you're reading...
Uncategorized

Fatwa Imam Khamenei tentang Penentuan Awal Ramadhan

Metode-metode untuk menentukan awal bulan terdiri dari:
1. Rukyat (melihat bulan) dari mukalaf sendiri
2. Kesaksian dari dua orang adil tentang terlihatnya hilal
3. Kemasyhuran (opini umum tentang terlihatnya hilal) yang menimbulkan keyakinan dan pengetahuan
4. Berlalunya tiga puluh hari
5. Keputussan dari Hakim Syar’i (Ajwibah al-Istifta’at, No. 848) 

Berikut beberapa penjelasan penting seputar penentuan awal bulan Ramadhan
• Tolok ukur dari penentuan awal bulan adalah hilal (bulan sabit) yang terbit setelah matahari terbenam, yang memungkinkan untuk dapat dilihat sebelum tenggelam. Karena itu, hilal yang tenggelam sebelum tenggelamnya matahari atau bersamaan dengan tenggelamnya matahari dianggap tidak mencukupi. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 834)
• Tidak ada perbedaan antara rukyat dengan menggunakan peralatan dan rukyat biasa, keduanya bisa diakui kebenarannya. Tolok ukurnya adalah bahwa hal tersebut dapat dikatakan sebagai perbuatan rukyat (melihat). Karenanya, hukum rukyat dengan mata (telanjang) dan rukyat dengan kacamata dan sebagainya adalah sama. Memang, pengambilan gambar hilal dengan menggunakan alat komputer dan sarana-sarana semacamnya yang tidak dapat dipastikan sebagai perbuatan rukyat adalah bermasalah (isykal). (Ajwibah al-Istifta’at, No. 835).
• Istihlal (melihat hilal) secara sendirinya bukanlah merupakan kewajiban syar’i. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 847)
• Hanya karena kecil dan rendahnya hilal atau besar dan tingginya dan sebagainya, tidak dapat dianggap sebagai bukti malam pertama atau kedua, tetapi bila dengan hal tersebut mukalaf mendapatkan keyakinan terhadap sesuatu maka dia harus bertindak sesuai dengan keyakinannya dalam masalah ini. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 845 dan 846)
• Awal bulan tidak bisa dibuktikan melalui kalender dan perhitungan ilmiah para ahli perbintangan kecuali bila perkataan mereka menimbulkan keyakinan. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 834, 848)
• Bila pada sebuah kota telah dibuktikan awal bulan maka hal ini dianggap mencukupi untuk kota-kota lain yang berdekatan dengannya, demikian juga untuk kota-kota terpencil yang memiliki satu ufuk. Bila di sebelah timur sebuah negara telah terlihat bulan maka hal ini telah dianggap mencukupi untuk orang-orang yang berada di sebelah barat dari kota tersebut (misalnya awal bulan telah terbukti di kota Masyhad, tentu saja hal ini telah mencukupi bagi orang-orang yang berada di kota Teheran, tetapi sebaliknya tidaklah mencukupi). (Ajwibah al-Istifta’at, No. 837, 838 dan 840)
• Yang dimaksud dengan kesatuan ufuk adalah kota-kota yang berada dalam satu garis bujur. Karena itu bila dua kota berada dalam satu garis bujur (yang dimaksud garis bujur di sini adalah dalam istilah astronomi [perbintangan]) berarti mereka berada dalam satu ufuk. Secara global, perbedaan antara ufuk dua kota dapat menyebabkan hilal bisa dilihat di satu kota dan tidak bisa dilihat di kota lainnya, karena itulah rukyat di kota sebelah barat tidak cukup bagi para penduduk di kota sebelah timur yang masa terbenamnya matahari berlangsung lebih cepat daripada barat, namun tidak demikian dengan sebaliknya. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 837, 839 dan 840)
• Hanya dengan terbuktinya kemunculan hilal bagi seorang hakim tidaklah mencukupi untuk diikuti oleh orang lain selama hakim belum memutuskannya, kecuali jika ia (selain hakim) memiliki keyakinan terhadap kemunculan hilal. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 843)
• Bila seseorang melihat hilal bulan dan mengetahui bahwa rukyat hilal untuk hakim syar’i di kota tempat tinggalnya tidak memungkinkan dari segala sisi, maka tidak ada kewajiban baginya untuk memberitahukan rukyat hilal ini kepada hakim syar’i, kecuali jika dengan meninggalkan hal tersebut akan menimbulkan dampak-dampak yang negatif (mafsadah). (Ajwibah al-Istifta’at, No. 842)
• Jika hakim memutuskan (mengeluarkan hukum) bahwa besok adalah hari raya dan hukum ini berlaku untuk seluruh penjuru negeri, maka hukum ini secara syar’i berlaku untuk seluruh kota dalam satu negara. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 844).
• Dalam mengikuti pengumuman rukyat hilal melalui suatu pemerintah, tidak disyaratkan keislamannya pemerintahan tersebut, melainkan tolok ukurnya dalam kasus ini adalah dihasilkannya kemantapan dan keyakinan yang cukup terhadap rukyat di wilayah tempat tinggal mukalaf. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 849).
• Bila hilal bulan tidak bisa dilihat dari suatu kota tetapi televisi dan radio menyiarkan keadaan tersebut, jika hal ini mampu menghasilkan keyakinan terhadap kemunculan hilal atau dikeluarkannya hukum tentang hilal dari wali fakih, maka hal tersebut telah dianggap mencukupi dan tidak memerlukan penelitian. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 836).
• Bila awal bulan tidak bisa dibuktikan melalui rukyat hilal bahkan di ufuk kota-kota berdekatan yang memiliki satu ufuk atau dari kesaksian dua orang adil atau dari hukum hakim, maka mukalaf wajib untuk melakukan ihtiyath hingga awal bulan terbukti. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 837).
• Bila awal bulan Ramadan belum terbukti, maka tidak ada kewajiban untuk melakukan puasa. Tetapi bila kemudian terbukti bahwa hari itu merupakan awal bulan Ramadan, maka dia wajib untuk mengkadanya. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 846).
• Hari ketika seseorang ragu [apakah hari itu] merupakan hari terakhir bulan Ramadan ataukah awal bulan Syawal, maka dia wajib untuk berpuasa. Tetapi bila pada pertengahan hari diketahui ternyata hari tersebut adalah awal bulan Syawal, maka dia harus melakukan ifthar (berbuka), meskipun telah mendekati magrib. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 846)

(Dicopas dari DARAS FIKIH, terbitan ALHUDA)  dr/ M. Labib’s Note

About Pesantren Awliya

Sebuah Pesantren Baru yang konsen terhadap pemberdayaan masyarakat urban yang termarginalisasi oleh industri kapitalisme

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kebun Cinta

Arsip Artikel

Lembah al-Ghadir

SALAM BAHAGIA..!
Desa Pagerwangi Punclut Kecamatan Lembang - Bandung

Rekening Donasi

Bagi Bapak, Ibu dan Sahabat yang berkenan membantu kegiatan dakwah sosial kami & peningkatan konten blog, dapat berkontribusi ke:
Bank Mandiri Cabang DAGO
Norek: 131-00-0595266-0
a/n : Yayasan Awliya Bandung.
Saran-saran via SMS ke kami:
022-70578825

Blog Stats

  • 174,687 hits

Percikan Telaga

"Dunia adalah tempat ibadahnya para Nabi Allah dan tempat turunnya wahyu serta tempat shalatnya para malaikat, juga tempat berdagangnya para wali Allah."
[Imam Ali bin Abi Thalib]

Juru Kunci

Pengelolaan blog/site ini telah menggunakan perangkat lunak OPEN SOURCE (Linux Ubuntu 10.04 LST) .
%d blogger menyukai ini: