you're reading...
Uncategorized

AHLUL BAIT ADALAH PINTU KEBENARAN

Disebutkan dalam Ziarah al Jami’ah,” Aku bersaksi bahwa kalian adalah pintu-pintu Allah dan kunci-kunci RahmatNya”. Ahlul Bait A.S. merupakan pintu-pintu yang mengantarkan kita kepada Allah SWT. Mereka bukan sekedar pintu kota ilmu Rasulullah SAWW saja, tetapi mereka juga pintu-pintu yang melalui mereka kita dapat memahami dengan baik ajaran Allah SWT dan pesan-pesan Rasulullah SAWW dalam segala hal.
Ketika Rasulullah SAWW berkali-kali dan dalam berbagai kesempatan bersabda tentang pentingnya al-tsaqalain – dua pusaka besar dan berat yang beliau tinggalkan untuk umat Islam, dan bahwasanya hanya dengan dua  pusaka inilah manusia tidak akan sesat dan menyimpang dari kebenaran, “Selagi kalian berpegangan dengan keduanya, maka selamanya kalian tidak akan tersesat.”

Kedua pusaka itu adalah kitab Allah SWT. dan Ahlul Bait A.S. Artinya, beliau ingin menekankan bahwa kalau kita ingin memahami Qur’an dengan baik, maka satu-satunya jalan atau satu-satunya pintu adalah Ahlul Bait A.S, tanpa lewat pintu mereka maka pemahaman kita tentang maksud-maksud Qur’an tidak terjamin kebenarannya.
Berkaitan dengan itu, Allah SWT. berfirman, “Laa yamassuhu illal muthohharuun”, Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan (QS. Al-Waqiah : 79). Saya ingin mengajak anda semuanya sejenak merenungkan dengan baik tentang tafsiran atau makna dari ayat, “Laa yamassuhu illal muthohharuun.”
Banyak dari kaum muslimin menjadikan ayat ini sebagai dalil tidak dibolehkannya seseorang menyentuh ayat Qur’an kecuali dalam keadaan suci, baik dari hadas kecil maupun hadas besar. Seorang yang tidak mempunyai wudhu tidak boleh menyentuh Qur’an. Demikian pula seorang yang dalam keadaan junub atau haidh, maka tidak boleh menyentuh ayat Qur’an.
Di sini saya tidak ingin menjelaskan masalah boleh atau tidak bolehnya menyentuh ayat Qur’an tanpa wudhu. Itu adalah masalah fiqih. Yang pasti bahwa dalam fatwa ulama Ahlul Bait seorang yang tidak dalam keadaan suci tidak boleh menyentuh ayat Qur’an. Tetapi benarkah atau bisakah ayat ini dijadikan dasar untuk fatwa tersebut ?. Ini sebuah permasalahan tersendiri yang dibahas secara detail dalam kajian ushul fiqih atau kajian fiqih argumentatif. Di sini saya mencoba untuk membahas ayat Laa yamassuhuu illal muthohharuun secara ringkas saja menurut apa yang pernah saya ketahui dari kitab tafsir.
Pertama, Perlu diketahui bahwa kata “Laa ” mempunyai dua arti ;“ jangan “ (nafy, nahy) dan “ tidak “ (nafy). Sekarang, kata “ laa “ di sini, berarti larangan (jangan) atau berarti nafy (tidak) ?. Untuk mengetahui itu, kita harus melihat bentuk kata setelahnya. Kata “ laa ” yang berarti “jangan,“ pada umumnya, berada sebelum fi’il mudhore mukhotob (maksudnya, bentuk kata kerja yang sedang atau akan dilakukan untuk kata ganti ke 2 ). Misalnya, laa tasyrob ( Anda jangan minum ). Selain itu, kata kerja yang berada setelahnya juga harus diharakati sukun, tidak fathah, kasrah maupun dhommah, seperti contoh tadi. Nah, oleh karena kata kerja setelah “ laa ” dalam ayat tadi adalah kata kerja yang menunjukkan ghaib (orang ke 3), dan tidak diharakati sukun, maka kata “ laa ” itu berarti “ tidak “. Dengan demikian, arti ayat tadi adalah “ Tidak ada yang menyentuhnya…” bukan “ Jangan menyentuhnya “.
Ke 2, kata “ yamassuhu “. Kata ini derivasi dari kata “ massa “. Dalam bahasa Arab, ada kata lain yang mempunyai makna yang sama dengan massa-yamassu, yakni lamasa-yalmasu . Makna dari ke 2 kata ini ialah menyentuh, memegang, tetapi dalam pemakaiannya berbeda, khususnya dalam Qur’an. Kata lamasa yalmasu dipakai untuk sentuhan fisik, sedangkan kata massa yamassu untuk sentuhan psikis atau sentuhan yang non fisik.
Mari kita lihat dalam ayat yang lain, Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa jika sekelompok setan menyentuh mereka, maka mereka segera sadar dan ingat kepada Allah SWT.”. (al A’raf 201), atau ayat-ayat yang lain (lihat, 7:95, 10:12, 17:83, 3:120 dll). Menarik sekali, dalam ayat ini Allah menggunakan kata massa. Artinya, orang-orang bertaqwa jika disentuh oleh setan, maka mereka segera sadar dan ingat kepada Allah SWT. Sentuhan setan di sini tidak bisa kita artikan sentuhan fisik, karena setan secara genesus ( atau jin ) berbeda dengan manusia. Sentuhan setan artinya setan menguasai, mempengaruhi dan membisiki mereka.
Kembali ke pembahasan ayat, Laa yamassuhu illal muthohharuun. Di sini lebih tepat kata sentuhan diartikan dengan sentuhan yang non fisik. Artinya, tidak ada yang memahami Qur’an, atau tidak ada yang menguasai Qur’an kecuali orang-orang yang muthohharuun
Ke 3, kata “ muthohharuun “ adalah kata benda ( isim ) yang berbentuk maf’uul (bentuk kata yang berarti penderita). Misalnya, manshur ( yang ditolong ) madzlum ( yang didzalimi ). Muthohharuun berarti orang-orang yang disucikan, bukan orang-orang yang bersuci. Kalau muthohharuun artinya orang-orang yang bersuci, maka lebih tepat redaksi ayat tadi berobah menjadi “ Laa yamassuhu illal muthohhiruun “ (Tidak ada yang memahaminya kecuali orang yang bersuci ). Kenyataannya, Allah SWT. menggunakan kata muthohharuun, artinya yang disucikan, yang dibersihkan. Artinya tidak ada yang menguasai Qur’an kecuali orang-orang yang disucikan, bukan orang yang bersuci.
Kemudian Siapakah orang-orang yang disucikan itu ? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat ayat yang berbunyi, “ Innamaa Yuriidullohu liyudzhiba ankum-ulrijsa, Ahla-l Baiti wa yuthohhirokum tathhiiron ” (Sesungguhnya Allah hendak membersihkan dari kalian dosa, wahai Ahlul Bait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya ) [ QS. Al-Ahzab : 33 ]. Yang dimaksud dengan Ahlul Bait disini, sebagaimana yang dijelaskan dalam banyak hadis Nabi SAWW, adalah keluarga Nabi SAWW. (Ali bin Abi Thalib, Fathimah al Zahra’, al Hasan, al Husain, Ali Zainal Abidin, Muhammad al Baqir, Ja’far al Shodiq, Musa al Kadzim, Ali al Ridho, Muhammad al Jawad, Ali al Hadi, Hasan al Askari dan Muhammad al Mahdi salam sejahtera atas mereka semua). Mereka adalah orang-orang yang telah disucikan oleh Allah SWT. Dengan kehendak takwini dan tasyri’i-Nya. Oleh karena itu, hanya mereka pulalah yang benar-benar menguasai dengan sepenuhnya dan memahami secara benar maksud dan arti ayat-ayat Qur’an. Mereka lah, sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah SAWW dalam hadis al tsaqalain, pendamping Qur’an dan penerjemahnya. Imam Ali bin Abi Thalib AS. pernah mengatakan di hadapan pasukannya ketika sebagian di antara mereka ada yang terpedaya oleh Amr bin ‘Ash ketika mengangkat Qur’an di ujung pedangnya dalam perang Shiffin, “ Sayalah Qur’an yang berbicara “.
Qur’an yang mulia meskipun tinggi dan luas maknanya, dan indah bahasanya hal itu diakui baik oleh muslim maupun non muslim, namun pada saat yang sama bisa dipahami oleh setiap orang yang paham bahasa Arab. Allah SWT. Berfirman, “ Sesungguhnya Kami telah mempermudah Qur’an untuk dipahami (diingat), maka apakah ada yang memikirkan ( mengingat ) ? “
[QS, al Qomar : 32].

Setiap orang boleh saja menafsirkan Qur’an selagi segala persyaratannya telah terpenuhi, bahkan dari kita yang memahami bahasa Arab yang paling rendah sekalipun akan dengan mudah memahami kata alhamdulillah hirobbil alamin. Tentu pemahaman terhadap Qur’an tergantung sejauh mana penguasaan mereka terhadap persyaratan-persyaratannya. Namun, yang menjadi permasalahan adalah apakah pemahaman kita terhadap Qur’an terjamin kebenarannya ?
Ketika pertanyaan ini mengemuka, maka tidak ada satupun dapat bersesumbar bahwa dialah yang benar dan tepat dalam memahami dan menafsirkan Qur’an. Allamah Muhammad Thaba’thabai dalam pendahuluannya untuk kitab tafsir “al Mizan“ menjelaskan tentang beberapa karakteristik penafsiran Qur’an. Setelah beliau menunjukkan kelemahan-kelemahan yang ada pada karakteristik-karakteristik itu, beliau mencoba untuk menafsirkan Qur’an dengan Qur’an sambil meyakini bahwa methode itulah yang digariskan oleh Nabi SAWW. dan Ahlul Baitnya. ( Sesungguhnya sebagian ayat Qur’an menafsirkan sebagian yang lain,- Imam Ali A.S. ). Kemudian juga beliau sering mengembalikan ayat-ayat Qur’an ke hadis-hadis Nabi SAWW. dan Ahlul Baitnya A.S.
Dengan melihat ayat pertama “ Laa yamassuhu illal muthohharuun “ dan ayat “ Innamaa yuriidullohu …” maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa hanya Ahlul Bait sajalah yang pemahamannya tentang Qur’an pasti benar. Selain mereka sekalipun seorang ulama besar, maka tidak ada jaminan bahwa penafsirannya benar kecuali mereka bersandarkan pada Qur’an atau hadis-hadis orang-orang suci.
Kemudian selain Ahlul Bait A.S. itu sebagai pintu untuk kita memahami Qur’an, juga mereka adalah pintu bagaimana kita meminta, memohon dan berdoa kepada Allah SWT. Dalam hal ini, telah diwariskan kepada kita doa-doa Ahlul Bait A.S. yang sangat indah dan menyentuh hati kita. Doa mereka benar-benar mewakili jeritan dan rintihan hati kita di hadapan Allah SWT, sehingga kita tidak perlu lagi menyusun kata-kata untuk meminta sesuatu dari Allah SWT. Mereka telah menawarkan kepada kita pilihan-pilihan doa yang pendek maupun panjang. Coba kita lihat Mafaatiihul Jinaan, al Muntakhab al hasani, al Misbah dan lainnya yang memuat doa-doa mereka.
Ala kulli hal, Ahlul Bait A.S. adalah pintu yang mengantarkan kita kepada Allah SWT. Dan pintu yang membukakan di hadapan kita untuk memahami ajaran suci yang dibawa oleh Rasulullah SAWW. Merekalah yang lebih mengetahui tentang kehidupan Nabi SAWW. ; ibadah dan mu’amalah-nya.

About Pesantren Awliya

Sebuah Pesantren Baru yang konsen terhadap pemberdayaan masyarakat urban yang termarginalisasi oleh industri kapitalisme

Diskusi

One thought on “AHLUL BAIT ADALAH PINTU KEBENARAN

  1. y..

    Posted by Bu | 24 November 2013, 9:04

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kebun Cinta

Arsip Artikel

Lembah al-Ghadir

SALAM BAHAGIA..!
Desa Pagerwangi Punclut Kecamatan Lembang - Bandung

Rekening Donasi

Bagi Bapak, Ibu dan Sahabat yang berkenan membantu kegiatan dakwah sosial kami & peningkatan konten blog, dapat berkontribusi ke:
Bank Mandiri Cabang DAGO
Norek: 131-00-0595266-0
a/n : Yayasan Awliya Bandung.
Saran-saran via SMS ke kami:
022-70578825

Blog Stats

  • 174,687 hits

Percikan Telaga

"Dunia adalah tempat ibadahnya para Nabi Allah dan tempat turunnya wahyu serta tempat shalatnya para malaikat, juga tempat berdagangnya para wali Allah."
[Imam Ali bin Abi Thalib]

Juru Kunci

Pengelolaan blog/site ini telah menggunakan perangkat lunak OPEN SOURCE (Linux Ubuntu 10.04 LST) .
%d blogger menyukai ini: