you're reading...
Uncategorized

Tadarus; Membaca Ulang Dialog Allah dan Malaikat Dalam Al-Quran

Bulan penuh rahmat dan berkah telah tiba. Di bulan ini hati-hati manusia lebih lembut dan lebih siap untuk menerima kebenaran.

Bulan Ramadhan adalah bulan Allah, bulan keakraban dengan kalam ilahi dan bulan al-Quran.

Imam Baqir as berkata, “Segala sesuatu ada musim semi dan musim baru kehidupan. Musim semi dan musim baru kehidupan al-Quran adalah bulan Ramadhan. 

Dialog merupakan salah satu cara komunikasi untuk menjelaskan pandangan dan keyakinan. Ketika berdialog, masing-masing dari kedua belah pihak berusaha menjelaskan pendapat dan keyakinannya dan berupaya memuaskan lawan bicaranya akan kebenaran keyakinannya.

Di dalam al-Quran banyak kita dapati tentang dialog. Salah satu dialog yang terkenal dalam al-Quran adalah dialog antara para malaikat dengan Allah Swt tentang penciptaan Nabi Adam as yang ada dalam surat al-Baqarah ayat 30 sampai 33 dan surat Shad ayat 69.

Sebelum menciptakan dan menetapkan Nabi Adam as, ayah semua manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi, Allah Swt mengabarkan terlebih dahulu masalah yang sangat penting ini kepada para malaikat. Allah berfirman bahwa Dia ingin menciptakan sebuah makhluk untuk menjadi wakil dan khalifah-Nya di muka bumi. Makhluk yang menguasai segala sesuatu dan memiliki potensi untuk berkembang dan menjadi khalifah Allah di muka bumi. Mendengar masalah ini para malaikat berkata dengan intonasi protes:

“Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”(QS. 2: 30)

Dengan demikian, mengapa kedudukan ini Engkau berikan kepada manusia yang berdosa, bukan kepada kami yang suci dan maksum?

Dalam menjawab mereka Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. 2: 30)

Kemudian Allah mengajarkan semua nama benda kepada Adam kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” (QS. 2: 31) dan tunjukkan potensi dan kelayakan kalian untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi!

Para malaikat tidak mampu menunjukkan dan mereka memahami bahwa kelayakan tidak bisa didapatkan hanya dengan beribadah dan bertasbih kepada Allah. Tetapi, ilmu dan pengetahuanlah yang menjadi dasar kelayakan. Oleh karena itu mereka meminta maaf kepada Allah seraya berkata, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. 2: 32)

Sesungguhnya yang membuat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dan menjadi sembahan para malaikat adalah karena sisi kemanusiaannya. Tahap kesempurnaan manusia terletak pada ruh kemanusiaannya yang ditiupkan oleh Allah. Oleh karenanya, dalam lingkup ruh kemanusiaan inilah ia memiliki kelayakan dan potensi untuk menghiasi dirinya dengan sifat dan keutamaan ilahi dan menjadi khalifah Allah di muka bumi.

Allah Swt memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam as sebagai sebuah bentuk penghormatan akan kedudukan Nabi Adam as seraya berfirman, “… Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (Shad:71-72)

Dengan demikian, berdasarkan firman Allah, para malaikat menyaksikan sisi kelebihan Nabi Adam as dan mereka bersujud kepadanya dengan tanpa banyak pertanyaan dan alasan. Pada hakikatnya para malaikat bersujud kepada Allah melalui penghormatan kepada Nabi Adam. Sementara Iblis hanya melihat sisi kelemahan Nabi Adam as, yakni membandingkan fisik Nabi Adam as dengan dirinya kemudian menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam as dan tidak mau menaati firman Allah Swt. (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

About Pesantren Awliya

Sebuah Pesantren Baru yang konsen terhadap pemberdayaan masyarakat urban yang termarginalisasi oleh industri kapitalisme

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kebun Cinta

Arsip Artikel

Lembah al-Ghadir

SALAM BAHAGIA..!
Desa Pagerwangi Punclut Kecamatan Lembang - Bandung

Rekening Donasi

Bagi Bapak, Ibu dan Sahabat yang berkenan membantu kegiatan dakwah sosial kami & peningkatan konten blog, dapat berkontribusi ke:
Bank Mandiri Cabang DAGO
Norek: 131-00-0595266-0
a/n : Yayasan Awliya Bandung.
Saran-saran via SMS ke kami:
022-70578825

Blog Stats

  • 174,495 hits

Percikan Telaga

"Dunia adalah tempat ibadahnya para Nabi Allah dan tempat turunnya wahyu serta tempat shalatnya para malaikat, juga tempat berdagangnya para wali Allah."
[Imam Ali bin Abi Thalib]

Juru Kunci

Pengelolaan blog/site ini telah menggunakan perangkat lunak OPEN SOURCE (Linux Ubuntu 10.04 LST) .
%d blogger menyukai ini: