you're reading...
Uncategorized

Mendengarkan Itu Menyembuhkan

AmmarPerasaan tidak utuh (tidak komplit), itu kekuatan yang menggerakkan roda perubahan di mana-mana. Dari ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, politik, sosial, budaya, bahkan agama pun digerakkan oleh perasaan bahwa hidup ini ada yang kurang. Padahal, perasaan yang serba kurang adalah tanda utama bahwa jiwa berlubang. Karena merasa berlubang, kemudian banyak manusia mencari penutup lubangnya di luar.

Dari Lubang ke Lubang

Sejak saat awal konsep masyarakat dibentuk, masyarakat diniatkan untuk menutupi lubang-lubang jiwa. Sebagian urusan manusiawi memang ditutupi oleh keberadaan masyarakat, tapi sulit mengingkari bahwa masyarakat juga menciptakan lubang baru dalam jiwa manusia. Sebut saja keberadaan barang-barang konsumtif yang berlimpah. Di satu sisi, ia memang menutupi lubang keinginan. Di lain sisi, ia menciptakan lubang-lubang keinginan baru yang cenderung lebih besar.

Belajar dari perjalanan masyarakat di negara maju, di mana keinginan demikian kencangnya dipenuhi, kecenderungannya tidak semakin sehat. Di Jepang dan Korea di mana masyarakatnya demikian kompetitif, angka bunuh diri menaik terus. Meminjam penemuan Mary Pipher dalam The Shelter of Each Other, di tahun 1990 72% warga Amerika Serikat tidak mengenal tetangganya. Eropa pasca krisis keuangan membuka banyak rahasia, keinginan bila dipenuhi terus akan bernasib seperti memadamkan api dengan bensin.

Sebagai akibatnya, masyarakat manusia bergerak dari satu lubang ke lubang lainnya.Dan belum ada tanda-tanda kapan lubang-lubang keinginan ini akan sepenuhnya bisa ditutup.

Masyarakat Pendengar

Setiap sahabat yang menghabiskan waktu lama menolong orang-orang dengan gangguan kejiwaan mengerti, apa yang mereka paling butuhkan untuk menutupi lubang jiwanya adalah seseorang yang bisa mendengarkan. Kristina Nobel yang menghabiskan masa kecilnya di Inggris Utara secara sangat menyedihkan pernah bercerita: “Apa yang kami butuhkan tatkala mengalami luka jiwa yang demikian mendalam adalah satu orang yang mau mendengarkan”. Oleh karena itu, Kristina setelah berhasil kemudian menghabiskan banyak waktu di Vietnam mendengarkan banyak sekali korban perang di sana. Sedihnya, kemajuan ekonomi, pengetahuan, teknologi di mana-mana membuat semakin langkanya manusia yang mau menyediakan dirinya mendengar orang lain.

Dulunya, tatkala banyak wanita jadi ibu rumah tangga, ada seseorang yang menyediakan diri untuk mendengar di rumah. Sekarang, jangankan di rumah, di sekolah, di kantor, bahkan dalam kelompok spiritual dan religius pun sangat langka ada manusia yang mau mendengar. Semuanya hanya mau didengar. Sebagai hasilnya, di mana-mana hadir jiwa yang haus, dahaga, kering. Sebagaimana dialami banyak penyembuh, percakapan adalah sebentuk pertukaran energi. Lebih-lebih bila dalam percakapan ini ada yang menyediakan diri untuk mendengar. Hasilnya, mendengarkan itu menyembuhkan. Ia tidak saja menyembuhkan yang didengarkan, juga menyembuhkan yang mendengar. Yang didengarkan sembuh karena merasa sampah-sampah jiwanya keluar. Yang mendengarkan sembuh karena merasa hidupnya bermakna dan berguna.

Ini bisa terjadi, bila seorang pendengar belajar pertama-tama melihat sisi penderitaan dari kehidupan. Sebagai akibatnya, kasih sayang (compassion) bangkit dalam diri pendengar. Sebagaimana dialami banyak penyembuh, bila energi kasih sayang ini digunakan untuk mendengarkan orang lain, efek kesembuhannya besar sekali.

Ke-u-Tuhan

Meminjan konsep client centered psychotherapy ala Carl Rogers, di mana kita yang paling mengerti hidup kita bukan psikoterapis, dalam percakapan kesembuhan seseorang terus menerus menggali dirinya. Tugas seorang penyembuh hanya bertanya dan mendengar. Awalnya memang mendengar ke luar. Ia mengakibatkan seseorang berjumpa wajah kehidupan yang semakin kaya dari hari ke hari, baik di sisi pendengar maupun yang didengar.

Setelah lama mendengar ke luar, ia menghadirkan kerinduan untuk mendengarkan ke dalam. Mendengar masa kecil, mendengar perasaan-perasaan yang ditekan, mendengar pesan-pesan mimpi, mendengar tangisan alam bawah sadar seperti marah dan bad mood. Kebanyakan orang takut dan kemudian lari dari tangisan alam bawah sadar khususnya. Makanya mereka gagal menyembuhkan diri mereka sendiri. Tapi makhluk tercerahkan sujud, tekun, tulus mendengar suara-suara dari dalam ini. Betapa sakit pun rasanya, tetap ia didengar. Setelah melewati fase mendengar ke luar dan ke dalam, kemudian ada kerinduan untuk mendengar secara total (baca: ke-u-Tuhan). Termasuk dalam hal ini mendengar suara bumi, pepohonan, burung, awan, matahari, bulan, bintang, dll.

Setelah melewati tiga tahap mendengar ini (mendengar keluar, ke dalam dan mendengar ke-u-Tuhan) baru seseorang bisa mengerti melalui pengalaman pendapat fisikawan David Bohm yang sudah lama menulis dalam “Health and The Implicate Order“, bahwa kata kesembuhan (health) berasal dari kata ke-u-Tuhan (whole). Hanya ia yang mengalami ke-u-Tuhan yang bisa sepenuhnya tersembuhkan. Kadang disebut tercerahkan. Dan mendengar, sebagaimana diulas di atas, menolong banyak dalam perjalanan mengalami ke-u-Tuhan.

————————————–

English Note: English speaking friends, the messages that flowing through me can be accessed in twitter: @gede_prama or website: www.gedepramascompassion.com

 

Iklan

About Pesantren Awliya

Sebuah Pesantren Baru yang konsen terhadap pemberdayaan masyarakat urban yang termarginalisasi oleh industri kapitalisme

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kebun Cinta

Arsip Artikel

Lembah al-Ghadir

SALAM BAHAGIA..!
Desa Pagerwangi Punclut Kecamatan Lembang - Bandung

Rekening Donasi

Bagi Bapak, Ibu dan Sahabat yang berkenan membantu kegiatan dakwah sosial kami & peningkatan konten blog, dapat berkontribusi ke:
Bank Mandiri Cabang DAGO
Norek: 131-00-0595266-0
a/n : Yayasan Awliya Bandung.
Saran-saran via SMS ke kami:
022-70578825

Blog Stats

  • 195,984 hits

Percikan Telaga

"Dunia adalah tempat ibadahnya para Nabi Allah dan tempat turunnya wahyu serta tempat shalatnya para malaikat, juga tempat berdagangnya para wali Allah."
[Imam Ali bin Abi Thalib]

Juru Kunci

Pengelolaan blog/site ini telah menggunakan perangkat lunak OPEN SOURCE (Linux Ubuntu 10.04 LST) .
%d blogger menyukai ini: