you're reading...
Uncategorized

Nikah Mut’ah.

Berhubung dengan isu hangat yaitu Nikah Mut’ah yang dikaitkan dengan zina, pendapat ini menimbulkan kemusykilan yang amat sangat. Ini karena menyamakan nikah Mut’ah dengan zina membawa maksud seolah-olah Nabi Muhammad SAWA pernah menghalalkan zina dalam keadaan-keadaan darurat seperti perang Khaibar dan pembukaan kota Mekah. Pendapat ini tidak boleh diterima karena perzinaan memang telah diharamkan sejak awal Islam lagi dan tidak ada rukhsah (penghapusan) dalam isu zina.

Sejarah menunjukkan bahwa Abdullah bin Abbas diriwayatkan pernah mengharuskan Nikah Mut’ah tetapi kemudian menarik balik fatwanya iatu di zaman selepas zaman Nabi Muhammad SAWA. Kalau mut’ah telah diharamkan pada zaman Nabi SAWA adakah mungkin Abdullah bin Abbas mengharuskannya? Sekiranya beliau tidak tahu [mungkinkah beliau tidak tahu?] tentang hukum haramnya mut’ah adakah beliau berani menghalalkannya pada waktu itu?

Fatwa Abdullah bin Abbas juga menimbulkan tandatanya karena tidak mungkin beliau berani mengharuskan zina [mut’ah] dalam keadaan darurat seperti makan bangkai, darah dan daging babi kerana zina [mut’ah] tidak ada rokhsah sama sekali walaupun seseorang itu akan mati jika tidak melakukan jimak. Sebaliknya Abdullah menyandarkan pengharaman mut’ah kepada Umar al-Khattab seperti tercatat dalam tafsir al-Qurtubi meriiwayatkan Abdullah bin Abbas berkata, ” Sekiranya Umar tidak mengharamkan mut’ah niscaya tidak akan ada orang yang berzina kecuali orang yang benar-benar jahat.” (Lihat tafsiran surah al-Nisa:24)

Begitu juga pengakuan sahabat Nabi SAW iaitu Jabir bin Abdullah dalam riwayat Sohih Muslim, “Kami para sahabat di zaman Nabi SAW dan di zaman Abu Bakar melakukan mut’ah dengan segenggam korma dan tepung sebagai maharnya, kemudian Umar mengharamkannya karena kes Amr bin khuraits.” Jelaslah mut’ah telah diamalkan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW selepas zaman Rasulullah SAW wafat. Oleh itu hadith-hadith yang meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW telah mengharamkan mut’ah nikah sebelum baginda wafat adalah hadith-hadith daif.

Dua riwayat yang dianggap kuat oleh ulama Ahlul Sunnah yaitu riwayat yang mengatakan nikah mut’ah telah dihapuskanpada saat Perang Khaibar dan pembukaan kota Mekah sebenarnya hadith-hadith yang daif. Riwayat yang mengaitkan pengharaman mut’ah nikah pada ketika Perang Khaibar lemah karena seperti menurut Ibn al-Qayyim ketika itu di Khaibar tidak terdapat wanita-wanita muslimah yang dapat dikawin. Wanita-wanita Yahudi (Ahlul Kitab) ketika itu belum ada izin untuk dikahwini. Izin untuk menikahi Ahlul Kitab seperti tersebut dalam Surah al-Maidah terjadi selepas Perang Khaibar. Tambahan pula kaum muslimin tidak berminat untuk mengawini wanita Yahudi ketika itu kerana mereka adalah musuh mereka.

Riwayat kedua pula diriwayatkan oleh Sabirah yang menjelaskan bahawa nikah mut’ah diharamkan saat dibukanya kota Mekah (Sahih Muslim bab Nikah Mut’ah) hanya diriwayatkan oleh Sabirah dan keluarganya sahaja tetapi kenapa para sahabat yang lain tidak meriwayatkannya seperti Jabir bin Abdullah, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud? Sekiranya kita menerima pengharaman nikah mut’ah di Khaibar, ini bermakna mut’ah telah diharamkan di Khaibar dan kemudian diharuskan pada peristiwa pembukaan Mekah dan kemudian diharamkan sekali lagi. Ada pendapat mengatakan nikah mut’ah telah dibolehkan 7 kali dan diharamkan 7 kali sehingga timbul pula golongan yang berpendapat mut’ah nikah telah di haramkan secara bertahap seperti mana pengharaman arak dalam al-Qur’an tetapi mereka lupa bahawa tidak ada ayat Qur’an yang menyebutkan pengharaman mut’ah secara bertahap seperti itu. Ini hanyalah dugaan semata-mata. Yang jelas nikah muta’ah dibolehkan dalam al-Qur an surah al-Nisa:24 dan ayat ini tidak pernah dimansukh(dihapus) sama sekali.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Imran bin Hushain: “Setelah turunnya ayat mut’ah, tidak ada ayat lain yang menghapuskan ayat itu. Kemudian Rasulullah SAW pernah memerintahkan kita untuk melakukan perkara itu dan kita melakukannya semasa beliau masih hidup. Dan pada saat beliau meninggal, kita tidak pernah mendengar adanya larangan dari beliau SAW tetapi kemudian ada seseorang yang berpendapat menurut kehendaknya sendiri.”

Orang yang dimaksudkan ialah Umar. Walau bagaimanapun Bukhari telah memasukkan hadith ini dalam bab haji tamattu.
Pendapat Imam Ali AS adalah jelas tentang harusnya nikah muta’ah dan pengharaman muta’ah dinisbahkan kepada Umar seperti yang diriwayatkan dalam tafsir al-Tabari: “Kalau bukan karena Umar melarang nikah mut’ah maka tidak akan ada orang yang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka.” Sanadnya sahih. Justeru itu Abdullah bin Abbas telah memasukkan tafsiran (Ila Ajalin Mussama) selepas ayat 24 Surah al-Nisa bagi menjelaskan maksud ayat tersebut adalah ayat mut’ah (lihat juga Sayid Sabiq bab nikah mut’ah). Pengakuan Umar yang menisbahkan pengharaman muta’ah kepada dirinya sendiri bukan kepada Nabi SAWA cukup jelas bahwa nikah mut’ah halal pada zaman Nabi SAWA seperti yang tercatat dalam Sunan Baihaqi, ” Dua jenis mut’ah yang dihalalkan di zaman Nabi SAWA aku haramkan sekarang dan aku akan dera siapa yang melakukan kedua jenis mut’ah tersebut. Pertama nikah muta’ah dan kedua haji tamattu”.

Perlulah diingatkan bahwa kebolehann nikah mut’ah yang diamalkan oleh Mazhab Syi ah bukan bermaksud semua orang wajib melakukan nikah mut’ah seperti juga bolehnya mengawini empat wanita/poligami bukan bermaksud semua orang wajib berpoligami. Penyelewengan yang berlaku pada amalan nikah mut’ah dan poligami bukan disebabkan hukum Allah SWT itu lemah tetapi disebabkan oleh kejahilan seseorang itu dan tidak dinafikan kelemahan akhlaknya sebagai seorang Islam. Persoalannya jika nikah mut’ah sama dengan zina, seperti apakah bentuk mut’ah yang diamalkan oleh para sahabat pada zaman Nabi Muhammad SAW dan zaman khalifah Abu Bakar?

[Catatan: Nikah mut’ah memang tidak sama dengan zina]

About Pesantren Awliya

Sebuah Pesantren Baru yang konsen terhadap pemberdayaan masyarakat urban yang termarginalisasi oleh industri kapitalisme

Diskusi

One thought on “Nikah Mut’ah.

  1. Alhamdulillah saya bertemu dengan saudara dari Ahlulbayt hari ini. Berhubung banyak kaum muslimin yang keliru dalam memahami Nikah Mut’ah, sayapun ikut menambah keterangan bagaimana mungkin “Hadist” dapat membatalkan “ayat Allah”. Disitulah kekeliruan mereka yang membuktikan benarnya kita pengikut Ahlulbayt.
    Untuk lanjutannya silakan telusuri blog Achehkarbala:

    JAWABAN HSNDWSP TENTANG BOLEH TIDAKNYA BERPACARAN SEBAGAIMANA LAZIMNYA DIAPLIKASIKAN ORANG NON SYIAH IMAMIAH 12.
    Bismillaahirrahmaanirrahiim

    NON MUSLIM MEMPERTANYAKAN
    KENAPA ISLAM TIDAK MEMBENARKAN PACARAN
    SEBAGAI SARANA UNTUK SALING MENGENAL
    SEBELUM MASUK
    JENJANG PERKAWINAN

    DALAM ISLAM MURNI JANGANKAN DUA INSAN YANG YANG BERLAWANAN JENIS KELAMIN BERKHUSUK – SEPI, BERDUA-DUAAN, SALING MEMANDANG LAMA SAJA DI DEPAN PUBLIK DILARANG
    (Q.S. An Nur 30, 31)
    hsndwsp
    Acheh – Sumatera
    http://achehkarbala.blogspot.no/2010/10/jawaban-hsndwsp-tentang-boleh-tidaknya.html

    Posted by hsndwsp | 5 November 2012, 9:04

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kebun Cinta

Arsip Artikel

Lembah al-Ghadir

SALAM BAHAGIA..!
Desa Pagerwangi Punclut Kecamatan Lembang - Bandung

Rekening Donasi

Bagi Bapak, Ibu dan Sahabat yang berkenan membantu kegiatan dakwah sosial kami & peningkatan konten blog, dapat berkontribusi ke:
Bank Mandiri Cabang DAGO
Norek: 131-00-0595266-0
a/n : Yayasan Awliya Bandung.
Saran-saran via SMS ke kami:
022-70578825

Blog Stats

  • 174,495 hits

Percikan Telaga

"Dunia adalah tempat ibadahnya para Nabi Allah dan tempat turunnya wahyu serta tempat shalatnya para malaikat, juga tempat berdagangnya para wali Allah."
[Imam Ali bin Abi Thalib]

Juru Kunci

Pengelolaan blog/site ini telah menggunakan perangkat lunak OPEN SOURCE (Linux Ubuntu 10.04 LST) .
%d blogger menyukai ini: