you're reading...
Uncategorized

Rezeki, Jodoh dan Umur di Tangan Siapa?

Sejak dulu dan hingga sekarang hati saya terusik oleh sebuah konvensi yang kedengarannya benar menurut banyak orang, termasuk guru ngaji saat aku masih kecil. “Nak, rezeki, jodoh dan umur itu di tangan Allah,” katanya sambil memutar butir-butir tasbih di sela jemarinya. Kita pun manggut-manggut dengan wajah semrawut. 

Meski terus bertanya-tanya dan terjadi polemik internal dalam batin, saya pun pura-pura memastikan bahwa tiga hal tersebut adalah ‘jatah’ Tuhan. Selanjutnya, bila ada peristiwa buruk menimpa teman, saya secara otomatis menghiburnya, “Sudahlah… bersabarlah…karena rezeki, jodoh dan umur ditentukan oleh Yang ‘di Atas’.  Dengan apologi yang terkesan ‘teologis’ ini saya merasa bebas dari rasa bersalah seraya membiarkan adegan kezaliman atau kecerobohan terus tertayang tanpa sedikitpun upaya antisipasi.

Salah satu penyebab terpuruknya umat Islam adalah ketidakmampuan menyeimbangkan nalar akal budi dan teks kitab suci. Penyebab lain, yang merupakan akibat dari penyebab pertama, adalah ketidakmampuan membedakan premis rasional dan mitos. Penyebab ketiga adalah terbelenggunya umat Islam oleh mitos-mitos yang diperlakukan sebagai dogma dan cara pandang. Sebagai akibatnya, wacana rasional yang didasarkan pada argumentasi dan penalaran yang kuat mengalami ‘cuti panjang’, sedangkan mitos atau retorika irasional menjadi pilihan.

Padahal ketika logika dibenci, maka yang terbentuk adalah keyakinan yang rapuh dan keropos. Bisa jadi, cendekiawan yang menguras tenaga dan pikiran untuk mempelajari agama diabaikan, sementara si pandir yang pandai bersolek lebih ditiru dan dipuja. Presentasi seorang pemikir dikalahkan oleh ramalan Ki Ngawur dan nasehat Joko Sableng.

Islam kerap kali dituding sebagai ajaran yang telah melampaui tanggal masa berlakunya alias kadaluarsa. Karena itu, perlu ada penjelasan yang selaras dengan dinamika zaman.

Bila rezeki, jodoh dan usia telah ditentukan secara determinan oleh Tuhan, maka bukankah usaha kita untuk mencarinya adalah sesuatu yang konyol dan sia-sia? Mengapa kita meliburkan logika demi sebuah mitos yang berakibat buruk terhadap semangat hidup dan optimisme?

Rezeki mesti didefinisi ulang sebagai sesuatu yang membuat kita menjadi lebih baik secara spiritual. Kematian di jalan Allah (kesyahidan), sebagaimana diperagakan oleh Al-Husain pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan Asyura, adalah rezeki. Allah bahkan menepis pandangan yang menganggap kematian sebagai bencana, “Dan janganlah sekali-kali kau mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah adalah orang-orang mati, sebaliknya mereka hidup dan senantiasa diberi rezeki.” Berusaha dan bekerja, bertakwa, bertawakkal, bersyukur, berinfaq, bersilaturrahmi, dan berdoa adalah cara-cara yang bisa ditempuh untuk meraih rezeki. Ia dicari, bukan datang tanpa diundang.

Jodoh juga semestinya dibersihkan dari pandangan mitologis yang terus menerus memproduksi fatalisme dan pesimisme. Jodoh adalah kata salah kaprah yang mesti didelete atau diartikan ulang sebagai pasangan yang harus dicari dengan usaha dan kehati-hatian. Pria maupun wanita berhak dan tak perlu merasa malu mencari pasangan hidup selama menjunjung tinggi aturan agama dan moral. Ijab dan kabul adalah sebuah kontrak yang didasarkan atas kerelaan mutual. Karena itulah, kawin paksa tidak bisa dibenarkan.

Umur dan hidup manusia di tangan Tuhan, namun Ia juga membekali manusia dengan akal agar dapat menghindari segala sesuatu yang mengantarkannya kepada kematian yang sia-sia. Karena itu, bunuh diri dan melakukan sesuatu yang merugikan kesehatan diharamkan oleh agama. Allah berfirman, ‘Allah mematikan jiwa-jiwa bila tiba saat kematiannya (QS….). Artinya, keputusan kematian yang merupakan qadha adalah akumulasi dari sejumlah syarat dan kondisi alamiah dalam rangkaian sebab akibatnya. Karena itu, Ia pula menegaskan, “Dan kamu tidak akan menemukan perubahan dalam Sunnah Allah”(QS Al-kahfi).

Memang segala sesuatu di bawah kekuasaan Tuhan. Tapi Ia juga menerapkan kekuasaanNya tidak secara serampangan. Ia ciptakan proses, mekanisme dan sistem atas semua partikel yang berada dalam altar wujudNya, mulai dari pendar mentari, kerlip gemintang, debur ombak, desau angin hingga lolongan srigala sahara dan gemeretak rahang singa saat mencerabut daging rusa. Itulah spektrum kekuasaanNya.

By Muhsin Labib, Powered by Ama Salman al-Banjari

About Pesantren Awliya

Sebuah Pesantren Baru yang konsen terhadap pemberdayaan masyarakat urban yang termarginalisasi oleh industri kapitalisme

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kebun Cinta

Arsip Artikel

Lembah al-Ghadir

SALAM BAHAGIA..!
Desa Pagerwangi Punclut Kecamatan Lembang - Bandung

Rekening Donasi

Bagi Bapak, Ibu dan Sahabat yang berkenan membantu kegiatan dakwah sosial kami & peningkatan konten blog, dapat berkontribusi ke:
Bank Mandiri Cabang DAGO
Norek: 131-00-0595266-0
a/n : Yayasan Awliya Bandung.
Saran-saran via SMS ke kami:
022-70578825

Blog Stats

  • 174,687 hits

Percikan Telaga

"Dunia adalah tempat ibadahnya para Nabi Allah dan tempat turunnya wahyu serta tempat shalatnya para malaikat, juga tempat berdagangnya para wali Allah."
[Imam Ali bin Abi Thalib]

Juru Kunci

Pengelolaan blog/site ini telah menggunakan perangkat lunak OPEN SOURCE (Linux Ubuntu 10.04 LST) .
%d blogger menyukai ini: