you're reading...
Uncategorized

Pembagian Dzikrullâh

Dzikrullâh atau mengingat Allah itu terbagi kepada dua macam dzikirullâh, dan keduanya harus terpadu dan tidak boleh dipisahkan.

Pertama, dzikrullâh dengan perbuatan, yaitu dengan menjalankan segala yang diwajibkan Allah ‘azza wa jalla dan meninggalkan segala yang diharamkan-Nya. Dan hakikat dzikrullâh itu adalah tidak melakukan maksiat kepada Allah ‘azza wa jalla.

Imam Ja‘far Al-Shâdiq as berkata bahwa kewajiban yang paling keras dari Allah atas hamba-hamba-Nya itu ada tiga yang di antaranya adalah dzikrullâh pada setiap keadaan, dan yang beliau maksudkan bukan mengucapkan kalimat subhânallâhi walhamdu lillâh, melaikan meninggalkan segala yang diharamkan Allah. (Al-Kâfî 2/170)

Kedua, dzikrullâh dengan mengucapkan kalimat-kalimat tertentu dan pada waktu-waktu tertentu. Dzikrullâh semacam ini akan tidak berarti apabila kita melanggar ajaran Allah yang lainnya. Dan bahkan kalau fikiran kita tertuju kepada macam dzikir yang kedua ini saja, maka hakikatnya kita telah lupa kepada Allah yang telah menciptakan kita. Shalat itu bagian dari dzikir kepada Allah, puasa sunnah bagian dari dzikrullâh dan membaca Al-Quran juga bagian dari mengingat Allah, tetapi kalau kita meninggalkan ajaran Islam yang lainnya seperti berpegang kepada al-tsaqalain dan imâmah pasca kenabian misalnya, maka sebenarnya kita telah lupa kepada-Nya.

Rasulullah saw berkata, “Barangsiapa yang taat kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah ingat kepada Allah, sekalipun sedikit shalatnya, puasanya dan membaca Al-Quran-nya. Dan barangsiapa yang tidak taat kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah lupa kepada Allah walaupun banyak shalatnya, banyak puasanya dan banyak membaca Al-Quran-nya.” (Mustadrak Al-Wasâ`il 5/403)

Jadi ada orang yang banyak shalatnya, banyak puasa sunnah-nya dan banyak membaca Qurannya, namun sebenarnya lupa kepada Allah, sebab tidak mau mengamalkan ajaran Islam yang lainnya, dan ajaran Islam itu meliputi seluruh aspek kehidupan ummat manusia seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, hukum, pemerintahan, pendidikan dan lain-lain. Maka jika ada dari sisi-sisi kehidupan kita yang tidak kita Islamkan, berarti kita telah melupakan Allah ‘azza wa jalla.

Dari Abû ‘Ubaidah dari Abû ‘Abdillâh as berkata, “Dari kewajiban yang paling keras yang Allah wajibkan atas makhluk-Nya adalah dzikrullâhi katsîran (mengingat Allah dengan banyak).” Kemudian beliau berkata, “Maksudku bukan mengucapkan: Subhânallâhi wal hamdu lillâhi wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar, walaupun ia termasuk darinya, tetapi mengingat Allah kepada yang Dia halalkan dan yang Dia haramkan; jika berupa ketaatan (kepada-Nya), dia mengamalkannya, dan apabila kemaksiatan (dosa), dia meninggalkannya.” (Al-Kâfî 1/80)

Al-Ashbagh berkata: Amîrul Mu`minîn–shalawâtullâhi ‘alaih—berkata, “…dan dzikir itu ada dua macam; mengingat Allah ketika datang musibah, dan yang lebih utama dari itu adalah mengingat Allah terhadap apa yang Dia haramkan atas kamu, lantas hal itu menjadi penghalang (untuk tidak mengamalkannya).” (Al-Kâfî 2/90)

About Pesantren Awliya

Sebuah Pesantren Baru yang konsen terhadap pemberdayaan masyarakat urban yang termarginalisasi oleh industri kapitalisme

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kebun Cinta

Arsip Artikel

Lembah al-Ghadir

SALAM BAHAGIA..!
Desa Pagerwangi Punclut Kecamatan Lembang - Bandung

Rekening Donasi

Bagi Bapak, Ibu dan Sahabat yang berkenan membantu kegiatan dakwah sosial kami & peningkatan konten blog, dapat berkontribusi ke:
Bank Mandiri Cabang DAGO
Norek: 131-00-0595266-0
a/n : Yayasan Awliya Bandung.
Saran-saran via SMS ke kami:
022-70578825

Blog Stats

  • 174,495 hits

Percikan Telaga

"Dunia adalah tempat ibadahnya para Nabi Allah dan tempat turunnya wahyu serta tempat shalatnya para malaikat, juga tempat berdagangnya para wali Allah."
[Imam Ali bin Abi Thalib]

Juru Kunci

Pengelolaan blog/site ini telah menggunakan perangkat lunak OPEN SOURCE (Linux Ubuntu 10.04 LST) .
%d blogger menyukai ini: