<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pondok Awliya Bandung</title>
	<atom:link href="http://pesantrenawliya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pesantrenawliya.wordpress.com</link>
	<description>Gerbang Jalan Kesucian</description>
	<lastBuildDate>Wed, 30 May 2012 19:44:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pesantrenawliya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Pondok Awliya Bandung</title>
		<link>http://pesantrenawliya.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pesantrenawliya.wordpress.com/osd.xml" title="Pondok Awliya Bandung" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pesantrenawliya.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kapan Harus Beristikharah?</title>
		<link>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/31/kapan-harus-beristikharah/</link>
		<comments>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/31/kapan-harus-beristikharah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 May 2012 19:44:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pesantren Awliya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pesantrenawliya.wordpress.com/?p=1371</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Kondisi Seperti Apa Seseorang Harus Melakukan Istikharah? Mungkinkah seseorang menyerahkan nasibnya kepada istikharah dan memastikan tugasnya dengan cara mencari peruntungan nasib melalui al-Quran atau tasbih? Menjawab pertanyaan ini perlu memperhatikan dua hal; Pertama, “istikharah” dalam bahasa berarti “memohon kebaikan kepada Allah”, Tuhan yang alam semesta berada di bawah kekuasaannya, Pencipta yang nasib semua makhluk &#8230; <a href="http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/31/kapan-harus-beristikharah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1371&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/munajad.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1372" title="Munajad" src="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/munajad.jpg?w=300&h=202" alt="" width="300" height="202" /></a>Dalam Kondisi Seperti Apa Seseorang Harus Melakukan Istikharah?</p>
<p>Mungkinkah seseorang menyerahkan nasibnya kepada istikharah dan memastikan tugasnya dengan cara mencari peruntungan nasib melalui al-Quran atau tasbih?<span id="more-1371"></span></p>
<p>Menjawab pertanyaan ini perlu memperhatikan dua hal;</p>
<p>Pertama, “istikharah” dalam bahasa berarti “memohon kebaikan kepada Allah”, Tuhan yang alam semesta berada di bawah kekuasaannya, Pencipta yang nasib semua makhluk hidup berasal dari-Nya dan yang mampu menunjukkan hamba-Nya kepada kebaikan.</p>
<p>Makna istikharah semacam ini berarti ketika seseorang mau melakukan satu pekerjaan berarti ia telah terlebih dahulu menyiapkan segala yang diperlukan secara detil dan menghindari segala hal yang akan merugikannya. Setelah itu ia memohon kepada Allah dengan sepenuh hati agar keinginannya itu dapat terealisasi, memberikan keuntungan dan kebaikan kepadanya. Sederhananya, ketika seseorang memulai satu pekerjaan besar dan akibatnya tidak jelas, maka setelah menyiapkan hal-hal yang diperlukan, maka ia harus memohon kepada Allah agar memberikan kebaikan kepadanya dari segala sisi dan menunjukinya pada tujuan yang dikehendaki.</p>
<p>Ini adalah istikharah yang bermakna memohon kebaikan kepada Allah. Dan banyak riwayat sahih dan masyhur terkait masalah ini. Istikharah seperti ini tidak memerlukan al-Quran dan tasbih, tapi hanya cukup dengan konsentrasi jiwa dan ini bisa dilakukan berkali-kali dalam sehari.</p>
<p>Ada riwayat yang mengatakan, “Maa istakhaarallaaha Abdun Mu’minun Illaa Khaarallaahu lahu”. Artinya, “Tidak ada seorang hamba mukmin yang meminta kebaikan kepada Allah, kecuali Allah pasti memberikan kebaikan kepadanya.” Hasil dari istikharah semacam ini bukan berarti seseorang menghilangkan keraguannya dengan perantara istikharah. Akan tetapi tujuan dari istikharah adalah setelah melakukan hal-hal yan diperlukan dengan baik dan setelah itu, ia memohon kebaikan dan keuntungan kepada Allah. Jelas, bahwa tidak seorang mukmin pun yang mengingkari pengaruh kehendak dan pertolongan Allah dalam setiap urusan dan tidak meragukan keluasan kekuasaan-Nya. Perhatian ini bisa memberikan kekuatan dan kemampuan kepada seorang mukmin untuk bertahan dan dalam menghadapi segala kesulitan dan tetap maju dengan bersandar dan bertawakal kepada kekuatan ilahi yang abadi.</p>
<p>Kedua, terkait masalah istikharah yang sudah menjadi kebiasaan saat ini, maka harus dijelaskan bahwa masalahnya tidak seperti yang dipertanyakan. Yakni, seseorang menyerahkan nasibnya kepada tasbih, tapi sebelum istikharah ia harus memperhatikan hal-hal berikut ini:</p>
<p>1. Menggunakan akal dan pikiran.</p>
<p>Allah telah memberikan nikmat kepada hamba-Nya berupa akal. Dalam banyak hal, akal mampu membedakan akibat sebuah pekerjaan baik dari sisi keuntungan maupun kerugian. Akal mampu membedakan kebaikan antara mengerjakan dan meninggalkan sebuah pekerjaan. Terkait masalah ini seseorang sama sekali tidak membutuhkan istikharah dengan al-Quran dan tasbih.</p>
<p>2. Bermusyawarah dengan orang-orang yang mengetahui.</p>
<p>Islam sangat memperhatikan masalah musyawarah dan menganggapnya sebagai tanda keimanan. Al-Quran menyebutkan, “Wa Amruhum Syuura Bainahum” yang artinya “Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antara mereka (Syura: 38). Allah juga memerintahkan Rasulullah Saw untuk bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya dalam urusan-urusan penting. “Wa Syaawirhum Filamri” artinya “Bermusyawarahlah dengan mereka” (Ali Imran: 159). Dengan demikian, ketika orang-orang yang bepengalaman memberikan pendapat yang jelas, maka tidak perlu lagi melakukan istikharah.</p>
<p>Namun ketika akal manusia itu sendiri mengalami ketidakjelasan dan tetap mengalami kebuntuhan meski dengan musyawarah, dengan sendirinya ia akan mengalami dilema dan akan larut dalam keraguan. Dalam kondisi ini, ia tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dan senantiasa dalam kegelisahan.</p>
<p>Pada saat itu istikharah dengan al-Quran dan tasbih, maka faedah pertamanya adalah menghilangkan dilema dan ketidakpastian seseorang. Menjauhkan seseorang dari keraguan dan ketidakpastian yang mengganggu jiwanya. Pada saat itu istikharah berarti memohon kepada Allah untuk menunjukkan kebaikan untuk dirinya. Kini seorang hamba telah menutup semua pintu untuk dirinya dan hanya memohon kepada Allah dengan sepenuh hati dan keikhlasan untuk menunjukkan jalan yang terbaik untuk dirinya apakah ia harus mengerjakan atau meninggalkan pekerjaan yang dimaukannya.</p>
<p>Tentu saja perhatian kepada Allah dengan niat yang ikhlas dalam kondisi seperti ini sangat bepengaruh. Apa salahnya Allah menunjukkan kebaikan untuk dirinya melalui istikharah? Katakan saja seandainya orang yang mengalami dilema dan keraguan ini tidak melakukan istikharah, apakah ia bisa membebaskan dirinya dari dua pilihan antara mengerjakan atau meninggalkan pekerjaan yang dimaukannya? Jawabannya tentu tidak. Pada akhirnya, dalam kondisi seperti ini ia harus memilih salah satu, melakukannya atau meninggalkannya. Akan lebih baik lagi bila seseorang mengalami dilema dan keraguan, ia menghadap kepada Allah dengan penuh konsentrasi jiwa lalu memohon kepada-Nya untuk memastikan kebaikan untuknya melalui istikharah. Tentu saja dengan cara ini ia akan lebih yakin dalam memilih dan lebih tenang dalam melanjutkannya ini sangat mempengaruhi kesuksesannya. (IRIB Indonesia/ENH)</p>
<p>Sumber: Pasokh Be Porsesha-ye Mazhabi, karya Ayatullah Makarim Shirazi dan Ayatullah Ja’far Subhani.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pesantrenawliya.wordpress.com/1371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pesantrenawliya.wordpress.com/1371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pesantrenawliya.wordpress.com/1371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pesantrenawliya.wordpress.com/1371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1371/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1371&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/31/kapan-harus-beristikharah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6af0a76276b7af4afce2a553cf6b4a23?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pesantrenawliya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/munajad.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Munajad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AGAMA MENURUT IBN ARABI</title>
		<link>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/24/agama-menurut-ibn-arabi/</link>
		<comments>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/24/agama-menurut-ibn-arabi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 May 2012 01:42:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pesantren Awliya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pesantrenawliya.wordpress.com/?p=1366</guid>
		<description><![CDATA[Meski menganggap bahwa semua agama adalah kebenaran, namun Ibn ’Arabi berpendapat bahwa agama yang paripurna dan serba mencakup adalah agama Islam. Agama-agama lain diturunkan sesuai dengan konteks zaman dan kaum yang kepadanya agama itu diturunkan. Tidak demikian halnya dengan agama Islam. Agama terakhir, yang dibawa oleh Nabi terakhir, ini telah mencakup kesemua agama terdahulu. ”Semua &#8230; <a href="http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/24/agama-menurut-ibn-arabi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1366&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/al-khamsah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1369" title="Al-Khamsah" src="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/al-khamsah.jpg?w=218&h=300" alt="" width="218" height="300" /></a>Meski menganggap bahwa semua agama adalah kebenaran, namun Ibn ’Arabi berpendapat bahwa agama yang paripurna dan serba mencakup adalah agama Islam. Agama-agama lain diturunkan sesuai dengan konteks zaman dan kaum yang kepadanya agama itu diturunkan. Tidak demikian halnya dengan agama Islam. Agama terakhir, yang dibawa oleh Nabi terakhir, ini telah mencakup kesemua agama terdahulu.</p>
<p>”Semua agama wahyu (sharai’) adalah cahaya. Di antara agama-agama ini, agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw adalah seperti cahaya matahari di antara cahaya bintang-bintang lain.<span id="more-1366"></span></p>
<p>Ketika matahari muncul, cahaya bintang-bintang lain akan tersembunyi dan cahaya tercakup dalam cahaya matahari. Ketersembunyian ini adalah seperti pe-nasakh-an agama-agama lain itu melalui (kehadiran) agama yang diwahyukan kepada Muhammad. Sekalipun demikian, agama-agama itu sebenarnya tetap eksis, sebagaimana cahaya-cahaya bintang (tetap) terpancar. Hal ini menjelaskan mengapa dalam agama serba-inklusif kita, kita diwajibkan untuk percaya pada kebenaran semua rasul dan semua agama yang diwahyukan. Semua agama tersebut tidak menjadi batal dengan adanya penghapusan (nasakh) – itu adalah pendapat orang bodoh. Yang benar adalah, berbagai syari’ah itu semuanya bermuara pada syari’ah Nabi. ”</p>
<p>Menurut sang Syaikh, sebelum turun ke alam tajalliy, syari’at adalah tunggal. Baru ketika berada di alam ciptaan, dan terikat oleh zaman, masyarakat, dan lokasi-geografis, ia menjadi beragam sejalan dengan kekhasan misi dan risalah masing-masing nabi.</p>
<p>Pandangan Ibn ‘Arabi tentang posisi Islam di tengah agama-agama lain ini terkait erat dengan gagasannya tentang Nur Muhammadi atau Haqiqah Muhammadiyah, sebagai ciptaan pertama yang mencakup tajalliy sempurna (yang mungkin) dari Allah. Nah keberadaan para Nabi sesungguhnya mengambil bagian dalam Nur Muhammadi ini. Dalam konteks ini, Ibn ‘Arabi memahami bahwa syari’at Muhammad bukanlah hanya penyempurna bagi syari’at-syari’at terdahulu. Yang lebih penting adalah bahwa sesungguhnya keberadaan syari’at-syari’at terdahulu adalah bagian dari upaya merealisasikan syari’at Muhammad, dalam konteks zaman dan masyarakat yang di dalamnya para Nabi, sebelum Muhammad, diutus. Dengan kata lain, syari’at-syari’at terdahulu adalah manifestasi kontekstual dari syari’at Nabi Muhammad, yang disebutnya sebagai “syari’at penuh rahmat”.</p>
<p>Di tempat lain Ibn ’Arabi mengutip sabda Nabi Muhammad saw:</p>
<p>“Nabi Isa (Jesus) pun, seandainya turun sekarang ini, niscaya tidak akan mengimami kita kecuali dengan mengikuti sunnah kami, dan tidak akan memutuskan suatu perkara kecuali dengan syari`ah kami.”</p>
<p>Akhirnya, setiap tulisan tentang gagasan Ibn ‘Arabi tentang agama-agama tak akan lengkap tanpa membahas sebuah cuplikan sya’ir Ibn ‘Arabi, yang sering dimaknai sebagai sikap sang Syaikh untuk menyamakan semua agama.</p>
<p>“Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk (forma); ia merupakan padang-rumputnya menjangan, biaranya para rahib, rumahnya berhala, ka`bah tempat orang bertawaf, sabaknya Taurat, dan mushafnya al-Qur’an. Agamaku adalah agama cinta, yang kuikuti kemana pun langkahnya; itulah agama dan keimananku:”</p>
<p>Berdasarkan puisi ini, Seyyed Hosein Nasr, misalnya, menyimpulkan bahwa Ibn Arabi  “menyadari bahwa syari’at-syari’at yang diturunkan Tuhan adalah menuju ke puncak/tujuan-akhir yang sama.” Pernyataan Nasr bisa dibenarkan dalam makna bahwa semua agama memang memanifestasikan kebenaran, seperti diuraikan di atas. Tapi, adalah Islam yang merupakan perwujudan paling sempurna dan meliputi dari “kemauan” Tuhan di alam pasca tajalliy-Nya. Meski agama-agama lain juga didasarkan pada cinta, tapi adalah Islam yang paling tepat disebut sebagai agama cinta. Selain didukung oleh gagasan umumnya tentang agama-agama, hal ini dipertegas oleh pernyataan Ibn ‘Arabi sendiri dalam dalam Dzakha’ir al-A‘laq (syarah Tarjuman al-Asywaq), bahwa bahwa `agama cinta’ yang ia maksud – melampaui kebenaran agama-agama lain &#8212; ialah agama Nabi Muhammad. Hal ini dipertegas dengan rujukannya kepada firman Allah dalam al-Quran : “Katakanlah (hai Muhammad), kalau kalian betul-betul mencintai Allah, maka ikutilah aku –niscaya Allah akan mencintai kalian.” (QS. 2 :31) [Islam-Indonesia]</p>
<p>Oleh : <strong>Haidar Bagir</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pesantrenawliya.wordpress.com/1366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pesantrenawliya.wordpress.com/1366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pesantrenawliya.wordpress.com/1366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pesantrenawliya.wordpress.com/1366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1366/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1366&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/24/agama-menurut-ibn-arabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6af0a76276b7af4afce2a553cf6b4a23?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pesantrenawliya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/al-khamsah.jpg?w=218" medium="image">
			<media:title type="html">Al-Khamsah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fathimah, Teladan Sepanjang Sejarah</title>
		<link>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/16/fathimah-teladan-sepanjang-sejarah/</link>
		<comments>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/16/fathimah-teladan-sepanjang-sejarah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 21:36:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pesantren Awliya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pesantrenawliya.wordpress.com/?p=1361</guid>
		<description><![CDATA[Fathimah as adalah poros bagi kehidupan rumah tangga dan keluarga yang baik dan ideal. Siapa saja yang menengok ke rumah ini dapat menjadikannya sebagai teladan untuk membangun sebuah kehidupan yang terhormat dan indah. Hal yang paling menonjol dalam kehidupan Fathimah adalah kemampuannya menghubungkan kehidupan individu, sosial dan keluarga. Beliau pun tampil sebagai sosok pekerja keras, &#8230; <a href="http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/16/fathimah-teladan-sepanjang-sejarah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1361&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table width="100%" border="0">
<tbody>
<tr>
<td align="left" valign="top">
<div><strong><br />
</strong></div>
<table width="98%" border="1" cellpadding="10" align="center" bgcolor="eef3f3">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>Fathimah as adalah poros bagi kehidupan rumah tangga dan keluarga yang baik dan ideal. Siapa saja yang menengok ke rumah ini dapat menjadikannya sebagai teladan untuk membangun sebuah kehidupan yang terhormat dan indah. Hal yang paling menonjol dalam kehidupan Fathimah adalah kemampuannya menghubungkan kehidupan individu, sosial dan keluarga. Beliau pun tampil sebagai sosok pekerja keras, rela berkorban dan pejuang sejati.</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div align="left">
<p><span id="more-1361"></span><a href="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/199172_m.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1364" title="199172_m" src="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/199172_m.jpg?w=750" alt=""   /></a>Hari in (20 Jumadil Tsani) adalah hari kelahiran Fathimah, buah cinta dua sosok insan yang mulia, Rasulullah Saw dan istrinya, Khadijah as. Atas kehendak Allah, saat melahirkan putrinya ini, Khadijah dibantu oleh beberapa wanita yang didatangkan Allah dari surga. Bayi yang mulia itupun dimandikan dengan air telaga Kautsar lalu dibalut di sehelai kain yang menebar aroma lebih wangi dari kesturi. Atas perintah Allah, Nabi Saw memberinya nama Fathimah. Bagi beliau, kelahiran Fathimah meniupkan angin sejuk surgawi sementara bagi sang ibu putri ini adalah hadiah pemberian Allah yang telah mengusir segala kegundahan dan kesedihan dari hatinya.Ahmad bin Khalil Jum&#8217;ah, dalam bukunya berjudul ‘Nisaau Ahlil Bait ‘ menulis demikian:</p>
<p>&#8220;Setiap kali keutamaan ditempatkan dalam satu keranjang yang diiringi dengan semerbak aroma yang wangi murni maka nama yang layak diberikan kepadanya adalah Fathimah Zahra. Bagaimana mungkin orang bisa menuliskan semua keutamaan dan kemuliaan Penghulu Wanita Surga dalam satu buku? Ketika ingin membaca keutamaan Fathimah Zahra dan mengambil manfaat dari wewangi segar sirah dan kisah hidupnya, aku menemukan diriku berada di sebuah taman yang menebar kesegaran, indah dan penuh berkah, yang tak mungkin jiwa manusia merasa letih atau hati merasa jenuh karenanya. Di taman itu aku menyaksikan seluruh sifat-sifat mulia dan istana-istana indah yang dibangun oleh Fathimah dengan keutamaan dan keagungannya.&#8221;</p>
<p>Suatu hari Rasulullah Saw memanggil Fathimah dan bersabda, &#8220;Putriku, Ali, anak pamanmu datang meminangmu. Bersediakah engkau menikah dengannya?&#8221; Fathimah berdiam tersipu dan nampak keringat membasahi dahinya. Dengan kepala menunduk dia berkata, &#8220;Apa pendapat ayah?&#8221; Nabi Saw menjawab, &#8220;Allah telah mengizinkannya.&#8221; Fathimah dengan tetap menundukkan kepala menjawab, &#8220;Aku ridha dengan apa yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya.&#8221;<br />
Persiapan sederhana untuk membangun rumah tanggapun disiapkan. Malam pernikahan, Fathimah dibawa menghadap Nabi Saw. Utusan Allah itu membuka tabir penutup kepala putrinya supaya Ali, sang mempelai pria dapat melihat wajah istrinya. Lalu Nabi meletakkan tangan Fathimah di tangan Ali dan bersabda, &#8220;Wahai Ali, Fathimah adalah istri yang baik untukmu.&#8221; Kepada Fathimah, Nabi bersabda, &#8220;Putriku, Ali adalah sebaik-baik suami.&#8221; Demikianlah kisah ringkas dari pernikahan Fathimah dan Ali. Mereka tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana namun penuh keceriaan dan kasih sayang.</p>
<p>Fathimah as adalah poros bagi kehidupan rumah tangga dan keluarga yang baik dan ideal. Siapa saja yang menengok ke rumah ini dapat menjadikannya sebagai teladan untuk membangun sebuah kehidupan yang terhormat dan indah. Hal yang paling menonjol dalam kehidupan Fathimah adalah kemampuannya menghubungkan kehidupan individu, sosial dan keluarga. Beliau pun tampil sebagai sosok pekerja keras, rela berkorban dan pejuang sejati.</p>
<p>Salah satu keistimewaan rumah tangga beliau adalah ketiadaan kebodohan di dalamnya. Rumah yang seperti ini tentu mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan. Dengan kata lain, seluruh anggota keluarga Fathimah adalah sosok-sosok manusia yang mendapat anugerah kesempurnaan akal. Kesan pertama dan utamanya adalah penghambaan kepada Allah menjadi landasan paling mendasar dalam hubungan di antara mereka. Ibu rumah tangga di keluarga ini adalah sosok wanita yang tenggelam dalam cinta Ilahi kala beribadah dan bermunajat dengan Allah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa putra dari wanita suci ini berkata, &#8220;Setiap kali ibuku selesai beribadah beliau nampak dikelilingi oleh cahaya yang terang benderang.&#8221;</p>
<p>Dalam doanya, Fathimah as)berkata, &#8220;Ya Allah, berilah kesempatan kepadaku untuk mengerjakan apa saja yang karenanya Engkau menciptakanku dan jangan Engkau sibukkan aku dengan hal-hal selain itu.&#8221; (Bihar al-Anwar: 92/ 402)</p>
<p>Dalam kehidupan rumah tangganya dengan Ali bin Abi Thalib as, tak ada tanda-tanda yang mengarah kepada persaingan dan egoisme di antara mereka. Keduanya sama-sama memikul tanggung jawab yang besar. Sebagai ayah yang bijak, Rasulullah Saw mengusulkan pembagian tugas di antara putri dan menantunya, dan diputuskan pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab Fathimah dan tugas di luar dipikulkan ke pundak Ali. Fathimah mengungkapkan perasaannya tentang pembagian tugas ini dan mengatakan, &#8220;Selain Allah, tak ada yang mengetahui kegembiraanku dengan pembagian tugas ini. Sebab, Rasulullah telah mencegahku melakukan apa yang menjadi pekerjaan orang laki-laki.&#8221; (Bihar al-Anwar: 43/ 81)</p>
<p>Fathimah tahu benar bahwa perempuan tidak wajib melakukan pekerjaan rumah dan suamipun tidak berhak menyamakan istrinya dengan pembantu. Akan tetapi kehangatan hubungan, pengorbanan, keakraban dan pemahaman yang benar tentang kehidupan akan meringankan beban menanggung kesulitan hidup. Di rumah yang sederhana, Fathimah as telah mendidik anak-anaknya yang oleh sejarah diakui sebagai manusia-manusia terbaik. Beliau bersama dengan suaminya menempatkan diri sebagai teladan bagi anak-anak mereka. Kepada putra sulungnya, Hasan, Fathimah pernah berkata, &#8220;Hasan anakku, jadilah engkau seperti ayahmu, belalah kebenaran, sembahlah Allah, Tuhan yang Maha Pengasih dan Pemberi kebaikan, dan janganlah engkau bergaul dengan orang-orang pendendam.&#8221;<br />
Fathimah adalah sosok wanita dengan kefakiran yang menjadi tetangga terdekatnya. Meski secara materi hidup dalam kesusahan, namun hal itu tak pernah mampu menundukkan kebesaran jiwanya sebagai orang yang dermawan. Ibnu Syahr Asyub berkata;</p>
<p>Suatu hari Ali bertanya kepada Fathimah, adakah sesuatu yang bisa dimakan di rumah? Fathimah menjawab, &#8220;Demi Allah, sudah dua hari ini aku dan anak-anakku menahan lapar.&#8221; Alipun terkejut dan berkata, &#8220;Mengapa engkau tidak memberitahuku supaya aku bisa menyediakan sesuatu untuk kalian?&#8221; Fathimah menjawab, &#8220;Aku malu kepada Allah untuk meminta sesuatu darimu yang tidak bisa kau penuhi.&#8221; Ali segera meninggalkan rumah dan meminjam uang satu dinar dari seseorang untuk membeli keperluan rumah. Di tengah jalan, beliau berpapasan dengan seorang sahabat yang terlihat pucat dan kebingungan. Beliau bertanya, &#8220;Apa yang membuatmu gelisah seperti ini?&#8221; Dia menjawab, &#8220;Aku tak mampu mendengar suara tangis anak-anakku yang kelaparan.&#8221; Mendengar itu, Ali menyerahkan uang satu dinar tadi kepada orang tersebut.</p>
<p>Kemuliaan dan keagungan Fathimah diakui oleh semua orang. Wanita muslimah sepanjang sejarah mesti menjadikan putri Nabi ini sebagai teladan dalam kehidupan individu, sosial dan keluarganya. Beliau adalah sosok wanita yang bijaksana dalam bersikap, sopan dalam bertutur kata, santun dalam beretika, dan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Beliau selalu peduli dengan kondisi orang-orang di sekitarnya. Setiap kali bertemu dengan para wanita muslimah, beliau memberikan bimbingan dan ajaran kepada mereka seperti yang diterimanya dari ayah beliau. Fathimah juga dikenal sebagai pejuang sejati dalam membela kebenaran. (IRIB Indonesia)</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pesantrenawliya.wordpress.com/1361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pesantrenawliya.wordpress.com/1361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pesantrenawliya.wordpress.com/1361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pesantrenawliya.wordpress.com/1361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1361/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1361&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/16/fathimah-teladan-sepanjang-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6af0a76276b7af4afce2a553cf6b4a23?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pesantrenawliya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/199172_m.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">199172_m</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>‎&#8221;Agama Candu&#8221;</title>
		<link>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/16/%e2%80%8eagama-candu/</link>
		<comments>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/16/%e2%80%8eagama-candu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 21:21:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pesantren Awliya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pesantrenawliya.wordpress.com/?p=1355</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa mesti berbeda? Mengapa ada yang tak mampu jalan karena lapar dan ada yang tak mampu bergerak karena kenyang? Mengapa ada yang tangannya sakit karena sering menengadah menunggu welas di perempatan lampu merah, sementara ada pula yang tangannya keram karena lama menghitung hartanya? Mengapa ada meneteskan air mata karena gembira haru, ada pula yang tertawa &#8230; <a href="http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/16/%e2%80%8eagama-candu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1355&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/sheik_abdelaziz_bin_bazl.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1359" title="Sheik_Abdelaziz_bin_Bazl" src="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/sheik_abdelaziz_bin_bazl.jpg?w=150&h=150" alt="" width="150" height="150" /></a>Mengapa mesti berbeda? Mengapa ada yang tak mampu jalan karena lapar dan ada yang tak mampu bergerak karena kenyang? Mengapa ada yang tangannya sakit karena sering menengadah menunggu welas di perempatan lampu merah, sementara ada pula yang tangannya keram karena lama menghitung hartanya? Mengapa ada meneteskan air mata karena gembira haru, ada pula yang tertawa meringis karena malu (pulang ke rumah karena tidak berhasil membawa susu untuk anak)? Mengapa ada yang sumpek karena laba bisnisnya tidak sebagus kemarin, sementara ada yang gembira lantaran hari ini lebih bagus dari kemarin setelah diajak teman makan di warteg?<span id="more-1355"></span></p>
<p>Ada ribuan pertanyaan serupa yang silih berganti seperti iklan baris di benak kita, baik kita sebagai yang merasa beruntung dapat karunia maupun kita yang merasa kurang beruntung dapat karunia. Sebagian orang, karena telah dibekali dengan doktrin teologi fatalis, bahwa itu semua adalah keputusan absolut Tuhan yang, bila dipertanyakan bisa dianggap kufur.</p>
<p>Jawaban ini secara jelas bernada sarkastik, tidak mendidik dan bisa dianggap sebagai “teologi candu”. Mengapa? Tuhan yang mahasuci dan tak terbatas telah menciptakan sistem alam dengan segala dimensi dan mekanismenya. Seseorang yang menjadi kaya karena mengambil hak orang lain bukan hasil keputusan Tuhan. Manusia yang menjadi penguasa semena-mena dan menindas rakyat bukanlah takdir Tuhan yang harus diimani. Tuhan yang telah memberi manusia dengan kemampuan dan alam diperuntukkan kepadanya tidak bisa dijadikan sebagai “pelaku utama’ atau “otak intelektual” di balik kebiadaban para pengusaha tamak dan penguasa despotik. Tuhan telah memberikan kebebasan kepada setiap manusia untuk menjadi apa saja. Bila mempertanyakan ketimpangan sosial akibat ulah manusia-manusia rakus dan kejam, dianggap sebagai menggugat keputusanNya, maka bisa dipastikan bahwa Ia hanyalah imagi yang diciptakan untuk melestarikan dominasi dan hegemoni serta eksploitasi.</p>
<p>Ada pula yang menggunakan statemen yang terkesan apologetik bahwa “harta dan tahta bukanlah ukuran ketakwaan, namun amal”. Ketakwaan adalah sesuatu yang abstrak dan transenden. Tentu saja, ketakwaan tidak bisa diukur dengan kekayaan. Dipastikan bahwa kekayaan bukan standar ketakwaan saja, banyak yang mencarinya sengan segala macam cara, bayangkan bila  dianggap identik dengan ketakwaan. Itu artinya, yang kaya di dunia, pastilah kaya di akhirat, dan begitu pula sebaliknya. Bila demikian konsekuensinya, maka bisa dipastikan pula bahwa doktrin ini tidak lain adalah modus operandi para penjarah harta sesama agar mereka bisa tidur nyenyak tanpa dihantui sedikitpun rasa bersalah. Tidak sedikit pula yang dijejali dengan tausiah, “lihatlah orang yang di bawah agar selalu bersyukur”.</p>
<p>Bila mempertanyakan ketimpangan sosial akibat ulah sekelompok orang yang rakus dianggap sebagai sikap “tidak syukur”, maka berarti membiarkan kezaliman ekonomi bisa dianggap sebagai cara mudah untuk menghimpun pahala syukur. Lagi pula, anjuran untuk melihat orang yang di bawah (baca: nasibnya lebih “buruk”) hanya bisa berlaku atas orang yang diatas atau masih di level menengah. Orang yang di bawah (dan kebanyakan dipaksa untuk berada di bawah) tidak menemukan orang yang di bawahnya lagi agar bisa dijadikan sebagai alasan untuk bersyukur. Alih-alih mau bersyukur, untuk memahami arti syukur saja, mereka memerlukan sedikit dana dan sesuatu yang bisa membuat mereka fokus mendengarkan ceramah tentang syukur.</p>
<p>Doktrin-doktrin tersebut diatas muncul sebagai akibat nyata dari upaya-upaya sistematis mengamputasi rasio dan kriminalisasi penggunaan logika dengan tujuan mengikis habis akar-akar kehendak untuk menuntut perubahan dan perlawanan terhadap kezaliman. Tidak sedikit legenda-legenda perubahan dalam sejarah umat Islam telah dijatuhi vonis abadi sebagai pemberontak, anti jamaah, dan pelaku makar yang pada akhirnya diberi aneka predikat mengerikan seperti sesat, zindiq, sesat, menuhankan Ali, dan kafir, yang tentu saja sudah pasti akan dijebloskan ke neraka oleh tuhan para penguasa kejam dan pengusaha maruk itu.</p>
<p>Konspirasi menciptakan koloni dengan sampul teologi feodalistik ini tidak akan mulus berhasil tanpa menciptakan “musuh bersama”. Karena itu, sepanjang sejarah para penguasa penjarah baitul-mal melalui para wartawan bodrex (alias kolektor hadis-hadis palsu) bekerja all out untuk mendekreditkan dan merusak citra positif kelompok-kelompok yang merawat teologi perubahan yang rasionalis dengan puluhan ribu upaya diskriminasi, blokade, penkafiran dan pembantaian. Ali bin Abi Thalib bersama Ammar bin Yasir, Malik bin Nuwairah at-Tamimi, Abu Zar, Malik Asytar dan para sahabat (lainnya yang lenyap nama maupun data sejarahnya telah di-X-file-kan) harus rela menerima akibat-akibat itu karena berusaha untuk menyiramkan air kesadaran teologi rasional ini kepada masyarakat yang sakau oleh teologi narkoba yang disuntikkan oleh para tiran berbalut &#8220;agama publik&#8221;. Ini bukan soal sentimen sektarian, bukan soal mazhab, dan bukan pula soal agama secara formal. Ini soal modus pembodohan dan penjajahan. Ini soal hegemoni tuhan-tuhan bertulang yang muncul silih berganti dengan kedok agama!</p>
<p>Setiap orang akan diminta pertanggungjawaban sebesar potensi dan kesempatan yang dimilikinya. Orang yang memiliki kemampuan mencari dan mengumpulkan harta, akan akan menghadapi diauditing Sang Penghitung tercepat (Sari’ul-hisab) tentang cara perolehan, penggunaan dan tujuan serta hasilnya. Sebaliknya orang yang tidak memiliki kemampuan menghimpun banyak harta, akan diminta pertanggungjawaban atas potensi lain yang dimilikinya.</p>
<p>Singkatnya, kekayaan, kekuasaan, ketenaran, kekuatan, kecerdasan, kepandaian, kecantikan dan lainnya adalah karunia-karunia yang tidak diberikan cuma cuma. Tuhan tidak memberikan potensi, kemampuan dan kesemoatan kepada setiap manusia secara cuma-cuma karena masing-masing memiliki bejana dan wadah yang berbeda-beda secara takwini.</p>
<p>Berdasarkan aksioma pandangan teologis yang menisacayakan kemahaadilan Sang Pemberi, maka pasti perbedaan ukuran dan kapasitas karunia tersebut bukanlah keputusan yang acak dan tanpa tujuan. Itu artinya, besar dan kecilnya (kuantitas) karunia yang dimiliki oleh setiap orang bergantung pada outcome-nya secara kualitatif. Dengan kata lain, kuantitas income yang dimiliki setiap manusia akan diukur dan dinilai oleh Allah dari kualitas outcome-nya. Karenanya, pastilah fakta perbedaan karunia pada setiap orang adalah keputusan yang adil.</p>
<p>Oleh M. Labib</p>
<p>Proudly Powered by <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1606459735" target="_blank">Ama Salman al-Banjari</a> May@2012</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pesantrenawliya.wordpress.com/1355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pesantrenawliya.wordpress.com/1355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pesantrenawliya.wordpress.com/1355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pesantrenawliya.wordpress.com/1355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1355/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1355&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/16/%e2%80%8eagama-candu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6af0a76276b7af4afce2a553cf6b4a23?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pesantrenawliya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/sheik_abdelaziz_bin_bazl.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Sheik_Abdelaziz_bin_Bazl</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>9 Penemuan Islam yang Menggemparkan Dunia</title>
		<link>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/08/9-penemuan-islam-yang-menggemparkan-dunia/</link>
		<comments>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/08/9-penemuan-islam-yang-menggemparkan-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 01:33:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pesantren Awliya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pesantrenawliya.wordpress.com/?p=1347</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan modern tak lepas dari penemuan-penemuan ilmuwan muslim. Proyek 1001 kembali mengingatkan sejarah 1000 tahun warisan muslim yang terlupakan. Ada sebuah lubang dalam ilmu pengetahuan manusia, melompat dari zaman Renaisance langsung kepada Yunani, ujar Chairman Yayasan Sains, Teknologi dan Peradaban Profesor Salim al-Hassani pemimpin 1001 Penemuan. Saat ini Penemuan 1001 sedang pameran di Museum Sains &#8230; <a href="http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/08/9-penemuan-islam-yang-menggemparkan-dunia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1347&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="fbPhotoPageCaption">Kehidupan modern tak lepas dari penemuan-penemuan ilmuwan muslim. Proyek 1001 kembali mengingatkan sejarah 1000 tahun warisan muslim yang terlupakan. Ada sebuah lubang dalam ilmu pengetahuan manusia, melompat dari zaman Renaisance langsung kepada Yunani, ujar Chairman Yayasan Sains, Teknologi dan Peradaban Profesor Salim al-Hassani pemimpin 1001 Penemuan.</div>
<div><span id="more-1347"></span><br />
<a href="https://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/penemuan.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1348" title="Penemuan" src="https://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/penemuan.jpg?w=750" alt=""   /></a>Saat ini Penemuan 1001 sedang pameran di Museum Sains London. Hassani mengharapkan pameran tersebut akan menegaskan kembali kontribusi peradaban non-barat, seperti kerajaan muslim yang suatu waktu pernah menutupi Spanyol dan Portugis, Italia selatan dan terbentang seluas daratan China.</div>
<div>Inilah penemuan muslim yang luar biasa:</div>
<p><strong>1. Operasi Bedah</strong><br />
Sekitar tahun 1000, seorang dokter Al Zahrawi mempublikasikan 1500 halaman ensiklopedia berilustrasi tentang operasi bedah yang digunakan di Eropa sebagai referensi medis selama lebih dari 500 tahun. Diantara banyak penemu, Zahrawi yang menggunakan larutan usus kucing menjadi benang jahitan, sebelum menangani operasi kedua untuk memindahkan jahitan pada luka. Dia juga yang dilaporkan melakukan operasi caesar dan menciptakan sepasang alat jepit pembedahan.</p>
<p><strong>2. Kopi</strong><br />
Saat ini warga dunia meminum sajian khas tersebut tetapi, kopi pertama kali dibuat di Yaman pada sekitar abad ke-9. Pada awalnya kopi membantu kaum sufi tetap terjaga ibadah larut malam. Kemudian dibawa ke Kairo oleh sekelompok pelajar yang kemudian kopi disukai oleh seluruh kerajaan. Pada abad ke-13 kopi menyeberang ke Turki, tetapi baru pada abad ke-16 ketika kacang mulai direbus di Eropa, kopi dibawa ke Italia oleh pedagang Venesia.</p>
<p><strong>3. Mesin Terbang</strong><br />
Abbas ibn Firnas adalah orang pertama yang mencoba membuat konstruksi sebuah pesawat terbang dan menerbangkannya. Di abad ke-9 dia mendesain sebuah perangkat sayap dan secara khusus membentuk layaknya kostum burung. Dalam percobaannya yang terkenal di Cordoba Spanyol, Firnas terbang tinggi untuk beberapa saat sebelum kemudian jatuh ke tanah dan mematahkan tulang belakangnya. Desain yang dibuatnya secara tidak terduga menjadi inspirasi bagi seniman Italia Leonardo da Vinci ratusan tahun kemudian.</p>
<p><strong>4. Universitas</strong><br />
Pada tahun 859 seorang putri muda bernama Fatima al-Firhi mendirikan sebuah universitas tingkat pertama di Fez Maroko. Saudara perempuannya Miriam mendirikan masjid indah secara bersamaan menjadi masjid dan universitas al-Qarawiyyin dan terus beroperasi selama 1.200 tahun kemudian. Hassani mengatakan dia berharap orang akan ingat bahwa belajar adalah inti utama tradisi Islam dan cerita tentang al-Firhi bersaudara akan menginspirasi wanita muslim di mana pun di dunia.</p>
<p><strong>5. Aljabar</strong><br />
Kata aljabar berasal dari judul kitab matematikawan terkenal Persia abad ke-9 Kitab al-Jabr Wal-Mugabala, yang diterjemahkan ke dalam buku The Book of Reasoning and Balancing. Membangun akar sistem Yunani dan Hindu, aljabar adalah sistem pemersatu untuk nomor rasional, nomor tidak rasional dan gelombang magnitudo. Matematikawan lainnya Al-Khwarizmi juga yang pertama kali memperkenalkan konsep angka menjadi bilangan yang bisa menjadi kekuatan.</p>
<p><strong>6. Optik</strong><br />
Banyak kemajuan penting dalam studi optik datang dari dunia muslm, ujar Hassani. Diantara tahun 1.000 Ibn al-Haitham membuktikan bahwa manusia melihat obyek dari refleksi cahaya dan masuk ke mata, mengacuhkan teori Euclid dan Ptolemy bahwa cahaya dihasilkan dari dalam mata sendiri. Fisikawan hebat muslim lainnya juga menemukan fenomena pengukuran kamera di mana dijelaskan bagaimana mata gambar dapat terlihat dengan koneksi antara optik dan otak.</p>
<p><strong>7. Musik</strong><br />
Musisi muslim memiliki dampak signifikan di Eropa. Di antara banyak instrumen yang hadir ke Eropa melalui timur tengah adalah lute dan rahab, nenek moyang biola. Skala notasi musik modern juga dikatakan berasal dari alfabet Arab.</p>
<p>Ishaq Al-Mausili (wafat 850M), terlahir di Al-Raiy, Persia Utara. Ishaq belajar musik dari ayahnya Ibrahim Al-Mausili, dan pamannya Zalzal, serta Atika binti Shuda yang seorang musisi. Ishaq memperkenalkan solmisasi dalam bukunya Book of Notes and Rhythms dan Book of Songs yang populer di Barat. Penemuan solmisasi ini dikembangkan oleh Ibnu Al Farabi (872-950M) dalam kitab Al-Musiq Al Kabir.</p>
<p><strong>8. Sikat Gigi</strong><br />
Menurut Hassani, Nabi Muhammad SAW mempopulerkan penggunaan sikat gigi pertama kali pada tahun 600. Menggunakan ranting pohon Miswak, untuk membersihkan gigi dan menyegarkan napas. Substansi kandungan di dalam Miswak juga digunakan dalam pasta gigi modern.</p>
<p><strong>9. Engkol</strong><br />
Banyak dasar sistem otomatis modern pertama kali berasal dari dunia muslim, termasuk pemutar yang menghubungkan sistem. Dengan mengkonversi gerakan memutar dengan gerakan lurus, pemutar memungkinankan obyek berat terangkat relatif lebih mudah. Teknologi tersebut ditemukan oleh Al-jazari pada abad ke-12, kemudian digunakan dalam penggunaan sepeda hingga kini.</p>
<p>Subhanallah, DUNIA BERHUTANG PADA ISLAM!!</p>
<div id="fbPhotoPageTagList"></div>
<div>Source : Salahuddin Note&#8217;s</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pesantrenawliya.wordpress.com/1347/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pesantrenawliya.wordpress.com/1347/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1347/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1347/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1347/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1347/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1347/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1347/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1347/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1347/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pesantrenawliya.wordpress.com/1347/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pesantrenawliya.wordpress.com/1347/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1347/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1347/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1347&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/08/9-penemuan-islam-yang-menggemparkan-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6af0a76276b7af4afce2a553cf6b4a23?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pesantrenawliya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/penemuan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Penemuan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shalat untuk Orangtua</title>
		<link>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/02/shalat-untuk-orangtua/</link>
		<comments>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/02/shalat-untuk-orangtua/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 07:03:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pesantren Awliya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pesantrenawliya.wordpress.com/?p=1340</guid>
		<description><![CDATA[Shalat untuk orangtua dikenal dengan istilah shalat “Birrul Wâlidayn” adalah shalat sunnah yang ditujukan untuk berbakti kepada kedua orang tua. Shalat ini dilakukan dua rakaat. Caranya sebagai berikut: 1. Niatnya: Bisa diucapkan dengan lisan, bisa hanya diucapkan di dalam hati, dan juga bisa dua-duanya secara bersamaan. Niatnya sebagai berikut: Ushalli sunnatan libirril walidayn rak`atayni qurbatan ilallâh. &#8230; <a href="http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/02/shalat-untuk-orangtua/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1340&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/lelah.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1342" title="Hening" src="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/lelah.jpg?w=150&h=144" alt="" width="150" height="144" /></a>Shalat untuk orangtua dikenal dengan istilah shalat “<em>Birrul Wâlidayn</em>” adalah shalat sunnah yang ditujukan untuk berbakti kepada kedua orang tua. Shalat ini dilakukan dua rakaat. Caranya sebagai berikut:</p>
<p>1. Niatnya: Bisa diucapkan dengan lisan, bisa hanya diucapkan di dalam hati, dan juga bisa dua-duanya secara bersamaan. Niatnya sebagai berikut: <span id="more-1340"></span><em>Ushalli sunnatan libirril walidayn rak`atayni qurbatan ilallâh.</em></p>
<p>Saya niat melakukan shalat sunnah dua rakaat untuk berbakti kepada kedua orang tua guna mendekatkan diri kepada Allah.</p>
<p>2. Rakaat pertama: membaca surat Fatihah, dan surat Ibrahim/14 : 41 (10 kali) yaitu:</p>
<p><strong>رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ</strong></p>
<p>Rabbanaghfirlî wa li-wâlidayya wa lil-mu’minîna yawma yaqûmul hisâb.</p>
<p>Ya Tuhan kami, ampuni daku dan kedua orang tuaku serta orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).</p>
<p>Rakaat kedua: membaca surat Fatihah, dan surat Nuh/71: 28 (10 kali) yaitu:</p>
<p><strong>رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِي مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ</strong></p>
<p>Rabbighfirlî wa li-wâlidayya wa liman dakhala baytî mu’minan wa lil-mu’minî-na wal mu’minât.</p>
<p>Ya Tuhanku, ampuni daku dan kedua orang tuaku, dan orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, serta seluruh mukminin dan mukminat.</p>
<p>Setelah salam membaca doa berikut (10 kali):</p>
<p><strong>رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيْرًا</strong></p>
<p>Rabirhamhumâ kamâ rabbayanî shaghîrâ.</p>
<p>Ya Tuhanku, kasihani mereka berdua sebagaimana mereka mendidikku di waktu aku kecil.<br /> (Al-Bâqiyah Ash-Shâlihât Mafâtihul Jinân, bab 2: 216).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pesantrenawliya.wordpress.com/1340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pesantrenawliya.wordpress.com/1340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pesantrenawliya.wordpress.com/1340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pesantrenawliya.wordpress.com/1340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1340/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1340&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/05/02/shalat-untuk-orangtua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6af0a76276b7af4afce2a553cf6b4a23?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pesantrenawliya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/05/lelah.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Hening</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AHLUL-BAYT PENJAGA KHAZANAH HADIS NABI SAW</title>
		<link>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/04/27/ahlul-bayt-penjaga-khazanah-hadis-nabi-saw/</link>
		<comments>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/04/27/ahlul-bayt-penjaga-khazanah-hadis-nabi-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 00:51:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pesantren Awliya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pesantrenawliya.wordpress.com/?p=1335</guid>
		<description><![CDATA[Para Imam Ahlul Bait a.s. adalah insan-insan yang telah mendapat wewenang untuk menyimpan, menjaga dan menyebarkan hadits-hadits Nabi saww kepada Kaum Muslim hingga akhir zaman. Melalui merekalah Allah menjaga dan menyimpan khazanah hikmah Kenabian dan Risalah-Nya yang suci. Beberapa riwayat dari para Imam Ahlul Bait menjelaskan otoritas dan tanggung jawab mereka tersebut.  1. Di dalam &#8230; <a href="http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/04/27/ahlul-bayt-penjaga-khazanah-hadis-nabi-saw/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1335&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/04/mad-shalat.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1338" title="MAD Shalat" src="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/04/mad-shalat.jpg?w=150&h=119" alt="" width="150" height="119" /></a>Para Imam Ahlul Bait a.s. adalah insan-insan yang telah mendapat wewenang untuk menyimpan, menjaga dan menyebarkan hadits-hadits Nabi saww kepada Kaum Muslim hingga akhir zaman. Melalui merekalah Allah menjaga dan menyimpan khazanah hikmah Kenabian dan Risalah-Nya yang suci. Beberapa riwayat dari para Imam Ahlul Bait menjelaskan otoritas dan tanggung jawab mereka tersebut. <span id="more-1335"></span></p>
<p>1. Di dalam tulisan Hasan bin Mahbub dengan sanadnya, ia berkata, “Aku berkata kepada Abu Abdillah (Imam Ja&#8217;far al-Shadiq) as, “Aku mendengar hadits, tetapi aku tidak tahu apakah dari engkau atau dari ayahmu?”, Imam menjawab, “Apa-apa yang kamu dengar dariku, maka itu semua diriwayatkan dari Rasulullah saww.” (Bihar al-Anwar 2 : 161)</p>
<p>2. Dari Jabir dari Imam al-Baqir as, beliau berkata, “Wahai Jabir, sesungguhnya seandainya kami menyampaikan hadits kepadamu dari ra’yu (pendapat pribadi) dan hawa nafsu kami, maka pastilah kami termasuk orang-orang celaka. Akan tetapi kami menyampaikan hadits-hadits yang kami menyimpannya dari Rasulullah (saww) sebagaimana orang-orang menyimpan emas dan perak mereka.” (Bihar al-Anwar 2:172)</p>
<p>3. Dari al-Fudlail dari Imam al-Baqir as, Imam berkata, “Kalau kami menyampaikan hadits dari ra’yu kami niscaya kami telah tersesat sebagaimana tersesatnya orang-orang sebelum kami. Tetapi kami menyampaikan hadits dari keterangan (bayyinat) Tuhan kami yang telah Dia terangkan kepada Nabi-Nya, dan Nabi menerangkannya kepada kami” (Bihar al-Anwar 2:178)</p>
<p>4. Dari Jabir, dia berkata: aku bertanya kepada Imam al-Baqir as, “Apabila aku meriwayatkan suatu hadits, maka aku sandarkan sanadnya dariku?”, Imam berkata, “Aku meriwayatkan hadits dari ayahku, dari kakekku, dari Rasulullah saww, dari Jibrail, dari Allah. Dan setiap hadits yang aku sampaikan kepadamu itu melalui sanad yang seperti itu.” (Bihar al-Anwar 2:178)</p>
<p>5. Dari Hammad bin Utsman dan Hisyam bin Salim dan selain keduanya, mereka berkata, “Kami telah mendengar Imam Ja&#8217;far al-Shadiq (as) berkata, “Haditsku adalah hadits dari ayahku, dan hadits ayahku adalah hadits kakekku dan hadits kakekku adalah hadits al-Husain dan hadits al-Husain adalah hadits al-Hasan dan hadits al-Hasan adalah hadits Amirul Mu&#8217;minin (Ali bin Abi Thalib) dan hadits Amirul Mu&#8217;minin adalah hadits Rasulullah (saww) dan hadits Rasulullah adalah perkataan Allah &#8216;Azza wa Jalla” (Bihar al-Anwar 2, Kitab al-Ilmu, bab 33)</p>
<p>Jadi semua periwayatan hadits yang diriwayatkan dari para Imam Ahlul Bait bersumber dari Rasulullah saww. Namun mesti diperhatikan juga bahwa sama seperti hadis2 dari jalur Ahlus-Sunnah, hadis2 dari jalur Ahlul-Bayt juga banyak yg lemah bahkan palsu.</p>
<p>Laa hawla wa laa quwwata illa billah..</p>
<p>Sumber : <a id="js_1" href="http://www.facebook.com/qitori">Quito Riantori</a> Note&#8217;s</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pesantrenawliya.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pesantrenawliya.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pesantrenawliya.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pesantrenawliya.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1335/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1335&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/04/27/ahlul-bayt-penjaga-khazanah-hadis-nabi-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6af0a76276b7af4afce2a553cf6b4a23?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pesantrenawliya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/04/mad-shalat.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">MAD Shalat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hierarki dan Sertifikasi Ulama dalam Masyarakat Syiah</title>
		<link>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/04/18/hierarki-dan-sertifikasi-ulama-dlm-masyarakat-syiah/</link>
		<comments>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/04/18/hierarki-dan-sertifikasi-ulama-dlm-masyarakat-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2012 22:32:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pesantren Awliya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pesantrenawliya.wordpress.com/?p=1323</guid>
		<description><![CDATA[Di negeri kita tercinta, menjadi seorang mubalig, kyai, ustadz, sangat mudah. Bila dia adalah anak seorang kyai, maka dengan mudah ia menjadi pewaris, apalagi punya pesantren dan majelis taklim. Bila bukan anak kyai, maka ia bisa menempuhnya dengan berlagak ‘ahli makrifat’ yang mampu menembus dinding natural.  Ada beberapa cara lain, seperti mengubah penampilan kalau memang &#8230; <a href="http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/04/18/hierarki-dan-sertifikasi-ulama-dlm-masyarakat-syiah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1323&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/04/wisuda-ulama.jpg"><img class="alignleft  wp-image-1324" title="Wisuda " src="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/04/wisuda-ulama.jpg?w=240&h=160" alt="" width="240" height="160" /></a>Di negeri kita tercinta, menjadi seorang mubalig, kyai, ustadz, sangat mudah. Bila dia adalah anak seorang kyai, maka dengan mudah ia menjadi pewaris, apalagi punya pesantren dan majelis taklim.</p>
<p>Bila bukan anak kyai, maka ia bisa menempuhnya dengan berlagak ‘ahli makrifat’ yang mampu menembus dinding natural.  <span id="more-1323"></span>Ada beberapa cara lain, seperti mengubah penampilan kalau memang kebagian jenggot dan wajah lumayan ‘berwibawa’, mengikuti audisi untuk berlomba menjadi dai mulai dari tingkat dai imut-imut sampai dai amit-amit. Tidak sedikit pula yang lompat dari profesi artis dan pelawak ke profesi dai.</p>
<p>Yang lucu lagi, ada perkumpulan yang mengaku sebagai wadah para ulama lalu seenaknya ikut-ikutan bisnis ‘sertifikat halal’ dengan perusahaan makanan yang buessar sekali.</p>
<p>Ada pula perkumpulan ulama yang tiba-tiba membuat production house yang isinya ceramah menggurui sambil menaburkan fitnah memecah belah umat dengan mengkafirkan dan menyesatkan sekelompok Muslim lain. Mereka pikir Syiah itu seperti jamaah jadi-jadian al-Qiyadah-nya Musadeq yang bisa bubar dengan sekali tekan tombol ‘sesat’.</p>
<p>Manusia-mansuia primitif yang gak punya know how dan ga update ini memang perlu dikasihani. Bayangkan mereka seakan tidak tahu bahwa Hizbullah yang melibas Isarel itu bermazhab Syiah, dan Ahamdinejad yang memperlakukan Gaza sebagai propinisi Iran dan digelontor dengan dana dari APBN Iran itu bermazhab Syiah.</p>
<p>Makanya perlu ada standarisasi dan sertifikasi ulama supaya tidak ada monster anti pluralitas yang berkedok ulama atau preman berdarah dingin berjubah dengan memajang titel kyai, ustadz, habi dsb.</p>
<p>Sementara di Iran fenomena kesemrawutan ini tidak ditemukan. Hal itu karena proses menjadi mulla (ulama) tidak mudah dan harus melalui jenjang yang berliku. Salah satunya adalah sertifikat dan liseni ijtihad.</p>
<p>Pemberian lisensi ijtihad atau ijazah al-ijtihad adalah sebuah pola tradisional yang bisa dianggap sebagai satu-satunya sertifikat akademik tertinggi yang diakui di seluruh hawzah. Disebutkan bahwa pemberian lisensi ini didasarkan pada kualifikasi dan kapabilitas intelektual dengan mempertimbangkan tingkat spiritualitas.</p>
<p>Sertifikat<br />
Pemberian lisensi (Sertifikat) kemujtahidan meliputi tiga kategori sebagai berikut:<br />
1. Pemberi lisensi. Biasanya pemberi lisensi adalah para fakih (fukaha) terkenal di lingkungan hawzah. Tingkat kualifikasi dan kredibilitas masing-masing pemberi ijazah akan sangat menentukan bobot dan kualitas ijazah yang diberikan.<br />
2. Penerima lisensi. ia adalah siswa atau seseorang yang selama beberapa tahun dikenal oleh pemberi ijazah berprestasi secara intelektual dan moral, dengan kata lain dikenal a’lam. Kadang kala demi alasan penyempurnaan dan pengukuhan, ia menjalani ujian tulis dan lisan.<br />
3. Isi ijazah juga berbeda-beda. Ada yang berisikan kesaksian akan kemujtahidan seseorang saja, ada pula yang berisikan rekomendasi tentang keunggulan seseorang sebagai mujtahid. (Ibrahim Jannati, Adwar- e Fiqih, Kayhan, 1996.).</p>
<p>Gelar<br />
Umumnya, seseorang yang telah mencapai peringkat ijtihad (mujtahid, fakih) secara alami, tanpa proses wisuda resmi, diberi gelar Ayatullah. Namun ada pula yang masih menyandang gelar Hujjatul-Islam wal-Muslimin. Mujtahid yang telah ditaqlid biasanya diberi gelar Ayatullah uzhma. Ada pula mujtahid yang menyandang gelar tambahan dan bersifat monumental karena kepakarannya dalam bidang selain fikih, seperti Allamah untuk Ayatullah Muhammad Husain Thabathaba’i karena penguasaannya yang istimewa dan tak tertandingi dalam bidang tafsir dan filsafat; Ayatullah Murtadha Muthahhari, yang digelari “ustad” (profesor) karena pemikirannya yang amat luas dan multidimensional, dan gelar Muhaqqiq yang diberikan kepada Ayatullah Murtadha al-Askari karena keahliannnya yang unik dalam studi sejarah Islam. Di atas itu semua, gelar Imam, yang semula hanya diberikan kepada maksum dari Ahlulbait, diberikan secara simbolik kepada Ayatullah Uzhma Ruhullah al-Musawi Al-Khomeini.</p>
<p>Namun, pemberian gelar akhir-akhir ini juga berlaku atas ulama-ulama atau para kandidat mujtahid. Mujtahid mutajazzi’ biasanya dianugerahi gelar Hujjatul-Islam wal-Muslimin. Sedangkan muhtath atau kandidat mujtahid diberi gelar Hujjatul-Islam. Yang menarik ialah para pelajar agama di hawzah-hawzah, terutama yang telah mengikuti jenjang atas pendidikan fikih dan ushul (bahts al-kharij) yang lazim diasuh oleh mujtahid kenamaan atau bahkan marja’ diberi gelar Tsiqatul-Islam.</p>
<p>Uniform dan Pakaian Kebesaran<br />
Semua penuntut dan abdi ilmu-ilmu agama di hawzah-hawzah, terutama fikih dan ushul fikih diharuskan mengenakan pakaian keulamaan dengan kombinasi yang nyaris sama, yaitu serban, meski kadang berbeda ukuran dan pola lilitan; kemeja putih tanpa kerah yang mirip dengan baju koko; qaba’, yaitu pakaian panjang<br />
yang mirip gamis, yang umumnya berwarna tidak gelap dan tidak terang. Ia menutupi kemeja putih kecuali bagian kerah dan bagian bawah kerah sehingga yang terlihat hanya kancing pertama dan kedua, aba’ atau aba’ah (orang Arab menyebutnya abaya), yaitu kain tipis, bahkan pada musim panas cenderung transparan, berwarna hitam polos, atau coklat atau abu-abu yang berfungsi sebagai pelapis qaba hingga bagian atas kaki. Bisa dipastikan tidak ada yang mengenakan aba’ah berwarna biru, hijau, apalagi merah.</p>
<p>Penggunaan pakaian keulamaan dalam tradisi hawzah biasanya dilakukan dalam sebuah upacara wisuda yang dihadiri dan disaksikan oleh kerabat dan ulama. Biasanya pelajar agama (thalabeh) akan dilantik secara seremonial sebagai kandidat ulama oleh seorang mujtahid atau bahkan marja’. Konon, bila seseorang telah mengenakan pakaian keulamaan, maka perilaku dan sepak terjangnya akan diawasi dan bisa dikenai sanksi moral bila melakukan perbuatan yang melanggar syariat dan norma kepatutan yang berlaku dalam lingkungan hawzah. Bahkan sejak dulu telah terbentuk semacam dewan kehormatan ulama di hawzah yang akan memberikan sanksi pemecatan atau diskualifikasi terhadap pelajar agama bahkan ulama yang telah bergelar Ayatullah atau telah menjadi mujtahid. Disiplin kode etik keulamaan ini diterapkan secara ketat, sehingga tidak sedikit pelajar agama yang memutuskan meninggalkan hawzah karena tidak tahan. Pelajar agama yang telah mengenakan pakaian keulamaan mendapat perlakuan lebih istimewa karena beban syar’i yang ditanggungnya lebih berat dari pelajar agama yang tidak memakainya.</p>
<p>Mulai dari para pelajar agama sampai mujtahid yang telah teruji kemampuan intelektualnya mendapatkan pelayanan dan kemudahan finansial yang dapat membebaskannya dari kewajiban bekerja untuk memberi nafkah diri sendiri dan keluarga melalui sistem tradisional beasiswa. Kemudahan finansial tersebut diperoleh dari dana khumus yang dibagikan setiap bulan oleh setiap marja’ yang berwewenang mengalokasikan khumus yang disetorkan oleh masing-masing muqallid.</p>
<p>Jenjang Pendidikan<br />
Para pelajar agama di hawzah fikih umumnya harus mengikuti jenjang-jengang pendidikan dengan kurikulum yang beragam. Para pemula memulai pendidikan dari tingkat dasar, yang disebut dengan peringkat muqaddimat. Dalam jenjang pertama ini, pelajar agama diharuskan menyelesaikan sejumlah mata kuliah dasar seperti gramatika Arab, ulumul-Quran, ulumul-Hadis, logika dan studi naskah fikih dan ushul fikih, seperti Halaqah atau al-Lum’ah ad-Dimasyqiyah. Bila telah dinyatakan lulus, maka ia diperbolehkan mengikuti jenjang di atasnya.</p>
<p>Tingkat pendidikan menengah disebut dengan suthuh. Pada tingkatan ini, pelajar agama mulai mengikuti sejumlah kuliah studi naskah-naskah fikih dan ushul fikih, seperti studi naskah al-Lum’ah ad-Dimasyqiyah, lalu al-Makâsib dalam fikih istidlali (fikih argumentatif), seperti Halaqah, Kifâyah dan Rasâ’il dalam ushul fikih.</p>
<p>Jenjang tertinggi dalam fikih dan ushul fikih, yang umumnya diikuti oleh para kandidat mujtahid, adalah bahts al-kharij, semacam studium general, yang paling sedikit dihadiri oleh seratus pelajar dan diasuh oleh sejumlah guru besar hawzah. (Dicopas dari buku SEJARAH DAN HIERARKI FIKIH, Muhsin Labib, Al-Huda, akan terbit)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pesantrenawliya.wordpress.com/1323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pesantrenawliya.wordpress.com/1323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pesantrenawliya.wordpress.com/1323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pesantrenawliya.wordpress.com/1323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1323/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1323&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/04/18/hierarki-dan-sertifikasi-ulama-dlm-masyarakat-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6af0a76276b7af4afce2a553cf6b4a23?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pesantrenawliya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/04/wisuda-ulama.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Wisuda </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sujud dalam Fikih dan Sejarah</title>
		<link>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/04/11/sujud-dalam-fikih-dan-sejarah/</link>
		<comments>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/04/11/sujud-dalam-fikih-dan-sejarah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2012 10:04:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pesantren Awliya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pesantrenawliya.wordpress.com/?p=1317</guid>
		<description><![CDATA[Dalam fikih Syiah Ahlulbait, sujud di atas tanah merupakan perintah Rasulullah dan para Imam Ahlulbait as. Dalam Fiqh Al-Imâm Ja’far diriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Imam Ja’far tentang tempat yang boleh dijadikan tempat sujud. Lalu dijawab, “Tidak boleh sujud kecuali di atas ardh (tanah, bumi) atau yang tumbuh di bumi, kecuali yang dimakan atau dipakai.”  &#8230; <a href="http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/04/11/sujud-dalam-fikih-dan-sejarah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1317&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/04/fb.jpg"><img class="alignleft  wp-image-1320" title="FB" src="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/04/fb.jpg?w=240&h=144" alt="" width="240" height="144" /></a>Dalam fikih Syiah Ahlulbait, sujud di atas tanah merupakan perintah Rasulullah dan para Imam Ahlulbait as. Dalam Fiqh Al-Imâm Ja’far diriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Imam Ja’far tentang tempat yang boleh dijadikan tempat sujud. Lalu dijawab, “Tidak boleh sujud kecuali di atas ardh (tanah, bumi) atau yang tumbuh di bumi, kecuali yang dimakan atau dipakai.” <span id="more-1317"></span></p>
<p>Orang itu bertanya apa sebabnya, kemudian Imam menjawab, “Sujud merupakan ketundukan kepada Allah, maka tidaklah layak dilakukan di atas apa yang boleh dimakan dan dipakai, karena anak-anak dunia adalah hamba dari apa yang mereka makan dan mereka pakai, sedangkan sujud adalah dalam rangka beribadah kepada Allah…” Hal ini sesuai dengan perintah Nabi Muhammad dalam Shahîh Al-Bukhârî:</p>
<p><strong>جعلت لي الأرض مسجداً وطهوراً</strong></p>
<p>“Dijadikannya tanah bagiku sebagai tempat sujud dan suci.” Artinya tanah bukan saja mensucikan untuk bertayamum tapi juga sebagai tempat sujud. Dalam segala kondisi Nabi selalu sujud di atas tanah. Pernah ketika terjadi hujan di bulan Ramadan, masjid Nabi yang beratapkan pelepah kurma menjadi becek. Abu Said Al-Khudri dalam riwayat Bukhari berkata, “Aku melihat Rasulullah dikening dan hidungnya terdapat bekas lumpur.”</p>
<p>Dalam kondisi panas, beberapa sahabat seperti Jabir bin Abdullah Al-Anshari biasanya akan menggenggam dan membolak-balikkan kerikil agar dingin sebelum digunakan untuk sujud. Sedangkan beberapa sahabat yang lain mengadu kepada Nabi, tapi tidak ditanggapi.</p>
<p><strong>عن خباب بن الأرت قال شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم شده الرمضاء في جباهنا وأكفنا فلم يشكنا</strong></p>
<p>Khabab bin Al-Arat berkata, “Kami mengadu kepada Rasulullah saw. tentang sangat panasnya dahi kami (saat sujud), tapi beliau tidak menanggapi pengaduan kami.” (HR. Al-Baihaqi) Tapi ada juga sahabat yang mencari-cari kesempatan untuk sujud di atas kain, tapi ketahuan Rasul, sebagaimana juga diriwayatkan dalam Sunan Al-Baihaqî:</p>
<p><strong>عن عياض بن عبد الله القرشي قال رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يسجد على كور عمامته فأوما بيده ارفع عمامتك وأومأ إلى جبهته</strong></p>
<p>Iyad bin Abdullah Al-Quraisyi berkata, “Rasulullah saw melihat seseorang sujud di atas lilitan serbannya. Maka beliau memberi isyarat dengan tangannya untuk mengangkat serbannya sambil menunjuk pada dahinya.” Mungkin karena riwayat di atas dan banyak riwayat lainnya sehingga Imam Syafii pun mengatakan bahwa seseorang harus sujud di atas tanah:</p>
<p><strong>وَلَوْ سَجَدَ على رَأْسِهِ ولم يُمِسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ لم يَجْزِهِ السُّجُودُ وَإِنْ سَجَدَ على رَأْسِهِ فَمَاسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ أَجْزَأَهُ السُّجُودُ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى</strong></p>
<p>“Apabila seseorang sujud dan dahinya sama sekali tidak menyentuh tanah, maka sujudnya dianggap tidak sah. Tetapi jika seseorang sujud dan bagian dahinya menyentuh tanah (al-ardh), maka sujudnya dianggap cukup dan sah, insya Allah Taala.” (Al-Umm, 1/114)</p>
<p>Artinya, menurut mazhab Imam Syafii seseorang ketika sujud dahinya harus menyentuh tanah. Tapi apakah orang Syiah protes ketika teman-teman bermazhab Syafii sujud di atas sajadah yang terbuat dari kain sintetis? Lalu kenapa ada yang protes (bahkan menyebutnya musyrik) ketika orang Syiah sujud di atas tanah padahal itu sesuai dengan fikih mereka yang diajarkan ahlulbait?!</p>
<p>Meski demikian Rasulullah saw. memberikan keringanan untuk sujud di atas setiap benda yang tumbuh di atas tanah, jika memang cuaca sangat panas atau sangat dingin. Terkadang Rasul menggunakan khumrah (semacam tikar kecil) dan terkadang karena uzur/darurat beliau mengizinkan sahabat untuk menarik serbannya. Artinya selama bisa sujud di atas tanah, maka Rasul melarang (seperti dalam riwayat Al-Baihaqi).</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p><strong>Tetaplah SEMANGAT Tetaplah SHALAWAT</strong></p>
<p>~♥~<strong>اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ</strong>~♥~</p>
<p>Proudly Powered by <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1606459735" target="_blank">Ama Salman al-Banjari</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pesantrenawliya.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pesantrenawliya.wordpress.com/1317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pesantrenawliya.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pesantrenawliya.wordpress.com/1317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1317/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1317&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/04/11/sujud-dalam-fikih-dan-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6af0a76276b7af4afce2a553cf6b4a23?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pesantrenawliya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pesantrenawliya.files.wordpress.com/2012/04/fb.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">FB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ulama yang Menyimpang Lebih Buruk dari Tentara Yazid</title>
		<link>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/04/06/ulama-yang-menyimpang-lebih-buruk-dari-tentara-yazid/</link>
		<comments>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/04/06/ulama-yang-menyimpang-lebih-buruk-dari-tentara-yazid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Apr 2012 20:13:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pesantren Awliya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pesantrenawliya.wordpress.com/?p=1310</guid>
		<description><![CDATA[TAFSIR TEMATIK – 3  Ulama yang Menyimpang Lebih Buruk dari Tentara Yazid Apabila mereka mengetahui kefasikan secara jelas dan kefanatikan yang sangat dari para fuqahanya, maka barang siapa di antara mereka tetap mentaklidi fuqaha seperti itu, berarti mereka seperti awam-awam Yahudi yang telah Allah Swt kecam karena mentaklidi kefasikan para fuqahanya. Mukaddimah Tema pembahasan kita &#8230; <a href="http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/04/06/ulama-yang-menyimpang-lebih-buruk-dari-tentara-yazid/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1310&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table width="100%" border="0">
<tbody>
<tr>
<td align="left" valign="top">
<div>TAFSIR TEMATIK – 3</div>
<div><strong> Ulama yang Menyimpang Lebih Buruk dari Tentara Yazid</strong></div>
<table width="98%" border="1" cellpadding="10" align="center" bgcolor="eef3f3">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>Apabila mereka mengetahui kefasikan secara jelas dan kefanatikan yang sangat dari para fuqahanya, maka barang siapa di antara mereka tetap mentaklidi fuqaha seperti itu, berarti mereka seperti awam-awam Yahudi yang telah Allah Swt kecam karena mentaklidi kefasikan para fuqahanya.</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div align="left">
<p><strong><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';"><span id="more-1310"></span>Mukaddimah</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Tema pembahasan kita sehubungan dengan tafsir tematik yang ketiga ini adalah tentang seorang ulama atau seorang alim yang membelot dari jalan haq. Tadinya si alim tersebut berada di jalan yang benar dan lurus sehingga melalui jalan itu ia sampai kepada posisi yang sangat terhormat dan tinggi di sisi Allah Swt. Tetapi sedikit demi sedikit ia terperosok dan tergelincir ke dalam perangkap setan. Di dalam ayat yang akan kita kupas nanti, Allah Swt mengumpamakan orang alim ini seperti anjing penjilat yang sangat terhina. Semoga kiranya kita dan segenap kaum muslimin dapat mengambil pelajaran yang berharga dari tafsir tematik di bawah ini.</span></span></p>
<p><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:medium;">Tema ini sengaja saya angkat, mengingat banyaknya ulama –sejak dahulu hingga sekarang- yang menjilat penguasa dan raja hanya untuk memperoleh dan mempertahankan kedudukan,  materi dan kenikmatan duniawi yang hanya sekejap saja. Sebagai contoh pada masa kita sekarang ini dan beritanya masih hangat misalnya, Mufti Saudi Arabia yang merupakan ulama mazhab Wahabi atau Salafi yang baru-baru ini teleh mengeluarkan fatwanya yang betul-betul menguntungkan musuh-musuh Islam dan muslimin. Fatwa provokasi seorang alim Wahabi/Salafi itu segera dijawab oleh seorang alim mazhab Ahlulbait As (Syiah Imamiyah) yang bernama Ayatullah Syekh Makarim Syirazi dengan penuh sopan dan bijak. Fatwa yang bersifat mengadu domba dan memecah belah barisan kaum muslimin yang hanya menguntungkan musuh-musuh Islam seperti ini yang dikelurkan oleh Mufti Wahabi, memang bukan yang pertama kali dikeluarkan. Para ulama Ahlulbait As, sejak dulu hingga sekarang, senantiasa mengajak mereka untuk berdialog secara terbuka dan mengajak mereka agar bersatu demi mempertahankan ajaran Islam yang murni dari berbagai serangan musuh-musuh Islam, tetapi ajakan yang disampaikan secara sopan itu tidak pernah mereka jawab</span><a href="http://abna.ir/data.asp?lang=12&amp;id=241363#_ftn1">[1]</a><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">.</span></span></p>
<p><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:medium;">Baiklah, sehubungan dengan tema di atas, yaitu ”Ulama Suu’ atau Ulama yang Menyimpang”, mari kita baca ayat Al-Qur’an al-Karim yang terdapat pada surat Al-A’raf, ayat: 175 – 177).</span></p>
<p dir="rtl"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';"><strong>أعوذ بالله من الشيطان الرجيم.   بسم الله الرحمن الرحيم.</strong></span></span></p>
<p><strong><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">”<em>Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim</em>” (al-A`raf: 175, 176 &amp; 177).</span></span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Sebab Turun Ayat</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Terdapat pembahasan dan perdebatan di antara para mufassir tentang siapa orang alim yang dibicarakan dalam ayat tersebut. Mayoritas mereka meyakini bahwa ia adalah Bal`am bin Ba’ura; salah seorang ulama Bani Israil. Melalui ibadah-ibadahnya ia telah mencapai posisi tinggi hingga mencapai standar predikat nama Allah yang agung dan doanya pun pasti dikabulkan. Ketika Musa as diutus sebagai nabi, ia terjangkiti rasa sombong. Diutusnya nabi Musa membuat Bal`am hasud kepadanya. Rasa hasudnya semakin bertambah dari hari ke hari sehingga memakan kebaikan-kebaikannya sedikit demi sedikit. Rasa hasudnya dari satu sisi dan kecintaannya pada dunia telah membuatnya mencari perlindungan kepada Fir`aun, penguasa pada masa itu, dan mendatangi istananya untuk menjadi pendukungnya. Maka hilanglah seluruh kebanggaan-kebanggaannya karena efek keburukannya. Al-Qur’an mengungkap kembali orang alim ini agar kita dan kaum muslimin dapat mengambil pelajaran darinya.</span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Sebagian mufassir lain meyakini bahwa yang dimaksud dengannya ialah Umayyah bin ash-Shalat, seorang penyair terkenal pada masa jahiliyah. Pada awalnya ia masuk Islam, namun kemudian ia berbalik dan menyimpang karena hasud kepada posisi kenabian Rasulullah Saw.</span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Sejumlah mufassir yang lain lagi meyakini bahwa yang dimaksud dengannya ialah Abu Amir an-Nashrânî, seorang pendeta Nasrani yang telah masuk Islam dan bergabung dengan orang-orang munafik. Kemudian ia pergi ke Roma untuk beraliansi dengan penguasanya, lalu kembali ke Madinah untuk memprovokasi orang-orang munafik dan membangun masjid ”Dhirar” yang terkenal itu.</span></span></p>
<p><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:medium;">Di antara ketiga pendapat ini, yang pertama adalah yang paling akurat, sementara dua lainnya terlalu jauh dari redaksi ayatnya: ”<em>Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami&#8230;, </em>yang menunjukkan hubungan dengan kisah-kisah umat terdahulu</span><a href="http://abna.ir/data.asp?lang=12&amp;id=241363#_ftn2">[2]</a><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">. </span></span></p>
<p><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:medium;"> </span><strong><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Tafsir Ayat</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Allah Swt berfirman: ”<em>Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab)</em>”. Allah Swt meminta kepada Rasulullah Saw agar menceritakan kisah orang alim tersebut kepada para sahabatnya.</span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Maksud dari ayat-ayat tersebut ialah wejangan dan hukum-hukum Taurat. Sesungguhnya orang alim tersebut mengerti hukum-hukum Taurat dan wejangannya, dan juga mengamalkannya. Sebagian mufassir meyakini bahwa maksud ayat tersebut merujuk kepada nama agung. Untuk itu, Bal`am bin Ba’ura dikabukan doa-doanya, dan ia seseorang yang memiliki posisi terhormat dan agung di masyarakat.</span></span></p>
<p><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:medium;">Allah Swt berfirman: ”</span><em>kemudian dia melepaskan diri (insalakha) dari pada ayat-ayat itu, lalu syaitan menjadikan dia mengikutinya (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat</em><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:medium;">”. </span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Kata <em>”salakh”</em> berarti melepas kulit binatang. Karena itu ia dipakai untuk seseorang yang sedang menguliti kulit domba. Namun kata <em>”lalu dia diikuti” </em>di sini mengandung dua makna;<em></em></span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';"><em>Pertama</em>, <em>tabi`a</em> dan <em>lahiqa</em> (mengikuti dan membuntuti). Yakni syetan menjadikan orang alim tersebut sebagai pengikutnya.</span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';"><em>Kedua</em>, kata kerja tersebut dipakai dalam makna biasanya, sekalipun ia berbentuk kata <em>sulatsi mujarrad</em> (kata kerja yang terdiri dari tiga huruf) sehingga maknanya menjadi bahwa setan mengikuti orang alim tersebut. Dengan kata lain, bahwa ia lebih dahulu tersesat sebelum disesatkan oleh setan. Perumpamaannya seperi seseorang yang melakukan perbuatan yang sangat buruk dengan cara terbaru dan ia selalu melaknat setan atas perbuatannya ini, lalu muncullah setan kepadanya dan berkata; laknat itu atasmu, bukan atasku, karena menyesatkan memang sudah keahlianku. Saya tidak tahu sebelumnya tipe maksiatmu ini, bahkan engkaulah yang mengajariku cara seperti ini.</span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Atas dasar ini, ayat tersebut berarti bahwa Bal`am bin Ba’ura lepas dari ayat-ayat Allah, maka ayat-ayat tersebut kemudian melepaskannya. Sekalipun ia menguasai seluruhnya, namun ia melepaskannya dan mengikuti setan atau setan mengikutinya. Itulah akibat kesesatan dan keburukan sehingga ia termasuk orang-orang yang sesat dan malang.</span></span></p>
<p><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:medium;">Allah Swt berfirman: ”<em>Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu</em>”. Yakni seandainya Kami berkehendak menjadikan ia tetap berada pada jalan yang benar, maka tentu Kami bisa untuk itu, namun Kami tidak melakukannya agar ia berbuat sesuai dengan pilihan dan kehendaknya sendiri, karena dalam Islam yang berlaku adalah ikhtiyar (pilihan) dan bukan<em>jab</em>r. Allah swt berfirman: ”<em>Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir</em>”</span><a href="http://abna.ir/data.asp?lang=12&amp;id=241363#_ftn3">[3]</a><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">.</span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Allah Maha Kuasa untuk menjadikan seluruh amal ibadah seperti haji, puasa, dan shalat sebagai bagian dari tabiat-tabiat seseorang sebagaimana ia menjadikan makan dan minum. Namun Ia tidak mau melakukannya, bahkan menciptakan manusia bebas dan punya pilihan sehingga di sana terjadi proses hidayah, penyempurnaan, berkembang, ujian, pahala, siksa dan lain-lain sehingga ajaran-ajaran ini tidak kehilangan maknanya.</span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Adapun di penghujungnya, ayat tersebut berarti; Kami tinggalkan Bal`am bin Ba’ura pada dirinya sendiri, namun orang alim yang menyimpang ini -yang lebih dahulu dan menjadi penyampai kuat bagi Musa as- mengikuti hawa nafsu dan keinginan yang tak pernah henti karena cinta dunia, hasud kepada Musa as, dan kepincut dengan janji-janji Fira`aun. Itu semua adalah efek dari terusir dari hamparan <em>rabbani.</em> Atas dasar ini, dua hal yang menjadi sebab kejatuhan Bal`am bin Ba’ura, yaitu; Pertama, kecintaan kepada dunia dan kecendrungan kepada Fira`un. Kedua, mengikuti hawa nafsu dan setan.</span></span></p>
<p><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:medium;">Allah Swt berfirman; ”</span><em>maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)</em><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:medium;">”.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Anjing biasanya terkenal memiliki peran besar dimana manusia mendapatkan manfaat darinya.Karena itu, dalam fiqh Islam memeliharanya diperkenankan. Hanya saja di samping kebaikannya itu, anjing terkadang gila dan selalu lahap. Inilah penyakit anjing-anjing. Penyakit yang menjadikannya selalu menjulurkan lidah dan bersuara memekik, mengeluarkan racun bakteri yang apabila mengenai manusia, ia akan mati, atau ia terkena penyakit anjing gila. Dalam kondisi seperti ini anjing sudah tidak lagi memiliki guna, dan karena itu tidak diperkenankan lagi memeliharanya karena dapat membahayangan jiwa orang lain.</span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Tanda-tanda penyakit ini pada anjing ialah ia selalu menjulurkan mulut dan menggerak-gerakkan lidahnya. Demikain itu agar berkurang rasa panas yang ia rasakan di dalam badannya. Gerakan lidahnya serupa dengan kipas angin yang berfungsi memasukkan udara ke dalam tubuh sehingga menjadi dingin. Di antara tanda lainnya ialah selalu kehausan. <em>Alhasil</em>, anjing seperti ini sangat berbahaya.</span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Al-Qur’an dengan perumpamaan yang cukup indah menyerupakan orang alim yang menyimpang ini (ulama suu’) dengan anjing yang tidak lagi memiliki nilai guna dan bahkan sangat berbahaya. Kecintaan kepada dunia, mengikuti hawa nafsu dan perasaan tidak pernah puas telah menggelincirkan orang alim tersebut hingga kehilangan pandangan dan penglihatan batinnya sehingga tidak lagi dapat membedakan antara kawan dan musuhnya.</span></span></p>
<p><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:medium;">Allah Swt berfirman: ”<em>Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir</em>”</span><a href="http://abna.ir/data.asp?lang=12&amp;id=241363#_ftn4">[4]</a><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">. </span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Yakni ini benar-benar seperti sebuah komunitas masyarakat yang mendustakan ayat-ayat Allah Swt, maka ceritakanlah wahai Nabi kepada orang-orang, khususnya Yahudi dan Nashrani kisah-kisah ini agar mereka dapat mengambil pelajaran darinya, juga agar mereka mengetahui apabila berani mendustakan ayat-ayat Allah, maka nasib akhir mereka akan sama seperti nasib akhir Bal`am bin Ba’ura.</span></span></p>
<p><strong><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Pesan-pesan Ayat</span></span></strong></p>
<p><strong><em><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Bahaya Ulama yang Menyimpang</span></span></em></strong></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Bal`am bin Ba’ura telah jatuh dari posisi mulia karena kecintaannya kepada dunia dan keikutsertaannya kepada setan. Kejatuhannya diumpamakan oleh Al-Qur’an dengan anjing liar yang tidak peduli kepada siapapun hingga ia nampak seperti gila. Kecintaan kepada dunia dan keikutsertaan kepada setan telah menjadikan seorang alim yang telah mendapatkan nama terhormat menjadi gila. Kegilaannya nampak dalam bentuk selalu haus dunia dan tidak pernah terpuaskan selamanya. Orang alim seperti ini membawa bahaya besar, dan di antaranya adalah sebagai berikut;</span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Orang alim seperti ini benar-benar akan menjadi pembantu kezaliman, sebagaimana penjilat-penjilat para penguasa yang berkhidmat kepada para pelaku kezaliman di antara raja-raja dan penguasa. Yang jelas bahaya orang alim seperti ini tidak lebih sedikit dari bahaya kezaliman itu sendiri.</span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Para penguasa masa lalu berkeinginan menerapkan aturan khusus, maka ia meminta kepada para ulama negerinya untuk mengharmonikan kehendak Pembuat Syari`at (Allah Swt) dan syari`at versi kepentingannya. Maka seorang alim menjawabnya; sesungguhnya kehendak Sang Pembuat Syari`at adalah luas, dan urusannya bergantung kepada keputusan penguasa.Artinya ia dapat memberi jalan keluar atau justifikasi terhadap setiap keinginan penguasa. Memang benar ulama seperti ini memungkinkan untuk menjustifikasi kezaliman para penguasa.</span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Mereka adalah orang-orang yang menancapkan tonggak kezaliman. <strong>Mereka akan menepis setiap orang yang berusaha tidak setuju dengan kezaliman.</strong> Ulama-ulama seperti mereka leluasa pada masa pemerintahan Bani Umayyah memalsukan hadis-hadis Rasulullah Saw dan para imam As. Mereka pun menjilat beberapa penguasa zalim dari keturunan al-Ababs dan Bani Umayyah.</span></span></p>
<ol start="2">
<li><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';"><strong>Ulama-ulama seperti ini benar-benar dapat menghancurkan pondasi-pondasi akidah manusia</strong>. Sesungguhnya orang-orang awam apabila menyaksikan seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya, maka keyakinan keagamaannya akan goncang. Bahkan mereka dapat saja menjadi ragu terhadap surga dan neraka, hari kiamat dan hisab. Mereka akan berkata kepada dirinya masing-masing; andaikan memang benar di sana ada hari kiamat, maka orang-orang alim itu tentu beramal untuk bekal hari itu. Atas dasar itu, <strong>apabila para penguasa menzalimi orang-orang atas dunia mereka, maka para ulama yang menyimpang itu menzalimi orang-orang atas akhiratnya.</strong><strong></strong></span></span></li>
<li><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Seorang alim yang menyimpang akan menjerumuskan orang-orang melakukan dosa. Negara-negara yang bersebrangan dengan Islam telah mendirikan pada abad-abad terakhir -untuk merongrong Islam- sekelompok penyesat. Untuk memperkuat  kelompok boneka ini, <strong>mereka mendidik seorang alim gadungan yang dapat mengarang buku atau mengeluarkan fatwa yang berisikan propokasi perpecahan</strong></span></span><a href="http://abna.ir/data.asp?lang=12&amp;id=241363#_ftn5"><strong></strong><strong>[5]</strong></a><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">. Ia pun menggunakan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’an untuk tujuan perpecahan ini. Buku dan fatwa tersebut adalah buku dan fatwa menyesatkan karena dipersiapkan untuk memperbanyak perpecahan sebagai pengabdian kepada negara-negara pendirinya.</span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:medium;">Dari sini, para pengajar ajaran-ajaran agama hendaknya memberitahu bahwa </span><strong>sebab penyimpangan ini adalah karena tidakadanya keikhlasan.</strong><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:medium;"> Sejumlah pelajar tidak belajar hanya untuk Allah, melainkan untuk tujuan-tujuan duniawi, seperti hawa nafsu dan kecintaan pada dunia. Dengan tujuan-tujuan inilah akhiratnya dihancurkan dan dirubah menjadi neraka Jahim.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Sekalipun seseorang telah mencapai sebuah posisi tinggi, maka hendaknya dia jangan terlebih dahulu merasa aman dari bisikan setan. Perasaan cukup aman ini adalah awal dari keterjerumusan dan penyimpangan. Ia hendaknya selalu berada antara harap dan takut. Takut dari hawa nafsu, merasakan tidak puas dan bisikan-bisikan setan, di samping berharap terhadap rahmat dan kelembutan Allah Swt. Dia Yang Paling Kasih di antara para pengasih.             </span></span></p>
<p><strong><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Ulama di Mata Imam Hasan al-Askari</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Sang faqih besar, Syeh Anshari dalam bukunya <em>Farâidul Ushûl</em>, mengutip sebuah hadis indah sebagai tafsir agung dari Imam al-`Askari as atas ayat, “<em>Di antara mereka adalah orang-orang buta aksara yang tidak mengerti al-Kitab…</em>”.</span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Seseorang bertanya kepada as-Shadiq as: “Apabila mereka itu dari Yahudi dan Nashrani yang tidak mengenal al-Kitab kecuali dari apa yang mereka dengar saja, dan para pemuka agama mereka tidak memiliki jalan selainnya. Lalu bagaimana ketaklidan mereka kepada para ulamanya dikecam. Apakah orang-orang awam Yahudi sama seperti orang-orang awam kita yang mentaklidi ulama-ulama mereka? Apabila taklid kepada para ulamanya tidak diperkenankan kepada orang-orang awam mereka, maka demikian juga tidak diperkenankan kepada awam-awam kita.”</span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Beliau as berkata: “<em>Di antara orang-orang alim dan ulama kami dan di antara orang-orang awam Yahudi dan Nashrani dengan ulamanya terdapat perbedaan dari satu sisi dan kesamaan di sisi lain. Sisi kesamaannya ialah bahwa Allah Swt mencela orang-orang awam kita bertaklid kepada ulama-ulama mereka, sebagaimana juga Ia mencela awam-awam Yahudi dan Nashrani mentaklidi ulama-ulama mereka. Adapun dari sisi perpecahan mereka tidaklah sama.”</em></span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Ia bertanya: ”Jelaskan kepadaku, wahai putra Rasulullah!”</span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Beliau berkata: ”<em>Sesungguhnya awam-awam Yahudi telah mengetahui kebohongan ulama-ulamanya dengan jelas, mereka memakan harta haram, berbuat zalim, merubah hukum, dan lain-lain. Karena itu, Allah mengecam mereka atas ketaklidannya kepada orang yang mereka ketahui tidak layak untuk ditaklidi pandangan-pandangannya, tidak boleh membenarkannya dan tidak boleh beramal dengan ajaran yang sampai kepada mereka dari orang-orang yang tidak mereka saksikan. Mereka pun harus mengoreksi diri mereka tentang Rasulullah Saw.”</em></span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Demikian pula awam-awam umat kami. <strong>Apabila mereka mengetahui kefasikan secara jelas dan kefanatikan yang sangat dari para fuqahanya, maka barang siapa di antara mereka tetap mentaklidi fuqaha seperti itu, berarti mereka seperti awam-awam Yahudi yang telah Allah Swt kecam karena mentaklidi kefasikan para fuqahanya</strong>. Maka barang siapa mendapatkan di antara para fuqaha orang yang paling menjaga dirinya, menjaga agamanya, menentang hawa nafsunya, dan taat terhadap perintah Tuhannya, maka hendaklah bagi orang-orang awam mentaklidinya. Demikian itu berarti hanya kepada sebagian fuqaha Syi`ah saja, bukan semuanya.</span></span></p>
<p><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:medium;">Adapun mereka yang melakukan perbuatan buruk dan terbiasa bohong kepada kita, maka mereka sesat atau menyesatkan, dan mereka jauh lebih berbahaya kepada kelompok awam syi`ah kami dari tentara Yazid yang telah memerangi al-Husein bin Ali as</span><a href="http://abna.ir/data.asp?lang=12&amp;id=241363#_ftn6">[6]</a><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">.</span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Pertanyaan: Kenapa para ulama yang menyimpang jauh lebih buruk dari tentara-tentara Yazid? </span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Jawab: Tentara Yazid menyatakan secara terang-terangan permusuhannya, sementara para ulama busuk (<em>suu&#8217;</em>) seperti serigala berbulu domba yang menghancurkan agama atas nama agama. Dan jelas bahaya mereka jauh lebih besar dari bahaya orang yang jelas-jelas menyatakan permusuhannya.</span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Adapun yang dibanggakan oleh orang-orang Syi`ah ialah mereka pada masa silam telah menjadi pengikut para ulama dan marja’ yang padanya terkumpul sayarat-syarat kemuliaan seperti dicirikan para Imam As. Mereka pun selalu ada di bawah bimbingan dan kelembutan kasih mereka.    </span></span></p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">Tentu tidak diragukan lagi bahwa bertaklid kepada seorang ulama zuhud dan bijak tidak hanya tidak tercela, bahkan itu wajib sebagaimana diperkuat oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat Ahlulbait As</span></span><a href="http://abna.ir/data.asp?lang=12&amp;id=241363#_ftn7">[7]</a><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman';">.[]  </span></span></p>
<p><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:medium;"> </span></p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a href="http://abna.ir/data.asp?lang=12&amp;id=241363#_ftnref1">[1]</a><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:small;"> . Doakan saya, semoga dalam waktu yang tidak lama, dapat menerjemahkan surat ajakan dialog tersebut yang ditulis oleh guru kami; Ayatullah Syekh Ja’far Subhani hf, insya Allah. Saya pikir, demi mencari dan membuktikan kebenaran, kiranya kaum muslimin dan khususnya para mahasiswa muslim, wajib mengkaji sejarah ajaran Wahabi yang kini telah terbongkar kedoknya, yaitu hubungan eratnya dengan Zionis Israel dan Amerika. Dan agar para pemuda muslim tidak tertipu dengan tampilan lahiriah mereka. Wallahu a’lam.</span></p>
</div>
<div>
<p><a href="http://abna.ir/data.asp?lang=12&amp;id=241363#_ftnref2">[2]</a><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:small;"> Tidak diragukan lagi bahwa ayat tersebut dimaksudkan untuk siapa saja yang memiliki kriteria-kriteria yang disebutkan di dalamnya. Untuk lebih jelasnya silahkan merujuk ke kitab tafsir Al-Amtsal, jil. 5, pembahasan akhir ayat 175.</span></p>
</div>
<div>
<p><a href="http://abna.ir/data.asp?lang=12&amp;id=241363#_ftnref3">[3]</a><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:small;"> QS. Al-Insan: 3.</span></p>
</div>
<div>
<p><a href="http://abna.ir/data.asp?lang=12&amp;id=241363#_ftnref4">[4]</a><span style="font-size:small;"><span style="font-family:'Times New Roman';"> Bentuk teks ayat tersebut menunjukkan pada kisah-kisah masa silam, bukan masa Nabi Saw. Karena itu ayat tersebut ditujukkan untuk kisah Bal`am bin Ba’ura dan bukan untul selainnya.</span></span></p>
</div>
<div>
<p><a href="http://abna.ir/data.asp?lang=12&amp;id=241363#_ftnref5">[5]</a><span style="font-size:small;"><span style="font-family:'Times New Roman';"> .Kini nampak semakin jelas bagi umat Islam, bahwa musuh-musuh Islam, seperti Zionis dan Amerika, tidak akan mampu menghancurkan Islam dan melepaskan akidah Islam dari kaum muslimin.Karena itu mereka mendidik dan membayar ulama suu’  untuk membuat perpecahan dan menyebarkan akidah rusak di kalangan kaum muslimin. Kerjasama dalam kezaliman ini nampak disambut baik oleh para ulama Wahabi atau Salafi. Dan kebanyakan para pemuda, ikhwan dan akhwat yang mengikuti gerakan Wahabi ini, lantaran mereka tidak memahami ajaran Wahabi yang sebenarnya dan karena informasi yang sampai kepada mereka seringkali diputarbalikkan. Sementara itu, mereka diharamkan untuk menelaah buku-buku yang melemahkan akidah Wahabi. Sekiranya para ikhwan dan akhwat itu mengetahui kejahatan Wahabi sesungguhnya, pasti mereka akan meninggalkannya. Dan sekiranya ajaran Wahabi atau Salafi itu haq dan mempunyai argumen yang kuat, pasti mereka terbuka untuk berdiskusi dan berdialog dengan ajaran-ajaran lain, bukan malah lari dan menghindar dari dialog terbuka. Ustadz Allamah Sayyid Kamal Haidari hf, setiap malam Jum’at di TV al-Kautsar, membedah habis kedangkalan akidah Wahabi dan selalu mengajak ulama mereka untuk berdialog secara terbuka di hadapan masyarakat muslim dunia. Tetapi hingga kini tidak seorang ulama pun dari mereka yang berani mauju ke depan. Jika Anda mempunyai Parabola, Anda pun bisa mengiktuinya. Salah satu tanda bahwa ajaran itu haq, ketika ajaran itu sangat terbuka dan para ulamanya senantiasa siap berdialog dan adu argumen.</span></span></p>
</div>
<div>
<p><a href="http://abna.ir/data.asp?lang=12&amp;id=241363#_ftnref6">[6]</a><span style="font-size:small;"><span style="font-family:'Times New Roman';"> <em>Farâidul Ush</em><em>ûl</em>, jil. 58 dalam edisi satu jilid</span>.</span></p>
</div>
<div>
<p><a href="http://abna.ir/data.asp?lang=12&amp;id=241363#_ftnref7">[7]</a><span style="font-family:'Times New Roman';font-size:small;"> .Fiqih Ahlulbait As membahas secara luas masalah taklid dan mewajibkan pengikutnya agar bertaklid kepada para mujtahid atau marja’ yang telah memenuhi syarat. Hal ini berbeda dengan pandangan Ahlusunnah. Masalah taklid dalam ajaran Ahlulbait As, bisa Anda rujuk pada situs ABNA tercinta ini.</span></p>
</div>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pesantrenawliya.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pesantrenawliya.wordpress.com/1310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pesantrenawliya.wordpress.com/1310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pesantrenawliya.wordpress.com/1310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pesantrenawliya.wordpress.com/1310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pesantrenawliya.wordpress.com/1310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pesantrenawliya.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pesantrenawliya.wordpress.com/1310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pesantrenawliya.wordpress.com/1310/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pesantrenawliya.wordpress.com&#038;blog=9313525&#038;post=1310&#038;subd=pesantrenawliya&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantrenawliya.wordpress.com/2012/04/06/ulama-yang-menyimpang-lebih-buruk-dari-tentara-yazid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6af0a76276b7af4afce2a553cf6b4a23?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pesantrenawliya</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
