you're reading...
Uncategorized

Peristiwa Ghadir Khum: Argumen Keimamahan Yang Tak Terbantahkan

“Allah tidak meninggalkan sedikit pun argumen (hujjah) dan bantahan yang lebih kuat bagi siapa pun setelah peristiwa Ghadir Khum.” ~ Sayyidah Fathimah AS (*)

Sepanjang khotbah Rasulullah Saw di Ghadir Khum, beliau Saw menekankan bahwa khotbahnya itu telah melengkapi hujjah (argumen) Allah atas seluruh manusia sampai Hari Kiamat. Itulah sebabnya Putri Tercinta Rasul, Sayyidah Fathimah As juga menekankan hal yang sama seperti yang saya kutip di atas.

Dengan cara yang sama, Imam Ali As mengingatkan kaum Muhajirin dan kaum Anshar di Masjid Nabawi (setelah mereka berbaiat kepada Abu Bakar), akan hak eksklusif kepemimpinannya atas umat dan perjanjian mereka kepada Rasulullah Saw di Ghadir Khum. Beberapa orang Anshar berdalih kepada Imam Ali, “Wahai Abul Hasan! Andai saja kami, kaum Anshar, mendengar hujjah-hujjah Anda sebelum kami berbaiat kepada Abu Bakar, pastilah tak seorang pun dari kami yang tidak menyetujui perintah Anda.”

Dengan tegas Imam Ali As menjawab, “Apakah kalian menginginkan saya meninggalkan jasad suci Rasulullah yang sudah dikafani dibiarkan tidak dikuburkan, kemudian saya mendatangi kalian untuk berselisih demi kekuasaan? Demi Allah! Saya tak dapat memercayai siapa pun yang mendambakan kekuasaaan lalu menyelisihi kami, Ahlul Bait, lalu membuat alasan untuk membenarkan apa yang telah mereka lakukan. Saya tidak melihat Rasulullah Saw meninggalkan sedikit pun ruang untuk pembicaraan kontroversial, atau satu bantahan pun untuk khotbah beliau di Ghadir Khum.” [1]

Sayangnya, masih banyak orang yang meragukan keotentikan riwayat-riwayat Hadits Ghadir Khum, namun keraguan yang tidak disertai penelitian hanya akan menjadi penyakit hati. Saya pikir, terlalu banyak bukti2 otentik tentang keberadaan dan otentisitas hadits-hadits Ghadir Khum. [2]

Sebagian orang lainnya menerima dengan lapang dada keberadaan dan keotentikan hadits-hadits tersebut, namun tetap berkilah bahwa makna kata mawla di sana hanya bermakna sahabat. Argumen ini pun sangat lemah. Biasanya, jika satu kata mempunyai banyak makna, cara yang paling baik untuk memastikan konotasi yang benar adalah dengan melihat hubungan (qarinah ) dan konteksnya.

Ada 6 poin dari beberapa “hubungan” dalam hadits ini yang secara jelas menunjukkan bahwa makna yang paling sesuai dengan peristiwa di Ghadir Khum adalah makna : pemimpin.

Pertama : Satu pertanyaan yang dilontarkan Rasulullah Saw sebelum beliau membuat pernyataan, “Apakah aku lebih berwenang (awla) atas diri kalian ketimbang diri kalian sendiri?” Semua sahabat yang hadir serentak menjawab, “Betul kami bersaksi bahwa engkau lebih berwenang (awla) atas kami ketimbang diri kami sendiri” Lalu Nabi melanjutkan kata-katanya sambil mengangkat lengan Ali, “Siapa yang menjadikanku mawla, maka Ali adalah mawla-nya” Tidak diragukan lagi, kata mawla (yang memiliki wewenang) di dalam pernyataan Rasulullah ini sama dengan makna awla pada kalimat Nabi sebelumnya.

Sedikitnya, 64 perawi hadits meriwayatkan hadits ini, yang antara lain : Ahmad ibn Hanbal, Ibn Majah, an-Nasa’i dan at-Tirmidhi.

Kedua : Doa lainnya yang Rasulullah Saw ucapkan setelah pernyataan beliau ini adalah : “Ya Allah! Cintailah orang yang mencintai Ali, dan musuhilah orang yang memusuhi Ali, tolonglah orang yang menolong Ali, dan tinggalkanlah (abaikanlah) orang yang meninggalkan (mengabaikan) Ali”

Doa ini menunjukkan bahwa Ali, pada hari itu, dipercayakan dengan suatu tanggung jawab, yang secara alami, akan membuat beberapa orang menjadi musuhnya (mereka yg menolak wewenang yg diberikan Allah & RasulNya) , dan untuk menyelesaikan tanggung jawab ini Imam Ali membutuhkan penolong dan pendukung. Apakah penolong dibutuhkan untuk sebuah persahabatan?

Ketiga : Pernyataan Rasulullah Saw yang menyatakan bahwa : “Tampaknya aku akan segera dipanggil dan aku akan memenuhi (panggilan itu)” ini dengan jelas menunjukkan bahwa beliau sedang membuat persiapan untuk menetapkan suatu kepemimpinan sepeninggalnya.”

Keempat : Di dalam salah satu riwayat [3], Umar bin Khaththab mengucapkan selamat setelah diangkatnya Imam Ali As sebagai mawla seluruh kaum mukmin. Dan seandainya kata ‘mawla’ bermakna ‘sahabat’, maka kalimat ucapan selamat Umar bin Khaththab tersebut menjadi janggal : “Alangkah bahagianya Anda wahai Ali bin Abu Thalib, Anda telah menjadi sahabat setiap mukmin laki-laki maupun mukmin perempuan”. Lalu apakah sebelum peristiwa Ghadir Khum ini, Imam Ali menjadi musuh seluruh kaum Mukmin? [4]

Kelima : Menurut ayat (QS 5 : 67) : “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” yang diwahyukan sebelum pengumuman kepemimpinan (wilayah) Imam Ali as, Allah Swt telah memerintahkan sesuatu yang teramat penting dan berhubungan dengan Rasulullah Saw, yang jika tidak disampaikan akan membahayakan keseluruhan misi Islam.

Persoalan ini sedemikian signifikan bahwa Rasulullah merasa takut akan adanya gangguan penentangan, pengingkaran, dan perlawanan sehingga beliau tengah menanti momen yang tepat (aman) untuk menyampaikan amanah dari Allah Swt ini, sampai pada akhirnya tiba satu perintah Allah yang mendesak dan penting untuk melaksanakannya tanpa penundaan dan tanpa perlu rasa takut kepada siapa pun.

Keenam : Ayat ke 3 dari Surah Al-Maidah : “Pada hari ini orang-orang yg ingkar telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS 5 :3), yang diwahyukan segera setelah pengangkatan Imam Ali ini, menunjukkan bahwa sebelumnya orang-orang yg ingkar masih punya harapan bahwa suatu waktu Islam akan lenyap. Akan tetapi melalui aktualisasi peristiwa khusus ini (al-Ghadir), Allah membuat orang-orang ingkar kehilangan harapan selama-lamanya untuk menghancurkan Islam. Ayat ini juga menunjukkan bahwa peristiwa ini (al-Ghadir) merupakan peristiwa penyempurnaan Islam dan Allah melengkapi Rahmat-Nya atas manusia dengan peristiwa ini.

Karena sedemikian pentingnya, tentulah Ghadir Khum bukan sebuah peristiwa kecil atau kesempatan yang tak begitu penting seperti sebuah pengumuman dari perintah agama yang sederhana, atau suatu pengumuman bahwa Ali hanyalah seorang “kawan” atau “sahabat” Nabi Muhammad Saw.

SEBUAH PENDEKATAN RASIONAL

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat serasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan, dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih, lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min” [Al-Quran Surah al-Taubah [9] ayat 128]

Dengan gamblang, Allah Swt menyatakan bahwa Rasulullah Saw memiliki rasa cinta dan kasih sayang yang sedemikian dalam kepada umat manusia. Beliau senantiasa berusaha memastikan kesejahteraan, keamanan dan kenyamanan para pengikutnya, dan tak pernah memiliki keinginan untuk memaksakan kehendak-kehendak pribadinya, juga tak pernah membebani seseorang di luar kemampuannya.

Bahkan beliau sangat dikenal beberapa kali memendekkan shalatnya segera setelah mendengar suara tangisan bayi. Adalah mustahil menyimpulkan bahwa Nabi mulia yang diutus “sebagai Rahmat atas semesta alam ini” (Rahmatan Lil alamiin) telah memerintahkan kepada para pengikut, sahabat-sahabatnya untuk duduk di atas gurun pasir yang panas tanpa ada tempat berlindung dari sengatan terik matahari, berjam-jam lamanya, hanya untuk mengatakan bahwa ‘Ali ibn Abi Talib adalah “sahabat”-nya.”

 Seperti klaim yang lebih absurd dari ini adalah bahwa peristiwa Ghadir ini semata-mata ingin meninggikan kedudukkan Ali yang lebih utama dari sahabat-sahabat Nabi lainnya. [5]

Memang tak bisa dipungkiri lagi bahwa Peristiwa Ghadir Khum merupakan hujjah yang tak lagi dapat dibantah, seperti yang telah diutarakan oleh sebaik-baik wanita sepanjang zaman, Fathimah al-Shiddiqah As di atas. Semoga Allah Swt memberikan syafa’at-Nya kepada kita melalui beliau. Amin ya Ilahi…

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

Ito Motinggo,

Desember 2006, Cipedak, Jakarta Selatan.

Source :  Quito Riantori on Wednesday, November 24, 2010 at 12:41pm

______________________________________

Catatan Kaki

(*), Dala’il al-Imamah, hlm. 38 ; al-Khisal, Jil. 1, hlm. 173; Bihar al-Anwar, Jil. 30, hlm. 124.

 [1] Vahid Majd, The Sermon of Prophet Muhammad PBUH & HF at Ghadir Khum hlm. 17-18, al- Ihtijaj, Jil. 1, hlm. 74; Bihar al-Anwar, Jil. 28, hlm. 185.

 [2] Jika Anda masih meragukan otentisitas atau tingkat mutawatir hadits-hadits al-Ghadir, saya anjurkan Anda membuka situs ini: http://www.al-islam.org/ghadir/. Sebuah Situs khusus yang memuat data yang teramat lengkap tentang semua hal yang berkaitan dengan peristiwa Ghadir Khum.

[3] Peristiwa ini diriwayatkan oleh al-Daruquthni yang tercantum dalam kitab Sawaiq al-Muhriqah

hal.26, dan Ahmad bin Hanbal di dalam Musnad-nya 2:325

 [4] Al-Mujtaba Islamic Articles, Ghadeer Khumm and Orientalists.

[5] Thaqalayn Muslim Association, What Happen at Ghadeer Khumm at Glance.

About Pesantren Awliya

Sebuah Pesantren Baru yang konsen terhadap pemberdayaan masyarakat urban yang termarginalisasi oleh industri kapitalisme

Diskusi

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Happy Eid Ghadir « - 25 November 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kebun Cinta

Arsip Artikel

Lembah al-Ghadir

SALAM BAHAGIA..!
Desa Pagerwangi Punclut Kecamatan Lembang - Bandung

Rekening Donasi

Bagi Bapak, Ibu dan Sahabat yang berkenan membantu kegiatan dakwah sosial kami & peningkatan konten blog, dapat berkontribusi ke:
Bank Mandiri Cabang DAGO
Norek: 131-00-0595266-0
a/n : Yayasan Awliya Bandung.
Saran-saran via SMS ke kami:
022-70578825

Blog Stats

  • 174,495 hits

Percikan Telaga

"Dunia adalah tempat ibadahnya para Nabi Allah dan tempat turunnya wahyu serta tempat shalatnya para malaikat, juga tempat berdagangnya para wali Allah."
[Imam Ali bin Abi Thalib]

Juru Kunci

Pengelolaan blog/site ini telah menggunakan perangkat lunak OPEN SOURCE (Linux Ubuntu 10.04 LST) .
%d blogger menyukai ini: