you're reading...
Uncategorized

Sirnanya Cinta dan Krisis Kasih Sayang di Barat

SYAHDUGenerasi tak Beridentitas

Sekarang apa yang terlihat di negara-negara Barat adalah generasi yang tidak beridentitas, generasi yang gagal dan kebingungan, ayah dan ibu yang bertahun-tahun tidak tahu akan kabar anak-anaknya, padahal mereka hidup dalam satu kota, apalagi bila hidup berlainan kota. Rumah-tangga telah mengalami kehancuran. Manusia hidup sendirian. (Khutbah Nikah 28/2/1374)

Di negara-negara Eropa dan Amerika jumlah perempuan tidak bersuami dan lelaki tidak beristri sangat tinggi dan akibatnya adalah muncul anak-anak yang tidak berayah dan tidak beribu, anak-anak gelandangan dan anak-anak pelaku kriminal. Di sana, suasananya adalah suasana kriminal. Sebagaimana berita-berita yang kalian dengar; seorang anak tiba-tiba melakukan pembunuhan di sekolah, jalanan dan dalam kereta api. Ia membunuh sejumlah orang. Tidak hanya sekali dua kali. Tidak hanya membunuh satu dua orang. Tingkat usia pelaku kriminal juga semakin menurun. Tadinya yang melakukan kriminal adalah pemuda-pemuda usia dua puluh tahun kemudian menjadi pemuda-pemuda yang berusia enam belas tujuh belas tahun, sekarang anak-anak berusia empat belas tahun di Amerika melakukan kriminal, begitu mudahnya mereka membunuh seseorang. Ketika masyarakat mencapai tahapan seperti ini, maka ia hampir tidak bisa dikontrol lagi. (Khutbah Nikah 9/11/1376)

Dosa Besar Barat

Salah satu ketimpangan dunia Barat yang secara perlahan-lahan dan berjangka lama menghancurkan peradaban Barat bak rayap menghancurkan kayu, meskipun di sisi lain memiliki kemajuan industri dan keilmuan adalah masalah tidak adanya perhatian terhadap rumah tangga. Mereka tidak mampu menjaga rumah tangga. Di Barat rumah tangga terasing, tidak dipedulikan dan dilecehkan. (Khutbah Nikah 1/12/1374)

Salah satu dosa besar peradaban Barat terhadap umat manusia adalah mencitrakan pernikahan menjadi remeh di mata masyarakat. Menganggap kecil masalah pembentukan rumah tangga. Menjadikan masalah suami istri seperti mereka mengganti pakaian. (Khutbah Nikah 24/1/1378)

Negara-negara yang di dalamnya rumah tangga sedang mengalami kehancuran pada dasarnya adalah pilar-pilar peradaban mereka sedang bergoncang dan pada akhirnya akan mengalami kehancuran. (Khutbah Nikah 9/11/1376)

Tidak Punya Teman Akrab, Tidak Juga Punya Seorang Pendamping Hidup

Di dunia Barat, sekalipun kebanyakan mereka memiliki ilmu, kekayaan dan politik yang kuat di kalangan pemerintahan, namun kehidupan setiap orang dari sisi rumah tangga benar-benar memprihatinkan. Pertemuan keluarga dimana para sesepuh keluarga dan mereka yang lebih muda berkumpul bersama, saling menyayangi, saling tolong menolong, saling memperhatikan satu sama lainnya, saling menganggap lainnya seperti dirinya sendiri, saudara dengan saudara, rumah tangga yang ada saling bersatu padu, hal-hal semacam ini sampai saat ini menjadi tradisi di kalangan kita dan merupakan hal yang wajar, di Barat hal-hal semacam ini tidak ada. Betapa banyak perempuan hidup sendirian. Perempuan hidup sendirian di apartemen dan terpisah dari keluarganya. Malam pulang dari kerja sendirian di rumah, pagi bangun juga sendirian. Tidak ada teman akrab, tidak ada suami, tidak ada anak, tidak ada cucu dan juga tidak ada famili yang hidup akrab dengannya. Orang-orang hidup sendirian di lingkungan sosial semacam itu. Kebanyakan mereka hidup sendirian. Mengapa? Karena lingkungan rumah tangga di sana sudah terlupakan. (Khutbah Nikah 5/8/1375)

Sangat disayangkan kini di Barat manusia menyaksikan bahwa rumah tangga satu persatu sedang mengalami kehancuran. Akibatnya adalah tidak adanya identifikasi kebudayaan dan kerusakan yang melanda mereka. Dan hal ini semakin hari juga semakin meningkat dan sisa-sisa yang mereka miliki juga sedang mengalami kehancuran. (Khutbah Nikah 18/4/1377)

Kebebasan Seksual, Kehancuran Rumah Tangga

Di dunia Barat, terutama di Amerika dan negara-negara Eropa Utara terkenal bahwa pilar-pilar rumah tangga di sana sangat goyah. Mengapa? Karena di sana kebebasan dan penyimpangan seksual merajalela. Ketika perselingkuhan merajalela yakni lelaki dan perempuan memenuhi kebutuhan seksualnya di tempat lain selain rumah tangga, maka pada hakikatnya rumah tangga merupakan sesuatu yang tidak bermakna dan merupakan sesuatu yang dipaksakan dan formalitas saja. Oleh karenanya dari sisi kasih sayang mereka tidak menyatu dan pisah. Secara lahiriah mereka tidak berpisah, namun tidak ada rasa cinta dan keterikatan. (Khutbah Nikah 9/12/1380)

Bila manusia dibiarkan dan memenuhi kebutuhan seksualnya seenaknya sendiri, maka rumah tangga tidak akan terbentuk atau rumah tangga menjadi sesuatu yang lemah dan sia-sia, terancam kehancuran dan akan terombang ambing oleh setiap tiupan angin. Oleh karenanya, di dunia bagian mana saja kalian menyaksikan adanya kebebasan seksual, di sana pula rumah tangga mengalami kelemahan dan kegoncangan. Karena lelaki dan perempuan untuk memenuhi kebutuhan seksualnya tidak memerlukan rumah tangga. Namun, di tempat-tempat yang agama di sana mendominasi dan tidak ada kebebasan seksual, segalanya ada bagi lelaki dan perempuan. Oleh karenanya, rumah tangga terjaga. (Khutbah Nikah 20/4/1370)

Cinta Palsu

Di sebagian negara-negara dunia yang mengalami kemajuan pesat ilmu dan peradaban. Kehidupan memaksakan anggota keluarga untuk tidak saling berurusan dengan yang lainnya. Ayah sibuk di suatu tempat. Ibu sibuk di suatu tempat. Keduanya tidak saling bertemu. Keduanya tidak saling memasak untuk yang lainnya. Keduanya tidak saling menyampaikan rasa kasih sayangnya. Keduanya tidak saling menanyakan isi hati yang lainnya dan tidak juga ada urusan penting dengan yang lainnya. Pada saat itu, hanya karena untuk memenuhi anjuran psikolog urusan anak-anak, ayah dan ibu sepakat dan berjanji untuk bertemu selama satu jam di rumah mengadakan pertemuan keluarga. Bila sebuah rumah tangga yang sehat melakukan pertemuan keluarga seperti ini secara alami, mereka melakukannya secara palsu dan dibuat-buat. Pada saat itu istri atau suami akan senantiasa melihat jamnya dan berharap, kapan berakhirnya waktu ini karena misalnya jam enam dia ada janji di tempat lain. Pertemuan keluarga semacam ini tidak akan terwujud dan anak-anak juga tidak akan merasakan keakraban. (Khutbah Nikah 22/4/1379)

Rumah tangga di sana tidak akan bisa akrab dan nyaman. Rumah tangga di sana tidak ada kenyataannya. Suami istri hidup dalam sebuah rumah tangga namun pada dasarnya mereka berpisah. Di sana tidak ada lagi pergaulan rumah tangga, tidak ada lagi kasih sayang rumah tangga, tidak ada lagi kebersamaan penghuni rumah tangga, tidak ada lagi seorang suami merasa butuh kepada istrinya dan sebaliknya, istri yang membutuhkan suaminya. Mereka sebenarnya dua orang lain. Dua orang yang hidup dalam sebuah rumah dengan satu kesepakatan. Mereka menyebutnya keluarga yang dimulai dengan cinta! (Khutbah Nikah 2/9/1373)

Akibat Perkawinan dengan Gaya Barat

Di tengah-tengah masyarakat Barat, para pemuda menghabiskan masa mudanya secara bebas. Ketika giliran berumah tangga, pada hakikatnya sebagian besar kebutuhan seksual mereka telah meredam. Semangat, kasih sayang dan cinta yang seharusnya ada dalam lubuk hati suami dan istri sudah tidak ada lagi pada diri mereka atau hanya sedikit. (Khutbah Nikah 17/11/1379)

Ketika sebagian orang mengulur usia pernikahannya sampai usia agak tua dan hal ini di Barat dan peradaban Barat dianggap sebagai hal yang wajar dan biasa, maka sebenarnya itu adalah salah dan bertentangan dengan fitrah dan maslahat umat manusia. Hal ini terjadi karena mereka lebih cenderung menjalani kehidupan penuh syahwat dan kebebasan tanpa batas. Dalam istilah mereka sendiri, mereka ingin menghabiskan umurnya dengan kesenangan dan memenuhi kebutuhan hawa nafsunya, namun ketika mereka sudah tidak bernafsu lagi baru mereka tertarik untuk menikah. Kalian perhatikan, beginilah kehidupan di Barat. Banyak terjadi perceraian, banyak terjadi pernikahan yang tidak sukses, suami dan istri yang tidak setia, banyak terjadi kejahatan seksual, sedikit rasa melindungi kaum perempuan, beginilah kehidupan rumah tangga di sana. (Khutbah Nikah 25/1/1377)

Barat Sedang Meluncur Menuju Kehancuran

Bila saat ini kalian mau memperhatikan sebagian masyarakat Barat, khususnya mereka yang bergelut dengan teknologi, komunikasi dan mesin, maka kalian akan melihat kerusaakan di sana semakin hari semakin meningkat. Ketika kerusakan moral dan kejahatan merajalela dalam sebuah masyarakat, maka masyarakat itu akan mengalami kehancuran. Perlu diingat bahwa kehancuran yang akan melanda mereka tidak terjadi sekaligus seperti gempa bumi dan banjir, tapi kehancuran mereka terjadi secara bertahap. Hanya saja tidak bisa diobati. Musibah yang bila menimpa sebuah masyarakat tidak bisa dideteksi dengan segera, namun secara bertahap baru bisa diketahui. Ketika penyakit menyerang mereka sampai ke akar-akarnya, mereka baru memahami. Maka pada saat itu tidak bisa lagi diobati. Sekarang masyarakat Barat sedang menuju pada kehidupan yang demikian ini. Itupun dengan kecepatan tinggi, yakni pada hakikatnya mereka sedang meluncur menuju pada titik-titik yang sangat membahayakan. Ini semua dikarenakan laki-laki dan perempuan tidak menikah pada waktunya dan membentuk rumah tangga secara abadi. Apalagi lingkungan rumah tangga mereka bukan lingkungan yang penuh kasih sayang. (Khutbah Nikah 23/12/1379)

Di dunia Barat, pondasi rumah tangga telah mengalami kegoncangan. Rumah tangga terlambat dibentuk namun cepat hancur. Kejahatan dan perbuatan keji semakin hari semakin banyak. Bila hal ini terjadi secara total, maka masyarakat itu akan dilanda musibah yang besar. Tentu saja penyakit dan kesusahan seperti ini tidak akan menampakkan dirinya dalam jangka lima atau sepuluh tahun, ia akan menghancurkan sebuah masyarakat secara total ketika telah menebarkan pengaruhnya setelah bertahun-tahun lamanya berlalu. Ia akan menghancurkan kekayaan ilmiah, pemikiran, materi dan segalanya. Masa depan seperti ini sedang menunggu sebagian besar negara-negara Barat. (Khutbah Nikah 3/8/1379)

Kesana Kemari Mencari Ketenangan

Sekarang lihatlah dunia Amerika dan Eropa. Lihatlah betapa mereka sedang mengalami kegelisahan. Betapa mereka mengalami ketidaktenangan. Betapa mereka mencari ketenangan. Betapa banyak mereka menggukan obat penenang dan obat tidur. Betapa anak-anak mudanya mengerjakan hal-hal di luar aturan. Mereka memanjangkan rambutnya, memakai pakaian ketat. Ini dikarenakan mereka tidak puas dengan kondisi masyarakat. Mereka marah. Mereka ingin mencapai ketenangan. Akhirnya juga mati dalam kegagalan. Kakek dan nenek meninggal dunia di panti jompo. Anak-anak mereka tidak bersamanya. Istri mereka tidak tahu kabar suaminya. Suami dan istri saling berjauhan. (Khutbah Nikah 22/1/1374)

Di Barat banyak anak yang tidak tahu siapa ayah dan ibunya. Banyak wanita dan lelaki yang secara formal sebagai suami-istri, tapi selama bertahun-tahun tidak saling tahu kabarnya masing-masing. Wanita-wanita yang sampai akhir hidupnya merasa tenang dan sampai masa tua berada di bawah naungan suaminya dan hidup bersama hanya sedikit. Para lelaki yang merasa tenang karena istri yang dicintainya tidak membiarkannya hidup sendirian hanya sedikit. (Khutbah Nikah 11/5/1375)

Siapa yang Mau Mendengarkan?!

Di Amerika sendiri, tingkat kenaikan kejahatan baik kejahatan moral, seksual, kriminal dan pembunuhan dan lain-lain, bahkan di kalangan anak-anak sangat tinggi. Media dan orang-orang yang sadar di tengah-tengah masyarakat Barat sedang menjerit. Mereka menulis artikel, mereka berbicara, mereka memperingatkan, namun tidak ada yang mau mendengarkan, yakni tidak bisa lagi diobati. Ketika mereka merusak kondisi dari dasar dan pondasinya dan selama tiga puluh, empat puluh atau lima puluh tahun berjalan dalam kondisi semacam ini, maka ketimpangan seperti ini tidak akan bisa terselesaikan dengan peringatan, jeritan dan siasat fulan. (Khutbah Nikah 3/6/1375)

Masyarakat Barat tidak memiliki kebahagiaan. Ini bukan kata-kata saya. Ini adalah kata-kata para pemikir mereka sendiri, orang-orang yang peduli kepada mereka, orang-orang yang memiliki pengetahuan, orang-orang yang memiliki akal, bukan para politikus, mereka yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Sekarang suara mereka keluar. Mengapa? Karena di sana tidak ada lagi kebahagiaan hidup. Kebahagiaan yang berarti ketenangan, merasa bahagia dan aman. (Khutbah Nikah 20/3/1379)

Sekarang orang-orang yang mengenal dunia internasional juga tahu bahwa orang-orang yang menginginkan kebaikan dan perbaikan khususnya dari Amerika dan juga negara-negara Eropa mengajak untuk memikirkan masalah ini; Mari kita pikirkan! Tentu saja mereka tidak bisa berpikir semudah yang dibayangkan. Sekalipun berpikir untuk memperbaiki, tidak akan bisa terobati semudah yang dibayangkan. (Khutbah Nikah 9/11/1376)

Tujuan Busuk; Strategi Setan

Orang-orang yang ingin menguasai sebuah negara atau sebuah masyarakat akan menggenggam budaya masyarakat tersebut dan memaksakan budayanya kepada mereka. Salah satu usaha mereka adalah menggoncangkan pondasi rumah tangga. Sebagaimana yang saat ini telah dilakukan di banyak negara. Mereka menjadikan para lelaki tidak bertanggung jawab dan para perempuan bermoral buruk. (Khutbah Nikah 18/12/1376)

Peralihan budaya dan peradaban serta menjaga prinsip-prinsip dan unsur asli sebuah peradaban dan kebudayaan dalam sebuah masyarakat dan mengalihkannya kepada generasi berikutnya terwujud karena berkah rumah tangga. Bila tidak ada rumah tangga, maka segalanya akan hancur. Bila kalian menyaksikan orang-orang Barat berusaha sekuat tenaga menyebarkan seks bebas dan kefasadan, untuk apa? Salah satu sebabnya adalah ingin menghancurkan rumah tangga agar kebudayaan masyarakat menjadi lemah sehingga bisa menguasai mereka. Karena selama kebudayaan sebuah bangsa belum lemah, maka tidak ada seorangpun yang bisa mengendalikannya, tidak seorangpun yang bisa mengaturnya, tidak ada seorangpun yang bisa menguasainya. Yang membuat sebuah bangsa tidak mampu bertahan dan menjadi tawanan asing adalah hilangnya identitas kebudayaan mereka. Usaha ini akan menjadi muda dengan cara menghancurkan pilar-pilar rumah tangga dalam sebuah masyarakat.

Islam ingin menjaga masalah ini. Islam ingin menjaga rumah tangga. Karena dalam Islam salah satu masalah penting untuk mencapai tujuan ini adalah membentuk rumah tangga kemudian menjaga pilar-pilar rumah tangga. (Khutbah Nikah 26/1/1377)

Hanya Satu Kata untuk Rumah Tangga

Dalam sebuah pertemuan di PBB, saya berpidato selama satu jam lebih tentang rumah tangga. Kemudian mereka mengabarkan kepada saya bahwa tv Amerika yang berusaha semaksimal mungkin untuk menyensor dan merusak ucapan kami, fokus pada kata-kata ini dan berkali-kali menyiarkan sekaligus menafsirkannya. Karena ucapan satu kata yaitu rumah tangga. Yakni pesan yang mencakup rumah tangga saat ini bagi Barat bak air segar. Karena mereka merasakan kekurangannya.

Betapa banyak perempuan yang hidup sendirian. Betapa banyak lelaki yang sampai akhir hidup sendirian. Hidup terasing dan tanpa teman. Betapa banyak pemuda yang hidup menggelandang karena tidak adanya rumah tangga. Di sana tidak ada rumah tangga, kalaupun ada seperti tidak ada. (Khutbah Nikah 24/9/1376) (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

Sumber: Matla-e Eshq; Gozideh-i az Rahnemoudha-ye Hazrate Ayatollah Sayid Ali Khamenei Beh Zaujha-ye Javan, Mohammad Javad Haj Ali Akbari, Tehran, Daftare Nashre Farhanggi, 1387 HS, Cet 17.

About Pesantren Awliya

Sebuah Pesantren Baru yang konsen terhadap pemberdayaan masyarakat urban yang termarginalisasi oleh industri kapitalisme

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kebun Cinta

Arsip Artikel

Lembah al-Ghadir

SALAM BAHAGIA..!
Desa Pagerwangi Punclut Kecamatan Lembang - Bandung

Rekening Donasi

Bagi Bapak, Ibu dan Sahabat yang berkenan membantu kegiatan dakwah sosial kami & peningkatan konten blog, dapat berkontribusi ke:
Bank Mandiri Cabang DAGO
Norek: 131-00-0595266-0
a/n : Yayasan Awliya Bandung.
Saran-saran via SMS ke kami:
022-70578825

Blog Stats

  • 174,687 hits

Percikan Telaga

"Dunia adalah tempat ibadahnya para Nabi Allah dan tempat turunnya wahyu serta tempat shalatnya para malaikat, juga tempat berdagangnya para wali Allah."
[Imam Ali bin Abi Thalib]

Juru Kunci

Pengelolaan blog/site ini telah menggunakan perangkat lunak OPEN SOURCE (Linux Ubuntu 10.04 LST) .
%d blogger menyukai ini: