you're reading...
Uncategorized

Beribadah dengan Khusyu’

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya…” (Al-Qur’an Surat Al-Mu’minun ayat 1-2)

Ketika Amirul Mu’minin as menyebutkan sifat-sifat pengikut Ahlul Bait Nabi, di antaranya beliau mengatakan, “…di antara tanda-tanda salah seorang dari mereka adalah bahwa engkau lihat dia kuat di dalam (melaksanakan perintah-perintah) agamanya, wara’ di dalam keyakinannya, teliti di dalam (menelaah) ilmu, teguh dalam kesantunannya, sederhana dalam kekayaannya, dan khusyu’ di dalam ibadahnya..” 52] 

Khusyu’ mengandung makna ketundukkan, rasa takluk, dan penyerahan diri. Khusyu’ juga bisa bermakna kekhidmatan dan kerendahan hati, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saww ketika beliau ditanya tentang khusyu’, beliau bersabda,”(Khusyu’) adalah kerendahan hati (tawadlu’) di dalam shalat, dan keadaan seorang hamba yang menghadapkan hatinya secara total kepada Tuhannya ‘Azza wa Jalla” 53]

Orang-orang yang memahami ibadah secara mendalam akan sadar dalam kekhusyu’an mereka. Untuk sampai pada kondisi ini, hijab berupa penipuan diri dan ego harus disingkap dan dihilangkan. Ini merupakan tugas yang sulit. Setiap orang harus membuka dirinya dengan merenungkan kebenaran: bahwa alam ini, yang termanifestasi sebagai dualitas yang nyata, pada dasarnya terserap oleh Tawhid. Tak ada sebab akibat yang timbul tanpa adanya sebab awal, sebab inilah yang menyebabkan seluruh alam ada.

Jadi, tugas sulit itu adalah menemukan sumber kita sendiri. Untuk melakukan hal ini, manusia harus menentukan arah yang tepat yang akan dijalani, mengurangi kuantitas pemikirannya, dan memperbaiki kualitasnya, menyucikan niat dan hatinya, dan akhirnya, menyatukan niatnya dengan amal baik: cahaya dan kesenangan batin diimbangi dengan disiplin lahiri dan tujuan yang jelas.

Dalam mencari sebab keberadaan dirinya, seseorang pada akhirnya akan menemukan bahwa makhluk Allah diciptakan sesuai dengan kehendak-Nya. Dia mencipta makhluk-Nya tanpa pertanyaan, namun manusialah yang harus dipertanyakan.

Manusia harus menyadari bahwa jawaban pertanyaan tentang keberadaannya berasal dari sebuah sumber yang darinya pertanyaan itu muncul. Allah memberi kita kekuatan dan alat untuk bertanya, dan Dia juga memberi kita petunjuk kepada jawaban tersebut dengan pengecualian. Jawabannya adalah : bahwa tak ada Tuhan kecuali Allah. 54]

Khusyu’ juga merupakan salah satu ciri dan karakter dari orang-orang yang memiliki keyakinan yang kuat. Diriwayatkan Imam Ja’far al-Shadiq as mengatakan,”Tiada iman kecuali dengan amal, tiada amal kecuali dengan keyakinan dan tiada keyakinan kecuali dengan sikap khusyu’” 55]

Ini artinya khusyu’ menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keyakinan, sebagaimana tak bisa dipisahkannya keyakinan dengan amal dan seterusnya.

Di dalam salah satu do’anya Imam Ali Zainal ‘Abidin mengatakan, “A’udzubika min nafsin laa taqna’, wa min bathnin la yasyba’, wa qalbin laa yakhsya’ – Aku berlindung kepada-Mu dari diri (nafs) yang tak pernah merasa puas dan dari perut yang tak pernah merasa kenyang, dan dari hati yang tidak khusyu’” 56]

Di dalam hati yang dipenuhi keyakinanlah khusyu’ bersemayam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,”Belum datangkah saatnya bagi orang-orang beriman untuk tunduk (khusyu’) hati mereka untuk mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun . Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS al-Hadiid [57] : 16)

‘Ali ibn Ibrahim al-Qumi di dalam tafsirnya mengatakan bahwa yang dimaksud an takhsya’ qulubihim adalah al-rahiba atau takut. 57]

Dengan kata lain, Allah menginginkan agar kita senantiasa dalam keadaan takut, selalu berdzikir kepada-Nya, serta melaksanakan semua perintah-perintah-Nya.

Ayat di atas merupakan teguran Allah kepada para sahabat Nabi, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Suyuthi di dalam kitabnya, Durr al-Mantsur, Suyuthi mengatakan,”Ketika sahabat-sahabat Nabi datang ke Madinah, mereka merasakan kenyamanan hidup dibandingkan dengan penderitaan yang mereka alami sebelumnya. Seakan-akan mereka menjadi lemah atas sebahagian kewajiban yang sepatutnya dilakukan sehingga mereka dihukum seperti yang tersurat dalam ayat ini. Di dalam riwayat lain bahwa Nabi saww mengatakan, bahwa Allah SWT melihat keengganan hati para Muhajirin walau setelah tujuh belas tahun dari turunnya ayat berikut,”Bukankah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman….” 58]

Ini menunjukkan keimanan saja tidak cukup, kita mesti terus berjalan, mendaki dan menempuh perjalanan ruhani demi mencapai keyakinan.

Seperti dalam ayat lainnya yang berkenaan dengan Nabi Zakariya dan isterinya as, Allah berfirman, “..dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap (raghaban) dan takut (rahaban), dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami” (QS al-Anbiya’ [21] ayat 90). Dari beberapa ayat tersebut, kita bisa mengetahui bahwa khusyu’ adalah sebuah keadaan hati yang senantiasa menyertai orang-orang yang taat kepada Tuhan, yang keadaan ini tidak hanya muncul di saat mereka melakukan ibadah-ibadah ritual saja.

Rasulullah saww di dalam sebuah hadits menyebutkan tanda-tanda khusyu’, beliau bersabda,”Ada pun tanda-tanda khusyu’ itu ada empat :(1) melaksanakan muraqabah kepada Allah di dalam keadaan sendirian mau pun di antara orang banyak, (2) berjalan atau berkendaraan dengan sopan, (3) senantiasa merenungkan (persiapannya) untuk Hari Qiyamat, dan (4) selalu bermunajat kepada Allah” 59]. Muraqabah diterapkan pada konsentrasi penuh waspada dengan segenap kekuatan jiwa, pikiran dan hati, serta pemeriksaan yang dengannya sang hamba mengawasi dirinya sendiri dengan cermat. Selama muraqabah-nya berlangsung, sang hamba mengamati bagaimana Allah maujud dengan jelas dalam kosmos dan dalam dirinya sendiri.

Kenikmatan spiritual lebih kuat dan lebih abadi ketimbang kenikmatan material. Kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang tulus beribadah kepada Allah dengan ibadah mereka yang khusyu’ adalah kenikmatan spiritual. Dalam bahasa agama, ke¬nikmatan spiritual digambarkan sebagai “Nikmat Iman” dan “Kelezatan Iman”. Rasanya iman lebih lezat ketimbang—dan melebihi—rasa-rasa yang lain.

Kenikmatan spiritual akan semakin bertambah bila kita berbuat bajik, misalnya menuntut ilmu pengetahuan, membantu orang atau makhluk lain, atau sukses melaksanakan tugas yang digerakkan oleh rasa keagamaan. Setiap perbuatan yang dilakukan karena Allah SWT, merupakan perbuatan ibadah dan mendatangkan kenikmatan. 60]

Seorang muslim sejati benar-benar berfokus pada Allah dalam pencariannya. la hanya menginginkan Allah dan berusaha mencapai tujuannya melalui penyerahan diri secara total dan khusyu’. Para pencinta Allah yang dilanda kerinduan yang mendalam bersedia meninggalkan apa saja untuk tujuan ini, tanpa peduli pada hal lain. Cara memulai hal ini adalah dengan percaya kepada Rasul dan risalahnya.

Diriwayatkan Imam Ali as berwasiat kepada sahabat setianya, Kumail ibn Ziyad, “Wahai Kumail! Bukanlah perkara penting itu bahwa kamu melakukan shalat, berpuasa, dan bersedekah! Akan tetapi perkara yang penting itu adalah bahwa kamu melakukan shalat dengan hati yang suci (al-naqi) dan melakukan perbuatan yang diridhai Allah disertai khusyu’, lurus dan damai” 61]

Semua amal-amal ibadah yang dilakukan tanpa hati yang bersih hanya akan menghasilkan kesia-siaan. Sebaliknya, walau kecil atau sedikit amal ibadah yang dilakukan seseorang, tetapi dilakukan dengan hati yang bersih, suci, lurus, damai, dan khusyu, niscaya akan mendatangkan ridha dan cinta-Nya.

Sekali lagi diriwayatkan bahwa Imam ‘Ali as mengatakan, “Tiada ibadah sebagaimana khusyu.” 62]

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

by Quito Riantori

About Pesantren Awliya

Sebuah Pesantren Baru yang konsen terhadap pemberdayaan masyarakat urban yang termarginalisasi oleh industri kapitalisme

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kebun Cinta

Arsip Artikel

Lembah al-Ghadir

SALAM BAHAGIA..!
Desa Pagerwangi Punclut Kecamatan Lembang - Bandung

Rekening Donasi

Bagi Bapak, Ibu dan Sahabat yang berkenan membantu kegiatan dakwah sosial kami & peningkatan konten blog, dapat berkontribusi ke:
Bank Mandiri Cabang DAGO
Norek: 131-00-0595266-0
a/n : Yayasan Awliya Bandung.
Saran-saran via SMS ke kami:
022-70578825

Blog Stats

  • 174,495 hits

Percikan Telaga

"Dunia adalah tempat ibadahnya para Nabi Allah dan tempat turunnya wahyu serta tempat shalatnya para malaikat, juga tempat berdagangnya para wali Allah."
[Imam Ali bin Abi Thalib]

Juru Kunci

Pengelolaan blog/site ini telah menggunakan perangkat lunak OPEN SOURCE (Linux Ubuntu 10.04 LST) .
%d blogger menyukai ini: