized

Masjid Biru: Masjid Cantik di Tepi Danau Alster

hamburg11Alkisah, ada seorang pedagang karpet kaya dari Iran yang bermimpi. Dalam mimpinya itu dia mendengar suara yang berbicara kepadanya agar ia menafkahkan hartanya di jalan Allah. Dia bertanya kepada suara itu tentang bagaimana caranya menafkahkan hartanya itu. Suara asing itu menjawab kembali bahwa dia tidak lama lagi akan melakukan perjalanan jauh. Benar, pada tahun 1950-an pedagang kaya itu melakukan perjalanan bisnis ke Hamburg, sebuah kota pelabuhan dan kota dagang yang sudah terkenal sejak tahun 800-an. Di kota itu, dia bermimpi kembali, dan suara itu datang lagi. Kata suara itu, di sinilah dia akan menafkahkan harta itu di jalan Allah.

Suatu hari, si pedagang itu berjalan-jalan melewati kawasan mahal dan cantik di sekitar danau Alster dan dia melihat ada tanah cukup luas yang mau dijual. Selama perjalanan bisnisnya di Hamburg, dia banyak bertemu dengan orang Islam. Karena itu, dia memutuskan untuk membeli tanah tersebut dengan niat mendirikan masjid bagi kepentingan kaum muslimin di kota Hamburg. Konon setelah kembali ke Iran, dia meninggal. Salah seorang anaknya bermimpi melihat almarhum ayahnya hidup bahagia di tengah taman yang indah.

Kemudian, tahun 1960, peletakan batu pertama pembangunan masjid pun dilakukan. 32 tahun kemudian, barulah pembangunan masjid ini selesai, dan diberi nama Masjid Imam Ali. Arsitektur masjid ini bergaya Persia, didominasi warna biru muda, baik dinding luar, permadani bulat besar sebagai area shalat berjamaah, maupun ornamen-ornamen di bagian masjid lainnya. Karena itulah, masjid ini pun dikenal dengan nama “Blaue Moschee” atau “Masjid Biru”. Beberapa pohon di halaman masjid, cemara, birkin, dan sakura, menambah kesegaran suasana masjid ini. Pohon-pohon ini di bulan Desember juga dihiasi lampu-lampu, sebagai tanda toleransi terhadap warga Hamburg yang merayakan Natal. Karena keindahan arsitekturnya, serta misi persahabatan, keterbukaan, dan toleransi yang dibawa oleh masjid Imam Ali, pemerintah negara bagian Hamburg pun menjadikan masjid ini sebagai salah satu tujuan wisata Hamburg.

Matahari musim panas pelan-pelan mulai menghangati danau Alster dan sekitarnya. Udara terasa hangat dan segar. Hari ini, tanggal 25 Agustus 2012 adalah ulang tahun ke-50 Masjid Imam Ali. Orang-orang sangat ramai berdatangan untuk merayakannya. Di atas kubah masjid yang berwarna biru langit, terlihat dipancangkan balon udara bertuliskan “50 Jahre Blaue Moschee An Der Alster: Ein Wiedersehen Mit Freunden” (50 Tahun Masjid Biru Di Tepi Danau Alster : Sebuah Pertemuan Dengan Kawan).

Kami sekeluarga tentu saja tak mau ketinggalan untuk bergabung dalam perayaan yang istimwa ini. Dari rumah kami, masjid ini bisa dicapai dengan mobil selama 30 menit. Namun di hari-hari musim panas atau musim semi yang segar, kami terkadang juga menggunakan bis dan kereta. Harga tiket bis di Hamburg cukup ekonomis. Kita bisa membeli 1 tiket ‘keluarga’ seharga 9,40 Euro yang boleh dipakai oleh 5 orang dewasa (anak-anak di bawah 14 tahun tidak dihitung, berapa pun banyaknya). Kartu ini berlaku 24 jam yang bisa dipakai kemana saja.

Kami disambut oleh sekitar 5 gadis cantik berpakaian khas wanita Iran, jilbab panjang berwarna hitam yang menutup seluruh tubuh (chador). Mereka menyambut ramah para tamu yang datang, menyapa dalam bahasa Jerman, Persia atau Inggris, sambil menyerahkan bingkisan selamat datang.

hamburg4Di halaman tengah yang ditanami rumput, kini dipasang tenda-tenda untuk bazaar yang menjual berbagai jenis makanan. Saya lihat, kebanyakan makanan yang adalah makanan Iran dan Turki, seperti nasi safron dan daging, serta Lahmacun . Tentu, makanan Jerman pun disajikan, yaitu “noodle salad”. Makanan ini terbuat dari salah satu jenis mie pasta Italia (penne) yang direbus dan ditiriskan, lalu dicampur dengan kacang polong rebus, paprika warna-warni yang dipotong dadu kecil, daging asap ‘halal’ yang dipotong kecil-kecil, jagung kaleng. Setelah itu, dicampur dengan mayonnaise, minyak zaitun, garam, serta merica. Makanan yang dijual di bazaar ini berkisar antara 2 – 4 Euro per porsi.

Kami kemudian melihat-lihat bagian dalam masjid. Saya sangat kagum pada kubah masjid yang cat luarnya didominasi warna biru ini. Kubah itu bergaris tengah 13,5 m dengan tinggi 18 m. Bagian dalam kubah berlapis seng berwarna hijau muda. Di bagian dalam kubah tampak garis-garis putih yang melintang dan bertemu di titik tertinggi kubah, melambangkan bahwa “segala sesuatu berjalan bersama menuju Tuhan” (symbolizieren das Zusammenlaufen aller Dinge bei Gott).

hamburg10Berbeda dengan kebanyakan ruang shalat di berbagai masjid yang berbentuk segi empat, masjid Imam Ali Hamburg memiliki ruang shalat berbentuk lingkaran. Hal ini bersandar pada kebiasaan nabi Muhammad saww dahulu jika berkumpul dengan para sahabat duduk melingkar. Sebuah kebersamaan di mana tak ada yang pertama dan tak ada yang terakhir, serta tak ada hirarkhi, siapa yang paling utama. Sebagaimana Allah telah jaminkan, yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Karpet biru bermotif bunga-bunga khas Iran menjadi alas tempat shalat berjamaah di sholat ini. Karpet itu bun berbentuk bulat, dan yang luar biasa, inilah karpet bulat terbesar di dunia! Garis tengah karpet itu 16 meter, dengan berat kira-kira seribu kilogram.

Mimbar tempat imam memimpin shalat berjamaah terbuat dari porselen yang dipenuhi ornamen bunga-bunga yang didominasi dengan warna biru. Pada bagian atas mimbar shalat tertulis dengan indah ayat Qur’an yang berbunyi “inna shalati wa nusuuki wa mahyaaya wa ma matii lillaahi Rabbil ‘alamin” dengan terjemahan bahasa Jerman di bawahnya. Mimbar ini merupakan hadiah khusus dari masjid Goharsad di Mashad- Iran.

Kami kemudian melihat-lihat berbagai pameran di kompleks masjid ini. Di perpustakaan masjid, ada ruang pamer prosesi pernikahan yang sesuai dengan ajaran Islam. Di sana ditampilkan pernikahan ala Eropa modern yang dipadu dengan suasana oriental, dengan menyesuaikan pada ajaran Islam. Di bagian lain kompleks masjid juga ditampilkan pameran karpet Iran berikut cara pembuatannya, serta pameran kaligrafi. Para pengunjung terlihat antusias berjalan hilir-mudik menyaksikan berbagai aktivitas perayaan ulang tahun masjid ini.

hamburg2Waktu Dzuhur pun tiba. Imam Besar Masjid, Ayatullah Dr. Ali Ramezani, beberapa orang Mullah yang datang dari Iran, Dubes Iran untuk Jerman, salah seorang pemimpin gereja Katholik di Hamburg, pemimpin Gereja Protestan, pimpinan Sinagog Yahudi di Hamburg, wakil dari persatuan masjid se-Jerman, beberapa perwakilan dari yayasan Islam di Hamburg, para “pendiri” masjid Imam Ali yang masih hidup (termasuk arsitek dan para pekerjanya), serta kira-kira dua ribu tamu lainnya, berkumpul di halaman masjid, persis di depan pintu utama masjid.

Hadirin mendengarkan seorang anak muda yang dengan syahdu mengalunkan adzan dari tangga paling atas pintu utama masjid. Begitu adzan berakhir para tamu diberi kejutan dengan berhamburannya lima puluh ekor merpati putih terbang bebas di udara. Saya sangat terharu menyaksikan hal ini. Batin saya seakan mendengar merpati-merpati itu bertasbih kepada Allah, memohon berkah untuk masjid dan para tamunya, serta seluruh umat manusia.
Acara dilanjutkan dengan shalat Dzuhur dan Ashar berjamaah. Para tamu non muslim, atau tamu lain yang sedang berhalangan shalat dipersilahkan menunggu di balkon yang mengelilingi area shalat berjamaah. Mereka menyaksikan langsung dari balkon, bagaimana umat muslim melaksanakan sholat berjamaah, yang dipimpin oleh Ayatullah Ramezani.

Kemudian, seluruh hadirin diminta berdiri di sepanjang koridor bulat yang mengelilingi area shalat berjamaah. Persis di tengah-tengah karpet besar tempat shalat berjamaah itu dan menghadap ke kiblat, berdiri tiga orang “pemimpin” yang mewakili agama masing-masing. Mereka hendak memohon doa perdamaian untuk seluruh umat manusia. Yang pertama diberi kesempatan adalah pimpinan Sinagog Yahudi sebagai “saudara tua” yang mengantarkan doa dalam bahasa Hibris. Lalu pimpinan gereja Protestan sebagai “saudara tengah” dengan doa dalam bahasa Jerman. Terakhir, Ayatullah Ramezani sebagai tuan rumah sekaligus sebagai “saudara termuda” memohon doa kepada Allah dengan doa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada para penghuni kubur
Ya Allah, berikanlah kekayaan kepada semua yang miskin,
Ya Allah, kenyangkanlah semua orang yang lapar
Ya Allah, berikanlah pakaian kepada mereka yang telanjang
Ya Allah, lunaskanlah semua yang berhutang
…..

Masjid Biru dan siapapun yang memakmurkannya, serta siapapun yang mendoakannya, semoga tetap berjalan diatas jalan-Nya dan mengemban amanah-Nya. (Ditulis oleh Ida Muis Ridwan, foto: Musa Sitompul, referensi: “50 tahun Mesjid Biru Di Tepi Danau Alster” / liputanislam.com)

About Pesantren Awliya

Sebuah Pesantren Baru yang konsen terhadap pemberdayaan masyarakat urban yang termarginalisasi oleh industri kapitalisme

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kebun Cinta

Arsip Artikel

Lembah al-Ghadir

SALAM BAHAGIA..!
Desa Pagerwangi Punclut Kecamatan Lembang - Bandung

Rekening Donasi

Bagi Bapak, Ibu dan Sahabat yang berkenan membantu kegiatan dakwah sosial kami & peningkatan konten blog, dapat berkontribusi ke:
Bank Mandiri Cabang DAGO
Norek: 131-00-0595266-0
a/n : Yayasan Awliya Bandung.
Saran-saran via SMS ke kami:
022-70578825

Blog Stats

  • 174,687 hits

Percikan Telaga

"Dunia adalah tempat ibadahnya para Nabi Allah dan tempat turunnya wahyu serta tempat shalatnya para malaikat, juga tempat berdagangnya para wali Allah."
[Imam Ali bin Abi Thalib]

Juru Kunci

Pengelolaan blog/site ini telah menggunakan perangkat lunak OPEN SOURCE (Linux Ubuntu 10.04 LST) .
%d blogger menyukai ini: