you're reading...
Uncategorized

Syiah dan Filsafat

Satu kenyataan penting sekaitan dengan perjalanan filsafat dalam sejarah Islam adalah turut andilnya masalah kemazhaban tradisional Islam[1] dalam proses perkembangan pemikiran filsafat. Tanpa perlu menunjuk siapa filosof bermazhab Islam apa, yang jelas, “Philosophy persisted in the Shi’i world far more easily, and there has been a continuing tradition of respect for philosophy in Persia and other Shi’i community (filsafat jauh lebih mudah bertahan di dunia Syiah dan terdapat semacam tradisi menghargai filsafat yang masih terus berkelanjutan di Persia dan dalam komunitas Syiah lainnya).”[2] 

Kalangan Muslim Suni cenderung meyakini bahwa pintu ijtihad sekarang ini telah tertutup rapat-rapat. Karenanya, mereka harus mencari jalan keluar dari pelbagai persoalan religius praktis maupun teoritis dengan merujuk pada rangkaian teks-teks kanonik (hadis atau riwayat) dan konsensus para ulama. Memang, kalangan Muslim Syiah juga menyerukan otoritas para imam dari keturunan Nabi Mohammad sekaligus dari sepupunya, Imam Ali bin Abi Thalib. Namun dalam hal ini, basis otoritas keagamaan di tengah kalangan Syiah jauh lebih cair dan berkelanjutan. Karenanya, mereka lebih bersikap reseptif terhadap filsafat ketimbang kalangan Sunah.

Di era kontemporer, diakui secara luas bahwa warisan filsafat Islam, khususnya mazhab Sadrian dan Sabzawarian—sebagai tonggak “sistem filsafat yang sangat Islami”—berkembang jauh lebih ekstensif di Iran—yang sejak beberapa abad silam, khususnya sejak kedatangan Syaikh Baha’i[3] ke Iran, telah menjadikan mazhab Syiah sebagai mazhab resmi di sana—ketimbang di wilayah lain yang mayoritas atau minoritas penduduknya bermazhab Syiah.

Parviz Morewedge dan Oliver Leaman menegaskan, “There is a continuing tradition of interest in illuminasionist and mystical thought, especially in Iran where the influence of Molla Sadra and al-Suhrawardi has remained strong (ketertarikan terhadap pemikiran iluminasi dan mistik masih menjadi tradisi yang berkelanjutan, khususnya di Iran, di mana pengaruh Molla Sadra dan Suhrawardi tetap kuat).”[4]

Tentu saja diyakini pula bahwa warisan filsafat Islam dalam dunia Syiah ini diapresiasi dalam beragam cara (bahkan sebagian pihak kembali pada mazhab filsafat sebelumnya, seperti Iluminasionisme, bahkan Peripatetisme, kendati arus utamanya tetap pada mazhab Hikmah—sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya). Kendati demikian, dalam situasi kekinian, ragam cara yang diterapkan kalangan pemikir pasca-Sadrian di Iran khususnya kiranya dapat dimasukkan dalam dua kategori umum berdasarkan sumber dan corak apresiasinya; tradisional dan modern.

Apresiasi modern terhadap filsafat Sadrian berkembang di kalangan akademisi, atau setidaknya kalangan yang tumbuh dalam pendidikan atau khasanah pemikiran modern. Para figur yang paling menonjol di kalangan ini adalah Henry Corbin, Sayyed Hossein Nasr, dan Mehdi Ha’ri Yazdi. Sementara apresiasi tradisional lebih bertahan di kalangan pesantren atau hawzah ilmiah, khususnya kalangan yang mengenyam pendidikan tradisional keagamaan di Qom. Para tokoh terkemuka sekaligus pendahulunya adalah Ruhullah Khomaini, Mohammad Husein Thabathabai, dan Murtadha Muthahhari.

Keterikatan Syiah dengan filsafat dapat dilihat dari struktur keyakinannya. Akidah Syiah Imamiyah dapat dibagi dalam tiga metode, yang masing-masing melahirkan bangunan keyakinan berbeda dalam hal argumentasi dan pola urutan. Karenanya, setiap penganut Syiah memiliki rancangan akidah sendiri-sendiri sesuai metode pendekatan yang digunakannya. Ada yang membangun akidah dengan metode teologi atau kalam, ada yang dengan metode filsafat wahdah al-wujud atau katsrah al-wujud, bahkan ada pula yang membangun akidah dengan irfan.

Akidah dengan fondasi teologi telah ditetapkan sebagai terdiri atas tiga prinsip umum; ketuhanan, kenabian, dan kebangkitan, serta dua prinisip khusus, yaitu keimaman (imamah) dan keadilan Tuhan. Bahkan sebagian ulama mutakhir menambahkan beberapa tema dalam daftar prinsip lebih khusus lagi, seperti wilayah al-faqih (wilayatul faqih al-muthlaqah).

Sedangkan akidah yang didasarkan pada filsafat (ontologi), terutama ontologi wahdah al-wujud, tidak terikat pada pola susunan prinsip keyakinan sebagaimana dalam kalam (teologi). Akidah falsafi lebih ringkas, meski tidak lebih mudah untuk dianut. Pembentukan akidah dengan fondasi filsafat dimulai dengan mendefiniskan terma wujud, mengeksplorasi hukum-hukum wujud, serta melakukan distingsi terhadap terma-terma yang berlawanan dengan wujud. Biasanya, para penganut akidah falsafi, yang umumya merupakan pelajar hawzah tingkat menengah atau kalangan akademis, mula-mula membagi dua pengertian, ‘ada’ dan ‘tiada’. Setelah itu, mereka akan membedakan ‘ada’ sebagai pengertian dan ‘ada’ sebagai realitas itu sendiri (fi nafs al-amr). Lalu mereka membagi ‘ada’ menjadi dua kategori; yang beresensi dan yang tidak beresensi. Skema ini diakhiri dengan mengidentifikasi berbagai kriteria masing-masing dan memastikan pilihan serta kesimpulan tentang adanya sesuatu yang tidak beresensi, tidak ter-apakan, tidak terdiri dari substansi (subjek) dan aksiden (predikat), tidak tunduk pada kaidah persepsi yang memposisikan setiap sesuatu sebagai kategori dan terma, baik partikular maupun universal.

Langkah kedua adalah menimbang-nimbang pendapat ashalah al-wujud dan ashalah al-mahiyah dengan mencari titik lemah semua pendapat yang pernah dikemukakan kedua kelompok filosof. Langkah ketiga adalah membandingkan pendapat tentang wujud sebagai realitas tunggal dan wujud sebagai realitas plural. Langkah berikutnya adalah mengurai sifat-sifat maujud, mulai dari yang abstrak murni (al-mujarrad al-mahdh, al-mujud al-asyfaf), lalu yang semi abstrak atau interval (al-mitsali, al-barzakhi, an-nafsani), sampai yang konkret (al-jism, raga, body) dengan dua elemen dasarnya, materia (al-quwwah, hyle) dan forma (aktus, ash-shurah). Inilah gambaran singkat tentang langkah-langkah umum dalam ontologi umum atau al-ilahiyat bi al-ma’na al-am (teologi umum). Setelah menemukan maujud beresensi dan yang tidak beresensi, mulailah mereka memasuki tema ketuhanan (al-Ilahiyat bi al-ma’na al-akhash, teologi khusus) dan membanding-bandingkan semua pendapat dan aliran antara ketunggalan atau kebinenkaan zat dan sifat, begitulah seterusnya.

Akidah dengan fondasi irfan adalah sejenis akidah ekslusif, privat, sulit, rumit, dan penuh tantangan. Peminatnya amatlah sedikit, dan yang berhasil membentuk akidah dengan irfan lebih sedikit lagi. Sebelum membentuk akidah dengan irfan, para peminat mesti mempelajari pokok-pokok irfan nazhari (irfan konseptual) dan pokok-pokok irfan ‘amali (praktikal). Tidak semua yang memahami irfan nazhari berhasil menjalani irfan ‘amali. Allamah Thabathabai dan Imam Khomaini adalah dua contoh manusia yang telah berhasil membentuk akidah dengan kalam, filsafat, irfan nazhari, sekaligus menduduki strata teringgi dalam irfan ‘amali. Mazhab irfan dan kalam pada abad ketujuh juga mencapai masa keemasan Pada zaman inilah keempat aliran pemikiran tersebut terintegrasi dalam akidah. Menurut Mottahedeh, inilah satu fenomena penting yang meratakan jalan bagi kebangkitan Safawi dengan warna khas Syiah.[5]

[1] Sebagaimana umum diketahui, sepanjang sejarahnya hingga hari ini, agama Islam terbagi dalam beberapa kubu mazhab. Paling besar sekaligus paling popular di antaranya adalah Syiah dan Ahlussunah atau lebih masyhur dengan sebutan Sunah saja.

[2] Edward Craig (ed.), op. cit., hal.10

[3] Mohammad bin al-Husain Baha’ud-Din al-Amili, yang dikenal dengan asy-Syaikh al-Baha’i, dilahirkan di Baalbek, Libanon pada tahun 953 H, dalam keluarga ulama. Penulis Zubdah al-Ahkam ini telah mencetak banyak filosof dan fuqaha Syiah. Karyanya yang hingga kini menjadi rujukan dalam ushul fikih adalah Zubdah al-Ushul. Ia wafat pada 1031 H.[3]

[4] Op. cit., hal. 115.

[5] Roy Motahedeh, The Mantle of The Prophet, Pantheon Books, New York; 1985, hal. 179.

(dicomot dari pengantar Disertasi doktoral “Pemikiran Filsafat Mohammad Taqi Mesbah Yazdi”)

About Pesantren Awliya

Sebuah Pesantren Baru yang konsen terhadap pemberdayaan masyarakat urban yang termarginalisasi oleh industri kapitalisme

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kebun Cinta

Arsip Artikel

Lembah al-Ghadir

SALAM BAHAGIA..!
Desa Pagerwangi Punclut Kecamatan Lembang - Bandung

Rekening Donasi

Bagi Bapak, Ibu dan Sahabat yang berkenan membantu kegiatan dakwah sosial kami & peningkatan konten blog, dapat berkontribusi ke:
Bank Mandiri Cabang DAGO
Norek: 131-00-0595266-0
a/n : Yayasan Awliya Bandung.
Saran-saran via SMS ke kami:
022-70578825

Blog Stats

  • 174,687 hits

Percikan Telaga

"Dunia adalah tempat ibadahnya para Nabi Allah dan tempat turunnya wahyu serta tempat shalatnya para malaikat, juga tempat berdagangnya para wali Allah."
[Imam Ali bin Abi Thalib]

Juru Kunci

Pengelolaan blog/site ini telah menggunakan perangkat lunak OPEN SOURCE (Linux Ubuntu 10.04 LST) .
%d blogger menyukai ini: